Misi Perdamaian, d’Kross Tampil di HUT Arema Kalsel

Untuk kali kedua, pasca 2010 silam, d’Kross kembali tampil di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Mengusung formasi Downey (vocal), Felix (lead guitar), Sandri (guitar), Menyax (bass) dan Inned Christopher (drum), band yang bersiap meluncurkan album ‘Hitam Putih’ itu, menghibur ribuan awak Arema Kalsel, yang merayakan hari jadinya ke-29, Minggu (8/12) lalu.

LANGIT sudah gelap, saat rombongan d’Kross yang berawakkan 12 orang, termasuk Malang Post, tiba di Bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru, Sabtu (7/12) petang. Meluncur dari Juanda International Airport pukul 18.00 WIB, arek-arek Ngalam mendarat di Bumi Antasari (sebutan tanah Banjar) pukul 20.00 WITA.
Begitu keluar dari bandara, yang berjarak 25 km dari pusat kota Banjarmasin itu, beberapa orang berkaos biru menyapa dari kejauhan. Mereka berteriak lantang, dengan logat yang sudah tak asing.
‘’Halo sam, yo’opo rabak e. Kipa tah? (Halo mas, bagaimana kabarnya. Baik kah?),’’ seru seseorang diantaranya dengan gaya Malangan yang kental.
Mereka tak lain adalah Kera Ngalam perantauan di Kalsel. Sebagian menetap di ibukota Banjarmasin. Lainnya tinggal di Banjarbaru. Antara dua wilayah administratif ini, hanya berjarak 35 km. Ibaratnya seperti Kota Malang dengan Kepanjen di wilayah kabupaten. Akses antar dua daerah bertetangga ini, juga sangat mulus.
Ajang reuni dan temu kangen itupun berlanjut di sebuang warung jahe tak jauh dari bandara. Tempatnya sederhana. Hanya sebuah bangunan setengah jadi, yang masih dihiasi tumpukan material di sana-sini. Tapi, kehangatan menyelambu sanubari, siapapun yang sedang berkumpul di situ. Nuansanya haru biru.
Layaknya sanak kerabat yang lama tak bersua, obrolan pun jadi gayeng dengan serentetan tanya jawab soal kabar dan informasi terbaru. Yang dari Malang penasaran dengan Kalsel saat ini, begitupula sebaliknya.
‘’Terus bagaimana ceritanya jalur satu arah yang jadi rasan-rasan di Malang?’’ tanya Indra Ade, pemuda asal Lawang yang jadi PNS di Pemkot Banjarbaru.
Sontak, pertanyaan pegawai Bappeda itupun malah mengundang penasaran rombongan d’Kross. Tak ada yang menyangka, isu soal kebijakan Pemkot Malang yang bahkan masih jadi kontroversi, sudah jadi bahan pembicaraan juga oleh warga Malang, yang mengais rezeki di tanah seberang. Indra dan sejumlah Arema Kalsel lainnya, balik ditodong jadi ‘narasumber’ dadakan.
Dasar era teknologi serba modern, faktanya kemudahan mengakses berita dari internet dan komunikasi intensif dengan keluarga di Malang, jadi kunci mengapa Kera Ngalam di Banjar selalu update soal informasi teranyar.
‘’Hampir setiap hari telpon keluarga di sana (Malang). Buka berita di internet juga sering. Jadi, kami semua tetap tahu perkembangan di Malang. Walaupun sudah lama tidak pulang,’’ beber Edi Supriyadi, warga asli Jalan Candi Agung Lowokwaru, yang mengaku sudah empat tahun tak pulang ke tanah kelahirannya.
Sekalipun terus merasa dekat dengan Bhumi Arema, tetap saja mereka merasa tak afdol jika tak langsung bertatap muka dengan saudara serumpun.
Dari situlah, muncul ide untuk mengundang d’Kross di perayaan ulang tahun Arema Kalsel, yang bahkan lebih tua dari klub sepakbola kebanggaan Kera Ngalam, Arema, yang berdiri 11 Agustus 1987. ‘’Kehadiran d’Kross bakal mengobarkan semangat arek-arek Malang yang rindu tanah kelahirannya,’’ seru Ir H Eko Swandito, salah satu tokoh dan sesepuh Arema Kalsel.
Berangkat dari ambisi untuk meningkatkan taraf hidup di tanah rantau, satu demi satu arek Malang membanjiri Kalsel sejak tahun 1982 silam. Lambat laun, jumlahnya semakin banyak. Nyaris seperempat dari jumlah penduduk Kota Banjarmasin yang mencapai 650 ribu jiwa.
Tak sedikit yang kini sudah jadi ‘pembesar’ di provinsi paling selatan Pulau Borneo itu. Beruntung bagi rombongan d’Kross, sempat ditemui oleh beberapa diantara Arek Malang yang sudah jadi tokoh masyarakat setempat.
Salah satunya Drs Suryanto MSi. Mengawali profesi sebagai dosen di Universitas Ahmad Yani tahun 1991, kini pria paro baya asal Setyabudi, Klojen itu, menjadi anggota DPRD Kabupaten Banjar. Dia pula yang mensupport HUT Arema Kalsel, termasuk mengusulkan nama d’Kross sebagai bintang tamu di even istimewa tersebut.
Hanya saja, satu harapan masih terselip di hati akademisi bidang ilmu administrasi itu, yang belum kesampaian hingga sekarang. ‘’Kami yang di sini ingin sekali-sekali disambangi (dijenguk) sama pemimpin di Malang. Bisa Pak Wali Kota Malang, Pak Wali Kota Batu atau Pak Bupati Malang. Ibaratnya anaknya ini merindukan bapaknya,’’ ungkap lulusan Unmer Malang itu kepada Malang Post.
Namun, Kombespol Almas Widodo Kolopaking punya pesan berbeda. Alumni SMAN 3 Malang yang kini menjabat Dansat Brimobda Kalsel itu justru membesarkan hati rekan-rekan sesama perantauan dengan semangat ‘Satu Jiwa’.
‘’Seperti semboyannya, tidak kemana-mana, Arema dimana-mana. Kemanapun kita melangkah, selalu ada saudara kita sesama arek Malang yang akan menyambut hangat. Kita semua keluarga besar Arema. Saling menjaga dan melindungi dimanapun,’’ serunya bersemangat.
Kehangatan itu berlanjut hingga larut malam. Seolah tak mau hari itu lekas berganti, semuanya masih sibuk bercerita. Mengisahkan apa yang saling tidak dilewati bersama. Namun, malam Minggu sudah beralih jelang fajar. Waktu istirahatlah yang harus menyudahi reuni malam itu. Sampai-sampai sesi check sound di panggung Lapangan Murjani terlewati begitu saja.
Sesi check sound bukan tertunda malam itu saja. Hingga Minggu siang, personil d’Kross belum juga bisa mengetes kelayakan alat masing-masing. (Tommy Yudha Pamungkas)