Pembuat Kaligrafi dari Kayu yang Penyandang Cacat

Cacat tubuh, bukan berarti menjadikan seseorang tidak bisa berkarya. Muhammad Sonhaji ini buktinya. Meski kondisinya cacat dan tidak bisa jalan, tetapi berhasil mencipatkan karya yang tidak semua orang bisa lakukan, termasuk orang normal. Bahkan karyanya mendapat apresiasi Bupati Malang, H Rendra Kresna.

13 November 2002 lalu, mungkin hari yang tidak bisa dilupakan oleh Muhammad Sonhaji. Kenangan pahit yang membuatnya cacat, terus dikenangnya sampai sekarang. Dia jatuh pohon kelapa di ladang miliknya, saat memetik buah kelapa muda.
’’Saya ingat betul kejadiannya. Waktu itu, saya baru lulus SMA. Ketika kejadian itu pas bulan puasa. Buah kelapa yang saya petik untuk buka puasa,’’ kenang Sonhaji.
Akibat jatuh dari pohon kelapa itu, pria kelahiran 25 Desember 1983 ini harus menderita cacat seumur hidupnya. Saraf tulang belakangnya putus, hingga membuatnya lumpuh.
Untuk berjalan, sama sekali tidak ada kekuatan. Terpaksa warga Dusun/Desa Gunungsari, RT16 RW05, Kecamatan Tajinan ini memakai kursi roda.
Sekalipun kondisinya cacat, Sonhaji tidak pernah putus asa. Sebaliknya dia malah terbangun dan ingin membuktikan kalau dirinya masih bisa berkarya, serta menunjukkan, dia mampu bersaing dengan orang normal.
Sekitar dua tahun lalu, dia belajar membuat karya kaligrafi dari bahan kayu. Kayu yang digunakan adalah kayu limbah (bekas) yang dibeli kiloan.
‘’Saya belajar sendiri secara otodidak. Pertama untuk tulisan bismillah saya mencontoh dari gambar kaligrafi. Sedangkan tulisan ayat lainnya, saya berpikir sendiri,’’ ujarnya.
Karya pertamanya memang sempat gagal. Namun dia tidak putus asa. Kegagalan itu justru menjadi motivasinya untuk terus belajar, hingga akhirnya berhasil membuat karya yang layak jual.
‘’Semula karya itu untuk saya pakai sendiri. Namun ternyata ada keluarga yang berminat membelinya dengan harga Rp 300 ribu,’’ katanya.
Dari karya pertamanya yang terjual itu, Sonhaji lalu terlecut untuk membuat karya lagi. Selain kaligrafi dari kayu, dia juga membuat gantungan kunci dari tempurung kelapa. Semua karyanya yang sudah jadi tersebut, kemudian dijualnya.
Bahkan karya kerajinannya sudah beberapa kali diikutkan dalam lomba dan pameran. Diantaranya mengikuti pameran kerajinan se-Jawa Timur di Surabaya pada akhir 2011 lalu. Kemudian diikutkan lomba kerajinan di tingkat Kecamatan Tajinan dan berhasil merebut juara tiga.
Terakhir dengan digandeng Dinas Sosial Kabupaten Malang, karya kaligrafinya diikutikan pameran saat acara Hari Jadi ke-1253 Kabupaten Malang di Stadion Kanjuruhan Kepanjen. Karyanya mendapat apresiasi dari Bupati Malang Rendra Kresna, yang langsung membelinya seharga Rp 500 ribu.
‘’Karya kaligrafi buatan saya ini berbeda dengan kaligrafi biasanya yang terbuat dari kayu. Kalau karya kaligrafi saya, sampai tiga kali pengecatan. Pertama saya cat hitam sebagai warna dasarnya, kemudian diulang dua kali dengan cat warna emas,’’ paparnya.
Satu karya kaligrafi penyelesaiannya cukup lama. Karena untuk membuat tulisan arab saja, baru selesai antara 7 – 10 hari. Kemudian untuk proses finishing membutuhkan waktu sekitar satu minggu.
Yang mengangumkan, meski karya kaligrafi dari kayu buatannya sudah cukup bagus dan mendapat apresiasi dari orang nomor satu di Pemerintahan Kabupaten Malang, tetapi Sonhaji masih terus belajar. Selama setahun ini, dia sekolah di panti penyandang tubuh di Solo. Program yang diambilnya adalah kelas komputer.
‘’Saya ikut sekolah ke Solo, karena ingin belajar mendesain kaligrafi dari komputer. Ketika hasilnya bagus, baru akan saya karyakan dari kayu. Karena cita-cita saya, ingin mengembangkan karya kerajinan saya hingga go international,’’ harapannya. (agung priyo)