Melihat Pengerajin Miniatur Lokomotif Berbahan Limbah

Memasuki usia senja, tidak menjadikan kreatifitas, H Sulkan terhenti. Kakek empat cucu ini, justru mampu menghasilkan produk kerajinan tangan miniatur lokomotif sangat menarik. Lebih unik lagi, dia menggunakan limbah, sebagai bahan dasar.

Laki-laki paruh baya itu, tampak cukup sederhana. Tetapi begitu ramah, ketika berbincang. Meski baru saja kenal, tetapi ketika ngobrol, seperti sudah seperti teman lama. Terlebih-lebih, saya ngobrol soal lokomotif kereta api.
Ya, pria itu adalah Sulkan, pengerajin miniatur lokomotif, berbahan limbah. Sulkan, sudah hampir tujuh tahun, menekuni pekerjaan itu. Bukan sembarang lokomotif, tapi dia memilih jenis lokomotif tenaga uap, yang lebih rumit.
Ide Sulkan mulai membuat lokomotif tersebut, adalah ketika dia usai bertamu ke rumah saudaranya di Jakarta, tahun 2007-an silam. Kala itu, dia terinspirasi lokomotif antik yang sedang mangkrak di salah stasiun kereta api.
‘’Saat di Jakarta, saya mulai berpikir untuk membuat loko-lokoan kalau sudah sampai rumah. Saya buka internet soal jenis loko uap. Tapi belum berpikir, bahannya dari mana,’’ terang Sulkan.
Ketika kembali ke tempat tinggalnya di Jalan Raya Pakis, dia meneruskan idenya dengan membuat loko-lokoan itu, memanfaatkan limbah. Mulai dari kaleng seng alias omplong, pipa pvc untuk roda, knope tutup panci, triplek, hingga handle mikrophone coba dimanfaatkan. Semua dikumpulkan untuk jadi bahan dasar satu unit miniatur lokomotif. Kemudian ditempel-tempel, dirakit-rakit dan di-finishing dengan pengecatan.
‘’Ya, seadanya (bahan) yang ada di sekitar saya. Omplong ini, dari bekas kaleng susu yang saya dapat dari tetangga depan rumah. Kebetulan dia jualan es campur. Omplong ini untuk tabung bodi lokomotif, yg kemudian diatasnya saya tempeli bekas mikrophone untuk ujung pembuang uap,’’ aku Sulkan sembari tersenyum.
Seni rakit terus ditekuninya. Dia pun mulai meninggalkan pembuatan miniatur truck yang sebelumnya dibuatnya. Alasannya, truk hasil produksinya, kalah bersaing dengan truk yang dijual para pedagang musiman yang menjualnya dengan harga lebih murah.
Siapa menduga, ketika dia mulai berubah membuat lokomotif, minat pasar justru kian tinggi. Tak heran jika miniatur lokomotif yang sudah dibuatnya, cukup banyak. Lokomotif itu menyerupai jenis Ambarawa Locomotive e1080, Australia Locomotive Seri 12a dan New Britain Inggris.
‘’Untuk membuat satu lokomotif, butuh waktu maksimal 10 hari. Memang tidak sedetail aslinya, namun sudah menyerupai loko aslinya. Wisatawan Australia dan Amerika pernah beli. Paling baru dibeli Pak Bupati diharga Rp 750 ribu,’’ ucap suami dari Hj Ninuk Hanifah ini dengan penuh bangga.
Tiap miniatur lokomotif, harganya bervariasi. Dari harga Rp 250 ribu, Rp 500 ribu dan Rp 750 ribu, sesuai dengan ukuran kecil sedang dan besar. Awalnya, pasar miniatur buatan Sulkan, dikirim ke Bali melalui saudaranya. Sulkan yang sudah berhaji ini mengaku, diawal kerjasama berjalan lancar, namun keuangan kemudian tersendat.
‘’Ada saudara di Bali, suami keponakaku yang menampung miniatur buatanku,. Pertama keuangan enak, lama-lama lha kok nyantol,’’ ujar pria kelahiran 58 tahun yang lalu.
Sulkan pun memutuskan untuk memasarkan sendiri hasil kreatifnya. Meski belum ada target harus menghasilkan dan laku berapa unit miniatur loko miliknya perbulannya.
Meski banyak pesanan, tapi Sulkan mengerjakan dengan santai. Dengan alasan harus teliti, Sulkan memilih untuk tidak terburu-buru dalam mengerjalan satu lokomotif. Bahkan jika sang cucu datang, dia tak segan meninggalkan pekerjaannya.
Pria yang sebelumnya dikenal sebagai tukang kayu ini, memilih mempromosikan produknya di pameran-pameran. Seperti di Tunjungan Plaza Surabaya.
Sulkan pun pernah diliput acara tv nasional pada acara Si Bolang, Cita-citaku dan Entermizo. Selama ini, dia termasuk binaan Dinas Sosial Kabupaten Malang. Produknya sedang dipatenkan sebagai produk khas Kabupaten Malang. ‘’Ciri khas minatur buatan saya, sengaja dibuat tidak berjalan,’’ ujar Sulkan.
Tak hanya itu, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar Kabupaten Malang, juga membuka jalan bagi Sulkan untuk semakin mengembangkan usahanya. Dia difasilitasi untuk mengelola usaha pembuatan miniatur lokomotif tersebut secara besar-besaran dengan mencari sejumlah tenaga kerja.
Produknya pun kini sedang dalam pengurusan izin, untuk dipatenkan sebagai kerajinan khas asal Kabupaten Malang. Pemerintah sendiri, akan ikut mempromosikan produk Sulkan.
 ’’Terimakasih atas dukungan pemerintah kabupaten Malang,” tambah Sulkan dengan tersenyum senang. (poy heri pristianto)