Bantu Pendidikan, Raih Indonesia Awards

Eko Cahyono di Perpustakaan Anak Bangsa, yang dikelolanya di Kecamatan Jabung.

Perpustakaan Mandiri Kabupaten Malang Raih Prestasi
Prestasi membanggakan, bakal diberikan kepada satu perpustakaan mandiri di Kabupaten Malang. Adalah Perpustakaan Anak Bangsa di Desa Sukopuro, Kecamatan Jabung, yang pagi ini akan mendapatkan penghargaan ‘Satu Indonesia Awards’. Bagaimana kiprahnya, berikut tulisannya.

Di usianya yang 33 tahun, Eko Cahyono, pendiri Perpustakaan Anak Bangsa, tidak menyangka akan mendapatkan kembali penghargaan bertaraf nasional. Maklum, selama mengembangkan perpustakaan pribadinya, tidak banyak yang diharapkan selain mampu membantu mencerdaskan anak bangsa.
Memulai dari sebuah perpustakaan mini, yang awalnya hanya memanfaatkan lahan di sisi rumahnya, kini perpustakaan yang sudah digelutinya selama 15 tahun, berkembang menjadi sebuah perpustakaan yang layak untuk pembacanya. Bahkan, untuk memberikan kebebasan pembaca, pintu perpustakaan tidak pernah dikunci, layaknya perpustaan umum lain.
“Buku itu akan hilang atau tidak bermanfaat, ketika buku itu terbakar. Jadi, selama buku itu masih disimpan, maka buku itu masih bermanfaat. Makanya, perpustakaan di sini pintunya terus terbuka. Itu dilakukan, untuk memudahkan anggota ketika datang dan membaca,’’ kata Eko tanpa khawatir bukunya akan hilang.
Yang menarik, dari keseriusan mandirinya itu pun mulai ditiru oleh perpustakaan mandiri lain. Hingga sekarang, sudah ada sekitar 35 perpustakaan mandiri. Tidak hanya di Malang, tapi juga Pasuruan hingga Probolinggo. Sementara ilmu simpel yang diberikan, cukuplah logis. Perpustakaan tidaklah harus luas, besar, di gedung atau memiliki meja dan kursi.
Namun, dengan ruang yang seadanya dan bisa membuat pengunjungnya menikmati buku yang disediakan, sudahlah cukup menjadi sebuah perpustakaan. Bahkan, ruang tamu pun bisa disulap menjadi sebuah perpustakaan.
‘’Kalau tidak ada kursi atau meja, sebuah perpustakaan bisa disiasati dengan lesehan di lantai yang diberi tikar atau alas. Yang terpenting, perpustakaan itu harus bisa membuat inovasi. Sebagai contoh, jangan hanya menumpuk buku-buku. Namun, bisa disiasati pula dengan mensiapkan buku gambar untuk pengunjung atau menggelar lomba-lomba. Karena mereka yang datang, belum tentu untuk membaca,’’ imbuh Eko.
Selama menularkan ilmu kemandirian, Eko pun tidak henti-hentinya mengingatkan pengelola, akan pentingnya fleksibel. Dimana, perpustakaan jangan terpengaruh akan waktu. Sebagai contoh, keberadaan perpustakaan di desa, pastinya harus bisa buka sampai malam.
‘’Bisa dibayangkan, bagaimana masyarakat pedesaan saat pagi. Mereka akan lebih suka atau tertarik ke sawah dari pada membaca. Makanya, perpustakaan harus buka hingga malam. Jadi jangan seperti kantor layanan umum,’’ paparnya.
Dari penuturan simpelnya itu, siapa sangka jika kini keanggotaan perpustakaannya mencapai 5 ribu orang. Sementara koleksi buku-buku, pun mampu mencapai sekitar 30 ribu.
Yang tidak kalah menariknya, buku yang awalnya dikumpulkan sendiri dari usaha pribadinya, kini datang sendiri silih berganti datang ke perpustakaannya.  Bahkan, beberapa perpustakaan binaan pun diberikan buku yang diterimanya.
Menyinggung penghargaan yang akan diperolehnya, Eko mengaku, sangat bangga dengan perhatian itu. Setidaknya, bisa menjadi motivasi untuk perpustakaan binaan yang ada. Bahkan, usaha mandiri yang dilakukan tidaklah sia-sia.
‘’Satu Indonesia Awards adalah pemberian penghargaan untuk generasi muda Indonesia yang berprestasi dan mempunyai kontribusi positif untuk lingkungan dan masyarakat sekitarnya. Prestasi ini diberikan berdasarkan beberapa kategori yang diantaranya lingkungan, pendidikan, teknologi, kesehatan dan ekonomi/kewirausahaan. Kebetulan, penghargaan yang akan diberikan ini adalah untuk pendidikan dalam peran serta kepada masyarakat,’’ ungkapnya. (sigit rokhmad)