‘Singo Edan’ Karya Bareng Bakal Jadi Maskot Kota Malang

Tak lama lagi, Kota Malang bakal punya satu lagi monumen ikonik sebagai landmark Kota Pendidikan. Jauh dari kesan edukasi, landmark yang rencananya bakal ditempatkan di depan Museum Brawijaya itu berwujud patung singa. Singo Edan yang merepresentasikan semangat dan militansi Arek Malang terhadap bumi kelahirannya itu digambarkan dengan apik lewat goresan sket HJ Hendrawan M.Ds.

SINGA itu memamerkan kulitnya yang mengkilap keemasan. Dengan gagahnya, sang raja rimba mengaum sambil berpijak lima menhir yang berdiri kokoh. Surainya berkibar, menujukkan pesona penuh keperkasaan.
Siapapun jelas terkesima dengan wujud singa penuh wibawa itu. Termasuk dewan juri Lomba Patung Singo Kota Malang yang kemudian menobatkan desain buah karya Heppy Jundan Hendrawan tersebut sebagai kampiun kompetisi geberan DKP bekerjasama dengan Malang Post itu.
‘’Warnanya gold (emas), biar elegan. Itu melambangkan Kota Malang yang bermartabat,’’ tutur Hendra, membuka cerita.
Ketika diwawancarai, pria asal Bareng itu masih belum bisa menyembunyikan rona sumringah dari raut wajahnya. Senyum terus mengembang dari bibir dosen Deskomvis Universitas Negeri Malang (UM) yang kemarin mendapat ucapan selamat langsung dari Wali Kota Malang, HM Anton. Sorot matanya sesekali memandang tropi di genggamannya. Bangga ujarnya.
Usai berfoto bareng Abah Anton, peraih gelar master komunikasi visual ITB itu pun menyempatkan waktunya untuk bercerita panjang lebar. Hendra mengaku lima menhir dalam sketnya menggambarkan lima konsep visi Kota Malang. ‘’Saya punya visi Kota Malang menjadi kota pendidikan, religius, pariwisata, industri kreatif dan kota budaya,’’ serunya.
Alumni UM itu menambahkan, ada lima ‘Tik’ yang masuk dalam penggambaran tersebut. Yang pertama adalah otentik, kemudian ekletik, unik, estetik dan etik (ethic). Relief yang ada di lima menhir tersebut diakuinya terinspirasi dari lima candi yang tersebar di seantero Malang Raya. Mulai dari Candi Singosari sampai Candi Jago di Tumpang.
Untuk membuat desain seperti itu, Hendra tak main-main. Bapak satu anak itu mengaku lebih dulu melakukan riset anatomi. Alasannya, biar otentik. Dia tak mau patung singa sebagai simbol Kota Malang dianggap mirip atau bahkan meniru patung singa di luar negeri.
‘’Supaya tidak mirip dengan patung singa lainnya. Di dunia kan banyak sekali landmark kota dengan patung singa. Mulai Singapura sampai beberapa kota di Eropa,’’ timpalnya.
Agar berbeda, Hendra menjadikan kata ‘edan’ sebagai bahan diferensiasi. Dia membuat gesture sang singa menunjukkan keberaniannya, nekat. Untuk menambah kesan elegan dan solid, patung Singo Edan ini baiknya dibentuk dari media metal dan batu alam.
Hendra rupanya tak melupakan predikat Malang sebagai Kota Pendidikan. Untuk memperkuat image tersebut, dia berharap patung singa yang didesainnya nanti ditempatkan persis di depan Perpustakaan dan Arsip Kota Malang, pertigaan Jalan Semeru.
‘’Jadi diletakkan pas di pertigaan Semeru, pas di depan Perpus dengan pose menghadap barat. Tapi, kepalanya menoleh ke bangunan Perpus,’’ jawabnya memberi rekomendasi.
Pria yang juga aktif sebagai director di Nine Film ini menyebut ada filosofi yang terkandung di dalamnya. Yakni soal seruan Allah agar umat manusia membaca (Iqro’). ‘’Bisa diartikan membaca gejala zaman, budaya dan dinamika sosial dimana saat ini era terus berkembang semakin modern,’’ tukasnya.
Untuk menghasilkan masterpiece ini, pria kelahiran Banjarnegara tersebut mengaku butuh waktu sekitar dua pekan. Waktu itu dihabiskan untuk melakukan riset sampai tahap menggambar sketsa. Menariknya, desain yang dihasilkannya tak lepas dari campur tangan sang buah hati, Sekar Langit Makahdya yang baru berusia dua tahun.
Ceritanya, ketika itu Hendra tidak tahu jika sang putri masuk ke ruang kerjanya. Dasar anak kecil, ada saja ulah iseng yang dilakukan karena rasa penasaran yang besar.
Dicoret-coretlah gambaran di kertas yang sedang digarap Hendra. Siapa sangka, sang ayah justru terpukau dengan coretan tersebut. ‘’Ternyata bagus juga. Malah menang jadinya,’’ pungkasnya bangga. (tommy yuda pamungkas)