Tulis 15 Buku, Tak Pernah Lupakan Bumi Arema

ENTAH faktor genetik orang tua atau faktor lingkungan, Yon  Artiono Arba'i benar-benar menyukai alam. Sejak kelas 5 SD, dia sudah mulai mendaki gunung. Ketika menginjak dewasa menaklukan puncak Gunung sudah menjadi kebiasaan bersama Top Mountain Stranger (TMS 7), sebuah organisasi pendaki gunung, pecinta alam dan penjelajah alam. Diapun juga penyuka olah raga selam dan ikut memrakarsai pemecahan rekor dunia selam massal dalam Sail Bunaken, 16-17 Agustus 2009 lalu.

Usianya memang sudah tidak muda lagi.  Tokoh nasional  kelahiran Semarang  tersebut kini memang telah  berusia 68 tahun. Tetapi, bicaranya tetap  lantang dan semangat juga sangat berapi-api ketika berbicara di depan para pecinta alam dari berbagai kota di Indonesia pada sebuah villa Panderman Hill Kota Wisata Batu, baru-baru ini.  Yon merupakan salah satu pendiri TMS 7 dan sedang merayakan HUT ke-46 saat berada di Kota Wisata Batu tersebut.
Alumnus Fakultas Hukum Universitas Brawijaya Malang inipun bercerita berbagai pengalaman, apa kiprah TMS 7 termasuk proses pemecahan rekor dunia selam massal di Pantai Malalayang Manado (Sail Bunaken). Bersama TMS 7, Yon antara lain sudah pernah menaklukkan puncak Gunung Mahameru, Rinjani, Kerinci, Semeru dan Kinabalu di Sabah, Malaysia Timur.
"Bendera Merah Putih, Bendera Universitas Brawijaya dan Bendera TMS 7 ditancapkan di Puncak Kinabalu tanggal 9 Oktober 1971 pukul 09.00 WIB," ungkap  penulis 15 buku ini kepada Malang Post.
Yon memang lahir di Semarang, Jawa Tengah 22 Oktober 1945. Namun sejak kecil dia tinggal di Bumi Arema.  Karena itu, walau puluhan tahun tinggal diluar daerah, namun pria ramah menyatakan ini sampai kapanpun  tidak pernah bisa melupakan  Kota Ngalam. Dia  juga selalu menyempatkan diri  untuk rutin berkunjung ke rumahnya di Malang maupun di Kota Wisata Batu.Dengan demikian,sekaligus menjalin komunikasi dengan rekan-rekan maupun para para pecinta alam usia muda yang ‘’yunior’’-nya.
Pada tahun 1958, dia lulus dari SD Sriwedari Malang, tahun 1961 lulus dari SMP Santo Yosep dan tahun 1966 lulus dari SMA Islam Malang. Diapun melanjutkan studi dengan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya setelah lulus dari SMA.
Penyuka filateli ini sudah mendaki gunung saat kelas 5 SD. Puncak gunung pertama yang ditaklukkan adalah Sawur (Ukir) di Batu. Saat masih belia itu, dia melakukan pendakian sendiri tanpa sepengetahuan orang tua. Diapun berangkat diam-diam usai pulang sekolah dengan bekal seadanya. Perjalanan dari Malang ke Gunung Ukir juga tidak menggunakan transportasi khusus, melainkan dengan menumpang truk.
Ketika berumur 12 atau usai lulus SD Sriwedari Malang, Yon melakukan ekspedisi dengan sepeda ontel dari Malang ke Denpasar. Kali ini dia tidak sendirian, melainkan bersama seorang teman bersama Jatmiko. "Ide itu berasal dari Jatmiko. Kami melakukan ekspedisi setelah mendapat izin dari pimpinan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI)," tegas mantan mantan ajudan Jaksa Agung Muda Intelijen Kejagung RI ini.
Menurutnya, dia masuk KBI ketika masih berumur 10 tahun. Banyak pelajaran yang biasa dipetik dari KBI, terutama kedisiplinan.  Dia juga banyak mengenal dan belajar hidup di alam. Dia juga diajari bagaimana mengenal arah mata angin dengan bintang dengan kelompok-kelompok astronomi di langit.Misalnya ada kelompok bintang gubuk penceng, berarti dia tahu arah selatan tanpa melihat kompas.
Kedisiplinan sejak kecil terus diterapkan dalam meniti karir. Dia tercatat sebagai seorang jaksa sejak tahun 1973 setelah mengikuti Diklat dan Pembentukan Jaksa di Pusdiklat Kejaksaan RI tahun itu. Berbagai jabatan pernah disandang, termasuk Kepala Kejati Bengkulu dan Sulawesi Selatan.
Pendiri kelompok pendaki gunung, pecinta alam dan penjelajah alam bermarkas di Jalan Jakarta Malang ini tetap eksis melaksanakan hobinya selama menjadi jaksa. Mendaki gunung, terjun payun dan menyelam adalah hobi yang tidak bisa ditinggalkan sembari berkarir. Saat menjabat Kajari Cianjur sekitar tahun 1991-1992, pria yang pernah menempuh Pendidikan Lingkungan Hidup di Queensland University Australia ini dikabarkan hilang di Gunung Gede Pangrango. Malahan Gubernur Jabar, Yogi S Memet dan Kajati Jabar, Soegianto, memerintahkan semua pihak termasuk pecinta alam dan SAR di Bandung untuk mencarinya.Padahal saat itu, Kajari Cianjur baik-baik saja dan sudah berada di puncak.
Peraih penghargaan dari Pemerintah Sabah Malaysia ini tertantang mendaki gunung Gede karena ada kabar yang berhembus bahwa gunung tersebut akan meletus. Akibat kabar itu, warga setempat panik dan menjual barang berharga seperti TV, perhiasan dan hewan piaraan dengan harga murah."Saya harus cek and ricek. Saya tidak melihat tanda-tanda gunung akan meletus, tapi ada kabar yang berhembus itu. Rupanya kabar sengaja dihembuskan oleh orang agar warga menjual barang berharga dengan harga murah," kata Ketua Umum Persatuan Olahraga Selam Adhyaksa (Adhyaksa Diving Club/ADC) sejak tahun 1998 ini.
Saat menjadi jaksa, dia juga sangat aktif dalam olah raga selam. Berawal dari surat Mabes AL 30 Juni 2009 ditujukan kepada Kejagung RI, Yon Artiono sebagai Ketua Komisi Hukum POSSI dan Ketua Umum Persatuan Olahraga Selam Adhyaksa,mendapatkan izin berpartisipasi dalam selam massal Sail Bunaken 2009. Ada lima orang dari ADC yang berpartisipasi dalam Sail Bunaken tersebut. Mereka tergabung dengan peselam se-Jabodetabek, dan klub-klub lain sejumlah 2818 orang.
Dengan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, semua peselam berjalan menuju lokasi yang jaraknya sekitar 100 meter, waktu itu. Sebanyak tiga kapal KRI, PMI, perahu karet dan 200 ambulans dipersiapkan untuk antisipasi jika ada accident.Saat itu, semua peselam tanpa bicara sehingga suasana hening. Begitu lampu merah menyala, kuning dan hijau semua peselam langsung turun ke bawah permukaan air. Peselam melakukan duduk penghormatan di bawah kedalaman anatara 16-20 meter untuk dilakukan penilaian Ms Loucia Siniglagesi dari Guinness World Record (GWR) Inggris. Setelah menyelam selama 29 menit, tepatnya pukul 10.30 semua peselam naik ke permukaan setalah mendapatkan sinyal. Ms Louciapun mengumumkan spektakuler pemecahan rekor dunia selam massal dengan jumlah 2.486. Angka tersebut merupakan pengurangan dari sebelumnya 2.818 karena terdapat penyelam media cetak, elektronik dan partisipasi negara asing seperti Australia, Amerika, Belanda, Singapura dan Malaysia. (febri setyawan)