PSM ITN Malang Bawa Nama Harum Indonesia di Bangkok

PADUAN Suara Mahasiswa (PSM) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang sukses memboyong medali emas dalam ajang a Voyage of Songs Victoria Choral Academy and Fortune Travels, 6-9 Desember 2013 di Bangkok, Thailand. Penampilan spektakuler dan istimewa tim Vox Coeleistis Choir Indonesia, kelompok PSM ITN Malang, mampu membuat juri berdecak kagum.

Waktu menunjukkan pukul 09.10 menit, serombongan mahasiswa berkaus senada warna biru muda memasuki halaman kantor Malang Post. Wajah lelah tergambar jelas pada mereka, namun senyum lebar juga tersungging. Maklum saja, kemarin adalah hari pertama mereka menginjakkan kaki lagi di Kota Malang setelah selama hampir satu minggu berada di Bangkok Thailand.
‘’Kami baru saja datang dari bandara dan langsung ke kantor Malang Post, memang masih capek tapi kami bahagia,’’ ungkap Ketua Tim PSM, Abdul Ghani Rosidi kepada Malang Post.
Meski lelah, namun mahasiswa menyanggupi tantangan Redaktur Senior Malang Post, Husnun N Djuraid yang meminta mereka untuk perform di halaman redaksi.
Tak pelak, seluruh karyawan yang sedang asyik bekerja pun dibuat melongo mendengarkan kemerduan suara tim tersebut. Apalagi saat mereka memperagakan tari kecak yang dibawakan dalam lagu dan gerak yang menarik. Kreativitas mereka membawakan lagu-lagu khas Indonesia memang pantas diganjar medali emas.
Ajang lomba paduan suara tingkat internasional itu diikuti oleh perwakilan dari berbagai negara. Diantaranya Singapura, Filipina, Thailand, China dan Jepang.
Tim ITN Malang mengikuti dua kategori dalam ajang tersebut yaitu kategori folklore dan mix. Pada kategori folklore, mereka berhasil merebut hati juri berkat penampilan istimewa saat membawakan lagu Tari Pukat Aceh.
Tak hanya sekadar memperdengarkan kekompakan dan keindahan suara, tim ini juga tampil mengejutkan dengan performa tarian Saman. Tari Pukat asal Aceh ini menggambarkan kehidupan nelayan saat membuat jala. Sambil diiringi nyanyian, sejumlah mahasiswa bergerak lincah merangkai tali temali menjadi sebuah jaring besar. Tari jala dibawakan oleh tiga pria dan dua wanita yang membuat gerakan-gerakan berirama sampai terbentuk jala yang besar. Disela itu ada pula yang membawakan tari Saman dengan amat lincahnya.
Atraksi inilah yang menyedot perhatian luar biasa dari tiga juri yaitu Dr. Brady R. Allred asal Amerika, Mr. Patrick Russil asal Inggris dan Mr. Arwin Tam asal Manila.
‘’Kami berhasil meraih gold medal dalam kategori folklore ini, dan tentu saja sangat membahagiakan karena tak pernah kami targetkan sebelumnya,’’ ujarnya.
Sementara di kategori mix, tim PSM ITN Malang membawakan tarian kecak. Baik lagu tarian kecak dan tarian pukat semuanya diaransemen oleh konduktur tim, Amrul Huda. Pada kategori mix ini, mahasiswa harus puas membawa medali perunggu.
Kesuksesan yang diraih tim PSM ITN tak diraih dengan mudah. Saat akan berangkat di bandara, dua orang anggota paduan suara terpaksa gagal berangkat karena ada kendala teknis terkait visa. Sehingga dari 34 anggota tim, hanya 32 orang saja yang bisa berangkat ke Bangkok.
‘’Selama di Bangkok semua urusan kami lancar dan tidak ada kendala, teman-teman juga kondisinya fit sehingga bisa tampil maksimal,’’ urainya.
Selain ITN Malang, beberapa tim dari kampus lain juga berpartisipasi dalam lomba tersebut. Diantaranya dari Universitas Brawijaya, UGM dan IPB. Rombongan mahasiswa ITN didampingi oleh pembina PSM, Ir. Eding Iskak Imananto MT. Setelah sukses di ajang lomba paduan suara internasional, sejumlah agenda lomba sudah menunggu.
Festival ini pertama kali diadakan di Genting Highlands (Malaysia) pada tahun 2003, Shah Alam (Malaysia) pada tahun 2005, Pattaya (Thailand) pada tahun 2007, Penang (Malaysia) pada tahun 2009 dan Zhuhai (Cina) pada tahun 2011.
Semua festival berlangsung sukses dengan lebih dari 6000 peserta dari seluruh dunia. Tahun ini, dalam rangka mencapai ketinggian lebih besar, festival ini akan menargetkan lebih dari 2000 peserta.
Tujuan dari penyelenggara adalah untuk mempromosikan penghargaan yang lebih besar dari musik paduan suara, khususnya di kawasan Asia-Pasifik, melalui pertukaran musik dan budaya antara choristers dari berbagai negara dan berbagai hakim. Hal ini akan memperkuat gerakan paduan suara di wilayah tersebut dan membangun persahabatan di antara para peserta. (lailatul rosida)