Seminggu Belajar Hybrid Solar Car ke China

SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sukses melaunching hybrid solar car (mobil listrik tenaga matahari,red). Untuk menyempurnakan karya tersebut, Kepala SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, H. Pahri S.Ag. MM,  pun belajar tentang seluk beluk mobil listrik hingga ke negeri China. Tidak sendiri, tugas belajar atas sponsor Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur itu juga diikuti 18 kepala sekolah berprestasi lain pada 17-25 November 2013 lalu. Berikut catatan perjalanannya yang disampaikan secara bertutur.

 
Rasa dingin begitu terasa sampai ke tulang sumsum saat kaki melangkah keluar dari pintu pesawat Cathay Pacific yang membawa saya dan rombongan dari Juanda ke Bandara Beijing International.  Padahal tubuh ini sudah dibalut dengan kain cukup tebal. Saat itu suhu udara di Beijing memang sangat dingin, minus 10 derajat. Bahkan sebagian Provinsi di China terendam salju sampai setengah meter. Meski begitu, tidak menyurutkan semangat saya dan rombongan untuk belajar kendaraan berenergi listrik.
Selama perjalanan dari bandara ke  Beijing dan Tianjin, saya heran  melihat masyarakat  China baik yang di kota maupun pedesaan begitu familier dengan kendaraan listrik. Mulai sepeda listrik, motor listrik, mobil listrik, bus listrik dan kereta listrik. Sepertinya, semua kendaraan di sana serba listrik. Bahkan mobil patroli polisi di Lapangan Tian Anmen dan Museum Istana Kaisar yang menjadi simbol kebesaran Negeri Ginseng ini juga menggunakan mobil  listrik.
Minat warga China terhadap  kendaraan berenergi listrik sangat tinggi. Di samping ramah lingkungan, biayanya juga murah. Hanya dengan membayar dua yuan atau Rp 4000 saat men-charge baterai di SPBU khusus kendaraan listrik atau di tempat-tempat umum lainnya,  pemilik dapat memacu kendaraannya sejauh 200 km atau  sejauh Malang-Surabaya pulang pergi (PP). Luar biasa hematnya. Jika menggunakan BBM akan menghabiskan sekitar 11 liter sampai 20 liter tergantung irit tidaknya mobil, atau sekitar Rp 71.500 hingga RP 130 ribu.
Di China banyak tempat  charger atau SPBU motor listrik yang tersebar di sudut kota. Hanya dengan menunggu selama 15 menit, sepeda motor listrik bisa ngacir kembali. Bahkan, China yang sudah menerapkan teknologi nuklir membawa keberuntungan bagi warganya, membuat harga listrik di negeri Panda ini sangat murah.
Pemerintah China memang sangat mendukung  pengembangan kendaraan berenergi listrik. Karena itu, negeri yang berpenduduk 1,3 milyar ini tanpa ragu mengembangkan reaktor nuklir-nya untuk pembangkit tenaga listrik, sehingga rakyat mendapat sumber energi yang murah dan melimpah. Tidak heran jika produk-produk yang dihasilkan pun harganya  sangat murah dan mampu bersaing di pasar global.
Yang menjadi pemikiran saya selama di sana,  mengapa di negeri saya sendiri masih banyak masyarakat dan pejabat yang gamang dan khawatir berlebihan tentang kendaraan listrik. Padahal batu bara yang menjadi andalan pembangkit listrik, suatu saat akan habis. Demikian pula BBM, dari hari ke hari akan semakin langka. Lantas energi apalagi yang dapat diandalkan?.
Hebatnya lagi, pemerintah China mendorong sekolah vocational (kejuruan) untuk mengembangkan kendaraan berenergi listrik. Di sana,  sekolah kejuruan banyak melakukan riset tentang kendaraan listrik. Seperti yang dilakukan Tianjin Sino German Vocational Technical College. Sekolah kejuruan yang bekerjasama dengan Pemerintah Jerman ini, mampu melahirkan banyak produk kendaraan listrik. Mulai sepeda motor, mobil dan bus listrik. Riset mereka rata-rata disponsori pemerintah dan industri.
Menurut Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia di China, Chaerun Anwar, untuk mengejar ketertinggalan dari Jepang yang menjadi musuh bebuyutan China,  China menggandeng Jerman dalam alih teknologi. Menurut Chaerun, China menerapkan strategi ATM.
“Maksudnya, produk teknologi  Jepang atau negara lain, di-Amati, di-Tiru dan di-Modifikasi oleh China,” kata Chaerun kepada saya dan rekan-rekan yang lain.
Komitmen pemerintah dalam  mendukung   pengembangan sekolah vocational sangat besar. Salah satu contohnya, pemerintah mau menghibahkan 30 unit CNC berupa alat modern dan media yang nilainya miliaran  rupiah ke  Bengkel Tianjin Machinery & Electric Industry School.  “Harganya sekitar  Rp 15 miliar per unit. Hibah semacam ini diberikan kepada beberapa sekolah kejuruan,’’ jelas  Executive Vice President, Bu Xue Jun.
Tidak hanya itu,  satu unit CNC dipakai praktik untuk 3 siswa dengan 1 instruktur. “Kita butuh 50 tahun lagi untuk menyamai sekolah kejuruan yang ada di China saat ini,” kata Kasi Kurikulum Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Dra. Nimade, MM.,  yang turut serta dalam rombongan Study Comparison ini.
Sepekan di China, agenda kegiatan saya dan rombongan sangat padat hingga tak ada jeda waktu untuk bersantai. Karena itulah, kesempatan ini saya maksimalkan untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.
Di antaranya dialog bersama Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Republik Indonesia, Chaerun Anwar yang menjelaskan bahwa pendidikan di China berbasis pada empat pilar. Pendidikan berbasis ekonomi, tenaga kerja berbasis pada kompetensi, karir berbasis pada keahlian dan pasar produk berbasis pada globalisasi (APEC).
Di China, kami juga mengunjungi kota Industri Tianjin. Kami ke Institute of Mechanical & Electrical Technology, yang dibimbing  oleh  Executive Vice President, Bu Xue Jun. Tak ketinggalan juga sebagai  pembanding SMK di Indonesia adalah Tianjin Machinery & Electric Industry School. Sekolah mesin dan industri elektronik ini, fokus pada pengembangan kendaraan berenergi listrik. Sekolah kejuruan ini menjadi tempat riset energi terbarukan yang bekerjasama dengan industri dan perguruan tinggi. Industri menaruh perhatian besar pada sekolah vocational, karena ia yang menjadi user output dari sekolah kejuruan.
Tak ketinggalan juga  kami berkunjung ke Haihe Educational Park yang merupakan Balai Latihan Kerja (BLK) Negara China. Tenaga kerja terampil banyak dilahirkan dari Haihe Educational Park yang menyatu dengan sekolah vocational. Bila ada tenaga kerja di industri belum kompeten dan tidak ahli,  maka wajib baginya untuk belajar kembali di BLK sampai benar-benar kompeten dan terampil di bidangnya.
International Chinese College, juga menjadi jujugan rombongan. President International Chinese College Tianjin, Zhao Hongtao memberi kesempatan  bagi siswa dan guru Sekolah Kejuruan di Jawa Timur untuk belajar Bahasa dan Budaya China di lembaganya.  “Silakan, tidak ada biaya dan ini gratis selama tiga bulan,” ujar Zhao sambil promosi.
Dari beberapa kunjungan tadi, saya mendapatkan banyak ilmu. Mulai  belajar proses pembuatan kendaraan berenergi listrik, manajemen produksi, distribusi, keuangan dan marketing. Intinya, pembelajaran di sana  serba efisien, praktis, mudah dan harganya bersaing.
Saya tahun lalu  belajar Kendaraan Listrik di  Jepang,  maka tindak lanjut dari kunjungan ke China ini dapat berupa pengembangan kendaraan berenergi  listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, Student Exchange dan Teacher Exchange ke Haihe Education Park,   Kursus Bahasa dan Budaya China di International Chinese College dan studi lanjut bagi siswa serta guru ke Tianjin Institute of Machanical & Electrical Technology. Baik untuk program S1, S2 maupun  S3. (ds/adv/sir/han)