Mereka-mereka yang Siaga Ketika Musim Bencana

Mereka bergegas, ketika bencana mengancam.  Panggilan kemanusiaan membuat mereka nyaris lupa diri sendiri dan keluarga di rumah. Itulah hari-hari anggota SAR disaat bencana sedang mengintai. Di Kota Malang terdapat sederet Tim SAR. Sebut saja, TRC, Satgas Permukiman, Satgas Bina Marga dan lainnya. Bagaimana kisah mereka?

M Soleh menggenggam erat pesawat Handy Talky (HT). Ia larut dalam ramainya obrolan antar HT. Soleh sedang memonitor situasi melalui alat  komunikasinya itu, saat mendung menggelayut, akhir pekan kemarin.
Sambil duduk di sudut markasnya, pria ramah itu terus memantau apa gerangan yang sedang terjadi. Soleh yang sehari-hari sebagai Koordinator Tim Reaksi Cepat (TRC) Bakesbangpol Kota Malang itu memang sedang siaga bencana.
Di sebuah ruangan berukuran 4 x 8 meter yang dijadikan posko, Soleh tidak sendirian. Ia ditemani anggota TRC lainnya. Mereka siap turun lapangan disaat terjadi bencana. ‘’Tugasnya seperti ini, monitor terus. Peralatan kerja juga sudah siap. Kalau ada apa-apa langsung turun,’’ ucapnya membuka obrolan.
Di Posko yang terletak di Kantor Bakesbangpol itu, sejumlah anggota TRC memang sedang siaga sepanjang hari. Peralatan SAR pun sudah disiapkan. Mulai dari HT, genset,  penyedot air, dua unit senso, alat penerangan, tenda komando, tali temali, peralatan dapur umum hingga perahu karet sudah siap. Bahkan satu unit mobil penanganan bencana juga sudah diparkir.
‘’Perahu karet ada di belakang posko. Lengkap pelampung, dayung hingga peralatan selam sudah disiapkan,’’ kata Soleh sembari menunjukan sebuah perahu karet di belakang posko. ‘’Perahu karet ini bagus,’’ sambungnya.
TRC memiliki 114 anggota. Empat anggota diantaranya adalah cewek. Mereka tersebar di 57 kelurahan yang ada di kota pendidikan ini. Setiap anggota TRC bermodal HT yang tak pernah off.
Mereka memiliki sistem kerja yang sitematis. ‘’Setiap hari, lima orang siaga di posko untuk monitor. Jika mendapat informasi bencana, langsung informasikan ke TRC yang ada di kelurahan. Lalu yang berada di wilayah terdekat merapat,’’ papar Soleh tentang mekanisme kerja TRC.
Saat berada di lokasi bencana, mereka langsung melakukan penanganan darurat seperti evakuasi. Sekaligus memetakan dan mengidentifikasi lokasi bencana. Tindakan darurat itu dilakukan sembari meminta bala bantuan datang.
‘’Semua anggota TRC memiliki kemampuan penanganan bencana. Karena selalu ikut pelatihan,’’ katanya meyakinkan. Spesifikasi yang dimiliki diantaranya renang, selam, pasang tenda dan tali temali hingga memasak. ‘’Yang spesifikasi tenda, bisa mendirikan tenda komando dalam waktu 15 menit. Tali temali bisa evakuasi korban dari atas ke bawah maupun dari bawah ke atas secara cepat,’’ papar Soleh.
Soal memasak, mereka juga jagoan memasak. Selain mengandalkan empat anggota cewek, rata-rata anggota pria TRC punya kemampuan memasak untuk jumlah banyak orang. Yakni bisa memasak untuk 200 sampai 500 orang di pengungsian. ‘’Selain membantu bencana alam, juga membantu bencana sosial. Seperti mencari anak hilang,’’ tambahnya.
Kendati kaya skill penanganan bencana, mereka ternyata datang dari latar belakang pekerjaan yang beragam. Soleh sendiri misalnya, sehari-harinya adalah seorang petani di Wonokoyo. Pagi sebelum bergegas ke Posko, ia  membereskan lahan garapannya dulu.
‘’Kerjanya macam-macam. Serabutan. Ada yang tukang, penjaga sekolah, ada juga yang becak. Yang becak ada empat orang. Mereka mbecak di Gadang, sekitar Pasar Gadang,’’ katanya.
‘’Kalau saya penjaga sekolah. Saya penjaga sekolah di SDN Polehan 2,’’ timpal Eko Yono, anggota TRC lainnya yang sedang siaga di Posko TRC. ‘’Saya potong ayam,’’ tambah Sampurno, anggota TRC lainnya yang duduk disebelah Eko Yono.
Jika datang bencana, mereka bergegas meninggalkan pekerjaan utamanya. Eko Setiyono  misalnya, siap sedia meninggalkan sekolah. ‘’Saya sudah sampaikan ke kepala sekolah. Jadi kalau mau ke lokasi bencana, pengganti saya langsung ke sekolah untuk gantikan tugas saya,’’ jelas Yono sapaan akrab Eko Setiyono.
Berapa gaji mereka sebulan? Ditanya begitu, Soleh, Yono dan Sampurno langsung tersenyum. ‘’Disini tidak ada gaji,’’ kata tiga sekawan itu kompak. Mereka memang tak pernah mempersoalkan gaji. Panggilan kemanusiaan adalah alasannya.
Membantu sesama tanpa pamrih adalah kepuasan. Lebih puas lagi kalau korban bencana tertangani dengan baik.
‘’Kalau belum berhasil, kami beban moral. Jadi harus sampai selesai,’’ kata Yono. Kalau sudah di lokasi bencana, mereka tak lagi memikirkan rumah. ‘’Karena kalau sudah di lokasi, yang dipikirkan harus cepat selesai,’’ ucapnya.
Banyak kejadian unik disaat menolong sesama tanpa memikirkan diri sendiri. Sudarminto, anggota TRC Purwodadi, Yono dan Soleh pernah merasakan pengalaman unik.
Ceritnya Sudarminto dan Soleh mencari siswa hanyut di Bumiayu. Disaat bersamaan, termonitor sedang terjadi kebakaran di kawasan Purwodadi. Soleh yang mengetahui kejadian tersebut langsung meminta Yono bergeser ke lokasi kebakaran. Sedangkan ia dan Sudarminto tetap melakukan pencarian siswa hanyut  di Bumiayu.
Yono yang diminta bergeser ke Purwodadi langsung bergegas. Setibanya di lokasi kebakaran langsung membantu PMK. Ia tak sadar bahwa sebuah rumah yang berhimpitan dengan rumah lain yang sedang dilahap api milik Sudarminto, rekannya sendiri.
‘’Beruntung api belum sempat menjalar ke rumah sebelah. Tapi tembok rumah sebelah sudah gosong,’’ katanya.
Sore harinya, Soleh, Sudarminto,Yono dan anggota TRC lainnya melakukan evaluasi rutin di posko. Saat itu Yono melaporkan secara detail tentang peristiwa kebakaran yang baru saja ditangani.
Betapa kagetnya ketika Sudarminto mengatakan rumah  yang berhimpitan dengan lokasi kebakaran itu miliknya. ‘’Saya semula tidak tahu kalau rumah itu milik Sudarminto. Saat itu juga kami balik ke lokasi, menemani Sudarminto,’’ kenangnya. Beruntung, tembok rumah Sudarminto hanya gosong.
Disaat menangani bencana, mereka juga tak sendirian. Biasanya selalu berkoordinasi dan saling membantu dengan satgas lain. Misalnya Satgas Permukiman maupun Satgas Bina Marga.
Seperti saat membantu evakuasi sebuah rumah yang roboh belum lama ini. Mereka berhari-hari mengevakuasi material bangunan yang menimbun sungai. Tujuannya agar tak sampai terjadi banjir.
Satgas Permukiman dan Satgas Bina Marga Dinas PU, Perumahan, Pengawasan Bangunan (DPUPPB) merupakan unit penanganan bencana yang siaga ketika hujan mengguyur. Mereka bahkan menelusuri kawasan rawan bencana saat hujan deras turun. Dua satgas tersebut bermarkas di Jalan Bingkil.
Satgas yang dibidani Ir Ade Herawanto, MT saat masih berdinas di PU pada tahun 2012 lalu itu selalu  siap dihubungi dan turun lokasi bencana 24 jam. Mengandalkan 13 anggota Satgas Permukiman dan 25 anggota Satgas Bina Marga, mereka pantang pulang sebelum lokasi bencana sudah tertangani dengan baik.
‘’Kalau hujan deras, kami langsung keliling, memantau pemukiman penduduk. Kami juga berkoordinasi dengan rescue lain. Ya saling sinergi untuk membantu sesama,’’ kata  koordinator lapangan Satgas Permukiman, El Kepet.
Mereka tak hanya mengandalkan informasi dari masyarakat. Karena itulah, jejaring informasi dan komunikasi dengan kelurahan, kecamatan, polsek dan koramil merupakan bagian dari cara memantau informasi bencana.
Satgas yang  dikoordinir secara umum  oleh Kabid Cipta Karya, DPUPPB, Ir Tedy Soemarna, M.Eng. Sc (Aust)  ini, kini dilengkapi peralatan standar SAR. Diantaranya pompa penyedot air, gergaji mesin, peralatan ketinggian yang standar safety hingga mobil penanganan bencana.
Seperti TRC, Satgas Permukiman memiliki sejumlah pengalaman unik saat melakukan penanganan bencana. ‘’Pada saat awal dibentuk, terjadi peristiwa jembatan rubuh di Pandanwangi. Karena terlalu bersemangat, salah satu anggota kami hampir terseret derasnya air,’’ kata Kepet.
Saat itu, lanjut dia, peralatan memang masih minim. Contohnya, karena tak memiliki tali atau karmantel, mereka menggunakan centing hasil pinjaman. ‘’Centing itu yang dipakai orang setelah melahirkan. Kita ikat pakai itu (centing) lalu turun ke sungai agar tak terseret air,’’ kenangnya sembari tertawa. (vandri van battu)