Heri ’’Gogor’’ Brawianto 19 Tahun Abdikan Diri Sebagai LO Arema

LOYALITAS adalah kunci sukses bertahan di dunia sepakbola. Heri Brawianto alias Gogor, tetap loyal sebagai Liason Officer (LO) Arema bertahun-tahun lamanya. Sudah 19 tahun Gogor mengabdi di Arema sebagai LO. Reputasinya sudah dikenal dan diakui di dunia sepakbola Indonesia, bahkan luar negeri. Tapi, perjalanannya penuh lika-liku. Jatuh bangun bersama Arema pun sempat dilakoninya. Bagaimana kisah pria yang memiliki prinsip “Jangan ada dendam di dunia sepakbola” itu?
Suasana siang Bandara Abd Saleh, sibuk. Orang-orang lalu lalang di depan bandara, mencari tempat duduk, sembari menunggu kedatangan pesawat keberangkatan pertama dari Malang ke Jakarta. Ada pula yang menanti kerabat atau kolega datang dari ibukota. Tapi, ada satu sosok yang tampak berbeda.
Dia tak menunggu teman, tak juga menanti jam keberangkatan pesawat. Alih-alih sibuk mencari kolega, pria berkulit sawo matang ini cukup tenang berdiri di salah satu pilar bandara, sambil menghisap rokok kreteknya. Matanya melihat sesekali ke arah jam tangan. Tepat pukul 10.30 WIB, raut wajahnya berubah sumringah.
Orang yang dia tunggu sudah datang. Tapi, bukan teman atau kolega yang dinantinya, melainkan pemain sepakbola bernama Gustavo Fabian Lopez, pesepakbola asal Argentina yang resmi jadi pemain Arema. Sang penjemput playmaker Arema ini tak lain adalah Heri Brawianto atau yang lebih dikenal dengan nama Gogor.
Ya, pria ini adalah Liason Officer Arema, yang sudah melayani dan ratusan klub sepakbola yang mendatangi Bhumi Ngalam sebagai lawan Singo Edan. Liason Officer atau biasa disingkat LO, memiliki tugas yang cukup beragam. Mulai dari menjemput tim tamu dari bandara, mempersiapkan kendaraan menuju tempat latihan, mempersiapkan lapangan untuk tim tamu dan mengawalnya sepanjang pertandingan.
Pendek kata, tugas Gogor adalah membuat tim lawan senyaman mungkin selama berada di Malang. Yang luar biasa, ia sudah menekuni pekerjaan sebagai LO sejak tahun 1994. Praktis, Gogor telah ngopeni tim tamu Arema selama 19 tahun.“Ya kalau dihitung, saya sudah jadi LO Arema sejak tahun 1994,” terang Gogor kepada Malang Post.
Selama menjadi LO Arema, lika-liku sudah dilalui Gogor. Loyalitas memang jadi modal utamanya mengabdi di Arema. Sebelum menjadi LO Arema, ia sempat menjadi “pembantu” dalam skuad. Ia pernah menjadi perlengkapan tim. Gogor juga sempat merasakan jadi penyobek karcis kala Arema masih bermarkas di Stadion Gajayana.
Gaji pun tak tentu. Bahkan, Gogor menyebut, pada awal pekerjaannya di Arema sebagai LO, tidak ada sepeserpun gaji bulanan yang turun. “Tidak ada gaji zaman itu. Yang ada adalah honor. Tapi, itupun usai pertandingan. Kalau gak pertandingan, ya gak dapat honor. Saya ingat, honor saya tertinggi zaman itu adalah Rp 40 ribu, itu partai derby antara Arema-Persebaya,” kata Gogor.
Tak heran, ia sempat merangkap beberapa pekerjaan untuk menghidupi dirinya, saat tak jadi LO Arema. Ia baru menerima gaji setelah Arema diakuisisi oleh Bentoel. Gogor juga mengaku sempat kehilangan pekerjaan LO satu kali, saat Arema masih dikendalikan mendiang Lucky Acub Zaenal.
“Saya dibilangi mas Lucky, untuk gantian sama teman lain. Ya saya nurut, tapi saya cuma diganti satu kali, setelah itu balik lagi dan gak diganti-ganti sampai sekarang, hehe. Sayapun sempat diminta jadi LO di tim kaya saat itu, PKT Bontang, tapi saya tolak,” ungkap Gogor tertawa.
Tapi, bagaimanapun, loyalitasnya terhadap pekerjaan LO mungkin tak ada duanya di Malang, bahkan di Indonesia. Nyatanya, Gogor adalah LO Arema yang diakui professional oleh klub-klub yang datang ke Malang. Sebab, pria yang hari ini, 16 Desember 2013, merayakan ulang tahun ke-50, tak pernah terbersit sekalipun untuk ngerjai tim tamu.
Sudah jadi rahasia umum di dunia sepakbola Indonesia, bahwa tim sepakbola yang bertamu ke kandang sebuah klub, bakal “dibantai” habis oleh LO lokal. Mulai dari tidak diberi bus latihan, tidak dijemput dan tidak diantar ke hotel tempat tim tamu menginap, hingga pembatasan waktu penggunaan lapangan untuk latihan bagi tim tamu.
Lebih ekstrem lagi, bus tim tamu bakal –maaf- dikencingi agar membuat skuad tidak nyaman. Arema pun pernah mengalami beberapa perlakukan tidak menyenangkan ini di beberapa kota, seperti di Banjarmasin dan Balikpapan. Namun, semua tindakan tidak sportif yang dilakukan oleh banyak LO, tidak ditiru oleh Gogor.
Lalu, mengapa Gogor tidak membalas perlakuan LO luar terhadap Arema saat away? Bapak yang memiliki anak berumur 8 tahun ini menyebut, ada satu prinsip yang dipegangnya selama 19 tahun menjadi LO Arema. “Saya hanya pernah diberi satu nasehat oleh pak Eko Soebekti (mantan pengurus  Arema,red), yakni, tidak boleh ada dendam di dunia sepakbola,” terangnya.
Tidak heran, kala Arema diperlakukan kurang sportif oleh LO di luar kota, Gogor tidak membalas perlakuan tersebut. Ia tetap menjunjung tinggi sportivitas dan melayani tim tamu yang datang ke Malang sebaik mungkin. Bukan bualan bila pria yang tinggal di daerah Wendit itu meraih reputasi sebagai LO yang paling top di Indonesia.
“Ya mungkin tak mengherankan bila akhirnya Arema sering disebut memiliki panpel yang terbaik di seluruh Indonesia,” ujar Gogor. Tak hanya level nasional, tim-tim luar negeri pun mengakui bahwa Arema memiliki tim panpel dan LO yang profesional.
DC United, Eintracht Frankfurt, Loyola Meralco Sparks hingga Central Coast Mariners, angkat topi terhadap kinerja panpel, khususnya kecakapan Gogor dalam menjalankan tugas LO. Namun, Gogor tak mau jumawa. Ia menyebut bahwa semua pencapaian ini adalah kerjasama semua elemen panpel dan LO. “Semuanya harus disyukuri, tapi apa yang telah dicapai sekarang, bukan karena saya. Tapi, karena kerja keras semua yang ada di panpel dan LO, bukan saya,” ujar Gogor merendah.
Ia pun siap untuk menunjukkan kinerjanya sebagai LO jempolan di Indonesia, saat Arema menerima tim tamu dari luar negeri, termasuk saat melawan Terengganu FA dan tim lawan dari babak penyisihan grup AFC Cup.(fino yudistira)