Djanalis Djanaid, Motivator yang Sudah Keliling Dunia

MOTIVATOR : Djanalis Djanaid di depan koleksi foto pelatihan yang diselenggarakan di sejumlah daerah di Indonesia dan juga di luar negeri

BERKELANA ke seluruh Indonesia dan beberapa negara, menawarkan konsep pengembangan SDM dilakukan oleh Djanalis Djanaid, motivator dan trainer kewirausahaan yang juga dosen senior FIA UB selama hampir 20 tahun. Sedikitnya ada 800 angkatan yang telah mengikuti pelatihannya. Nama Djanalis, memang tak sepopuler Mario Teguh atau motivator lainnya. Tapi kiprahnya layak mendapat apresiasi. Di ulang tahunnya ke 70, sebuah kado diberikan. Buku autobiografi.

Ruang garasi berukuran 3x4 meter, menjadi saksi bisu perjalanan sang motivator, Djanalis Djanaid. Di rumahnya yang berada di kawasan Watu Gong Kota Malang, ratusan foto kegiatan pelatihan dipajang manis. Dibawah bendera Indoplurals dan CV Indogement, tercatat sudah ada 23 propinsi dan 60 kota yang menjadi lokasi pelatihannya. Selain itu beberapa negara juga pernah menjadi lokasi pelatihannya. Seperti Paris, Bangkok, London, Kairo dan beberapa negara lainnya.  
‘’Ini semua adalah peserta yang pernah mengikuti pelatihan saya, jumlahnya sekitar 800 angkatan lebih termasuk yang di luar negeri,’’ ungkap Djanalis.
Berapi-api penuh energi, adalah kesan yang tergambar dari sosok Djanalis. Dosen senior Jurusan Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi , Universitas Brawijaya, pakar dan  praktisi komunikasi, motivator  ‘leadership courses’ bertaraf Internasional lekat dengan sosoknya.
Materi pelatihan yang biasa ia bawakan diantaranya mengenai Kepemimpinan, kewirausahaan, PR, teknik mengendalikan opini public, manajemen konflik dan hati nurani. Djanalis dalam setiap pelatihannya menyebarkan serum yang bernama Jarum Hipodermik.
Konsepnya berupa pelatihan tentang kepemimpinan, kewirausahaan, PR dan teknik mengendalikan publik opini, manajemen konflik dan hati nurani.
Seperti saat memberi pelatihan di Kairo. Pesertanya mahasiswa Indonesia di Mesir dan Kairo, pelatihan ini terselenggara atas undangan Quraish Shihab yang kala itu menjabat Duta Besar RI di Mesir.
Hebatnya lagi, Ketua Tim Pengkaji Bisnis FIA UB ini juga beberapa kali berbicara di perusahaan besar. Instansi yang mengundangnya diantaranya rumah sakit, kadin di 21 propinsi, perusahaan asing seperti Chevron, Exxon Mobil Oil, hingga BUMN seperti Pertamina, BNI 46, Semen Gresik, Bank Mandiri hingga Menko Polkam yang kala itu dijabat Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam aktivitasnya ini, Djanalis banyak dibantu oleh kawan lamanya di media massa. Diantaranya Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Dirut Malang Post Imawan Mashuri, yang sering diminta menjadi pembicara di awal berdirinya lembaga pelatihan yang ia pimpin.
Deretan prestasi yang didapat kelahiran Bukit Tinggi ini, selayaknya mendapat penghargaan tinggi. Namun ia tak berniat mendaftarkan diri ke museum rekor dunia Indonesia (MURI), walau sebenarnya ia layak mendapatkan penghargaan itu.
Alasannya hampir sama seperti saat ia menolak dua tawaran gelar Doktor Honoris Causa dari perguruan tinggi di luar negeri. Baginya bukan penghargaan yang dicari, tapi yang lebih penting adalah menularkan ilmunya kepada orang lain.  
Ibarat seorang pendekar, Djanalis adalah pendekar yang bukan pesilat biasa. Ia berkeliling ke berbagai kota untuk mendidik masyarakat Indonesia agar memiliki mental yang unggul dan tidak kalah dengan bangsa lain. Karena baginya saat seorang pahlawan berjuang sendiri, seberapa hebat pun dia tak akan bisa melawan musuh. Tapi saat pahlawan hebat itu melatih dan menularkan kehebatannya kepada orang lain maka kekuatan akan semakin besar.
‘’Saya ingin menciptakan orang Indonesia se mutu dengan orang Jepang, sehingga produk Indonesia bisa bersaing, bagaimana bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan bangsa lain,’’ tegasnya.
Diusianya yang semakin senja, bapak dua anak ini masih memiliki aktivitas tinggi, Djanalis tetap terlihat prima. Maklum saja ia didampingi sang istri yang merupakan seorang ahli gizi, Meizurni.
‘’Saya selalu menyeimbangkan antara istirahat, olahraga dan makanan. Setiap hari minimal saya makan 3 jenis buah yang berbeda. Yang jelas saya bersyukur karena didampingi ahli gizi yang juga istri saya tercinta,’’ pungkasnya sembari tersenyum. (lailatul rosida)