Satu Pak Rokok Seharga Satu Slop di Indonesia

Tahun ini, sebagai koran terbesar di Malang Raya, Malang Post kembali memberangkatkan karyawannya nglencer ke luar negeri. Negara Singapura menjadi pilihan untuk wisata kali ini. Ada sebelas karyawan yang diberangkatkan bersama Kirana Tour and Travel, 20-22 November lalu. Berikut catatannya.

Cuaca Singapura saat itu, sangat cerah. Pesawat Air Asia yang kami tumpangi, mendarat dengan mulus di Changi Airport sekitar pukul 09.40 atau 10.40 waktu Singapura. Ya, perbedaan waktu antara Indonesia dengan Singapura, satu jam.
Sebelum meninggalkan Changi Airport, kami harus melewati pemeriksaan dari petugas Imigrasi. Paspor dan setiap barang bawaan yang kami bawa, diperiksa terlebih dahulu. Setelah keluar dari bandara, rombongan Malang Post dijemput AR Abdullah alias Osama Abdul. Dia adalah guide atau pemandu wisata kami.
‘’Nama saya Osama Abdul. Namun selama ini saya lebih dikenal dengan panggilan Opa. Karena usia saya yang sudah tua. 71 tahun,’’ kata Opa, mengawali perbincangan.
Opa tidak sendiri, pria kelahiran Medan namun bersuku Dayak ini, ditemani Abdurrahman pengemudi bus mini yang mengantarkan perjalanan kami ke beberapa tempat tujuan.
‘’Singapura dengan Indonesia berbeda sekali. Kalau Indonesia merupakan kota macet, tetapi di Singapura ini kota denda,’’ ujar Opa yang diamini Abdurrahman.
Ya, di Singapura setiap tempat dan setiap waktu memang selalu diawasi dengan bayang-bayang denda. Jangankan buang sampah sembarangan, merokok pun tidak bisa di sembarang tempat.
Jadi bagi yang perokok berat, jangan harap bisa merokok bebas di negara ini. Setiap mau merokok, selalu ada ketegangan dan rasa ketakutan.
Untuk membuang sampah, harus mencari tempat sampah. Begitu pula saat mau merokok, harus di tempat tertentu. Kalau ingin aman, melihat orang merokok, lalu ikut bergabung. Itupun biasanya di tempat terbuka, yang tidak ada atapnya atau dekat dengan tong sampah.
Memang ketika kita merokok ataupun membuang sampah, tidak ada polisi yang mengawasi. Namun setiap tingkah laku yang kita lakukan selalu diawasi kamera CCTV yang terpasang di setiap sudut jalan.
‘’Kita merokok atau membuang sampah, memang tidak ada yang melihat. Tetapi ketika melanggar dalam waktu lima menit pasti ada petugas yang datang menghampiri. Polisi yang datang tidak berpakaian seragam, tetapi pakaian preman dan tidak mudah dikenali. Dendanya bisa sampai 1000 SGD (sekitar Rp 9 juta lebih). Sehingga ada kata-kata, dulu orang takut dengan Tuhan, tetapi sekarang takut dengan CCTV,’’ terang Abdurrahman.
Wajar, dengan penerapan peraturan yang selalu diikuti dengan denda untuk pelanggar, menjadikan Singapura sebagai kota yang bersih. Hampir di setiap jalan yang kami lintasi, selalu terlihat bersih dan indah. Tak ada sedikitpun sampah yang mengotori jalan.
Bahkan lalu lintas pun juga terlihat rapi. Tidak ada kemacetan di setiap jalan. Karena setiap pengendara sudah sadar dengan peraturan lali lintas. Saat traffic light berwarna kuning, kendaraan sudah berhenti. Tidak seperti di Indonesia yang masih banyak kendaraan melanggar. Pejalan kaki yang mau menyeberang pun, juga harus mengikuti tanda lampu. Karena ketika melanggar akan langsung didenda.
Tidak hanya soal peraturan, perbandingan harga rokok pun juga jauh berbeda. Di Singapura harga satu bungkus (pak) rokok, sepuluh kali lipat dari harga rokok di Indonesia.
Misal harga rokok Pall Mall, di Singapura 10 dollar 20 sen atau setara Rp 100  ribu. Harga Marlboro, di Indonesia Rp 15 ribu, namun di Singapura 13 dollar atau sekitar Rp 130 ribu.
Jika dibandingan, maka harga satu pak rokok di Singapura setara dengan harga satu pres (slop) rokok di Indonesia. ‘’Di Singapura ini, rokok dari Indonesia yang ada hanya Sampoerna Mild dan Gudang Garam Surya. Harganya 9 dollar 80 sen. Kalau Dji Sam Soe masih belum ada,’’ terang bapak satu anak ini.
Abdurrahman, yang sebelumnya bekerja sebagai pegawai pemerintahan di bagian Kementerian Perumahan ini mengatakan, perbandingan rokok juga pada kemasannya.
Rokok yang diekspor ke Singapura, sebelum diedarkan kemasannya dibongkar ulang. Kemudian setiap batang rokok diberi stempel SDPC (Singapore Duty Page Cigarette) yang artinya sudah bayar pajak. Baru setelah itu dipacking ulang dan diedarkan. ‘’Karena kalau tidak ada stempel SDPC, setiap batang rokok akan didenda 200 dollar,’’ katanya.
Selain diberi tanda stempel, nikotin rokok juga dikurangi. Sehingga rasanya pun berbeda terasa lebih ringan. Bagi warga yang tinggal di Singapura, membeli rokok dengan harga tinggi mungkin sudah biasa. Tetapi bagi pendatang, terasa berat. Abdurrahman, mengaku sehari menghabiskan satu pak rokok. Jika dihitung dalam sebulan, sudah 300 dollar (Rp 3 juta) lebih dikeluarkan untuk membeli rokok.
‘’Penghasilan saya setiap harinya sekitar 400 – 500 dollar. Sebulan sekitar 5.000 dolar. Penghasilan segitu sudah saya anggap cukup, selain pengeluaran untuk beli rokok dan bayar pajak setiap bulan sebesar 200 dollar. Pajak yang saya bayar adalah pajak parkir kendaraan setiap hari di depan rumah,’’ paparnya. (agung priyo)