Pasutri yang Mampu Merubah Sampah Kayu Jadi Kerajinan

MESRA : Retno Astuti dan Heri Budianto yang tampak mesra, sembari menunjukan hasil karya mereka.

Siapa bilang kesuksesan hanya bisa diraih saat usia masih produktif? Usia senja bukan penghalang untuk meraih kesuksesan. Contohnya seperti pasangan suami istri (pasutri) satu ini. Retno Astuti dan Heri Budianto. Diusia mereka yang setengah abad, keduanya sukses membuat kerajinan kayu dan pemasarannya tembus hingga Korsel.

Siang itu, tampak ada pasutri yang tengah asyik melukis ukiran dari kayu, di salah satu rumah yang terletak Jalan Gondosuli No 4, Kecamatan Lowokwaru Kota Malang.
Sang istri, memakai kerudung berwarna putih. Suaminya memakai hem putih, sehingga tampak serasi. Ya, mereka adalah Retno Astuti, 51 tahun dan Heri Budianto, 53 tahun.
Mengetahui kedatangan Malang Post, mereka sejenak menghentikan aktivitasnya. Kemudian, wanita berkacamata ini menghampiri untuk menyapa dan mempersilahkan duduk.
‘’Ya beginilah kondisinya. Berantakan. Karena harus membuat berbagai kerajinan kayu yang sudah dipesan sebelumnya,’’ ucap Retno Astuti.
Kedua pasutri tersebut, sejak tahun 1992 yang lalu, mempunyai usaha olahan kerajinan kayu bernama GS4 wood craft di rumahnya. Menariknya, mereka membuat berbagai kerajinan tersebut dari limbah kayu yang sudah tidak terpakai. Padahal awalnya, limbah kayu dianggap tidak bernilai dan terbuang percuma di tempat sampah.
Namun, oleh Retno Astuti dan Heri Budianto, limbah kayu tersebut disulap menjadi beberapa barang yang sangat bernilai untuk dijual. ‘’Ada tempat tisu, tempat pensil, gantungan kunci, gantungan pakaian, souvenir, tempat sabun, pigora dan sebagainya. Yang penting bahannya terbuat dari kayu,’’ sambung Heri Budianto.
Kemudian, bapak tiga anak bercerita awalnya menekuni usaha ini. Pada awal tahun 1992, dia melihat banyaknya kayu dari usaha mebel salah seorang temannya. Dari situlah, timbul idenya untuk mengolah kayu-kayu mebel yang terbuang percuma itu.
‘’Daripada terbuang percuma, mending saya angkut pulang ke rumah. Teman saya itu, memperbolehkannya. Malahan senang. Karena tidak ada sampah yang menumpuk di rumahnya,’’ urai pria berkacamata ini. Sampah kayu-kayu itu, kemudian oleh dia dan istrinya, diciptakan menjadi beberapa karya tersebut.
Dijelaskan Dosen Jurusan Arsitektur di Universitas Merdeka (Unmer) Malang ini, dia bertugas mendesain dan memahat kerajinan. Sedangkan istrinya, bertugas mewarnai.
‘’Jadi, kami selalu berdua membuat hasil olahan kayu ini. Kalau tidak begitu, rasanya ada yang aneh dan hilang,’’ timpal Retno Astuti yang tampak tersipu malu.
Waktu demi waktu dilalui oleh pasutri ini. Seiring berambahnya waktu itulah, usahanya dikenal oleh masyarakat. Bahkan tidak hanya dipasarkan di berbagai kota atau kabupaten di Indonesia, produknya merambah mancanegara. Seperti Malaysia, Singapura, Belanda, Jamaika dan Korea Selatan (Korsel).
‘’Kemarin, kami baru saja mendapat pesanan dari Korea Selatan. Orangnya datang langsung ke tempat kami diantarkan penerjemahnya. Dia tertarik tempat tisu yang kami buat, karena ada gambar buah stroberinya,’’ terang ibu tiga anak ini.
Sebelum mendapat pesanan dari Korea Selatan, produknya sudah merambah Malaysia, Singapura, Belanda, hingga Jamaika. Dengan adanya pesanan dari Korea Selatan tersebut, semakin memperlebar ekspansinya ke luar negeri.
Keduanya, mengaku saat ini mempunyai keuntungan Rp 20 juta hingga Rp 25 juta tiap bulannya. ‘’Modal awal kami, nol rupiah. Bahan kami ambil di kerajinan mebel yang terbuang. Sedangkan mesin atau alatnya, dipinjami oleh salah seroang kawan. Kami juga tidak menyangka sekarang bisa mendapat omzet sebesar itu,’’ urainya.
Keduanya berpesan, agar kesuksesan tersebut ditiru oleh para orangtua lainnya. Tua atau di tengah keterbatasan, bukan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesasn.
‘’Asal, usaha yang dikerjakan, benar-benar serius ditekuni. Yang penting, jangan mudah menyerah, meski rintangan menghadang,’’ kata Retno yang diamini Heri.
Kesuksesan tersebut, sekaligus pelajaran bagi kawula muda. Dalam kesempatan itu pula, keduanya berpesan kepada remaja atau muda-mudi, jangan takut mencoba berwirausaha. (binar gumilang)