Lamar Kerja Sering Ditolak, Awali Usaha Bermodal Rp 25 Ribu

Dedek Setia Santoso saat foto bersama penggiat anggrek dari berbagai negara dalam acara pameran di China.

Petani Anggrek di Batu yang Diakui di Level Internasional
Siapa sangka, salah satu penggiat anggrek di Kota Batu yang diakui hingga mancanegara ternyata lulusan ekonomi. Bukan sarjana Pertanian. Padahal untuk membudidayakan anggrek, diperlukan keahlian khusus. Minimal memiliki dasar dibidang pertanian. Akan tetapi, berkat kelihaian tangannya itulah, dihasilkan anggrek yang berkualitas bagus. Kuncinya, harus telaten, tekun, ulet, dan cekatan.
Tidak terlalu sulit untuk mencari kebun anggrek milik Dede Setia Santoso ini. Lokasinya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Hanya berjarak sekitar 1 km. Yakni di Dusun Areng-areng Kelurahan Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu.
Setelah sampai di kebun, terlihat sosok laki-laki berbadan tegap, dengan rambut panjang, sedang menyiram bunga kesayangannya ini.
Tahu Malang Post datang, sejenak Dedek menghentikan kegiatannya. Berjabat tangan dan meminta maaf karena suasana kebunnya masih berantakan. Dia baru saja menyelesaikan proses pengiriman bunga.
Dedek lantas mengawali obrolannya. Kesukaannya terhadap anggrek, bermula saat hampir lulus kuliah. Pikirannya belum terlalu jauh seperti sekarang. Dulu, dia hanya sekedar ingin merawat dan setiap hari di rumah minimal ada kegiatan.
Pasca lulus kuliah, Dedek sudah berusaha keras memasukkan lamaran ke instansi-instansi yang dituju. Namun berulangkali gagal alias tidak diterima.
Bosan tidak ada kegiatan di rumah, pria 35 tahun ini berinisiatif membudidayakan anggrek dengan memanfaatkan pekarangan rumah yang tidak terpakai.
Akhirnya, dengan modal Rp 25 ribu, dia membeli dua botol bibit anggrek. Karena belum tahu secara detail merawat anggrek, Dedek bergabung dengan organisasi Penggiat Anggrek Indonesia (PAI) serta memperbanyak baca buku-buku tentang anggrek.
‘’Ngumpul-ngumpul sama penggiat anggrek, mulai dari saling berbagai pengetahuan sampai pengalamannya. Saya lihat kok menyenangkan budidaya anggrek. Apalagi diantara anggota PAI ada yang sukses membudiyakan anggrek. Makanya saya termotivasi untuk budidaya anggrek,’’ kata alumnus Brawijaya ini.
Dedek mengatakan, setelah itu dua botol bibit ini kemudian dijual dengan harga Rp 3.000/bibitnya. Satu botol bisa menjadi 30 bibit. Hasil penjualannya, kembali dibelikan bibit supaya semakin banyak bibit yang dibudidayakan.
‘’Hasil jualan ini saya sisihkan untuk membeli alat-alat laboratorium untuk kultur jaringan atau buat bibit sendiri. Supaya tidak lagi membeli bibit ke orang lain,’’ ujarnya kepada Malang Post.
Bukan berarti usahanya ini berjalan mulus. Dedek berulangkali merasakan yang namanya jatuh bangun. Namun, karena kegigihannya serta kecintaannya terhadap anggrek, membuatnya terus berusaha membuat bibit yang bagus.
Hingga akhirnya pada tahun 2006, dia mulai mengikuti even-even anggrek. Seperti pameran dan lainnya. Baik di lokal maupun internasional. Diantaranya di Surabaya, Bali, Tangerang dan Jakarta. Bahkan sampai ke Singapura, Malaysia dan China.
Tahun 2007, dia memilih ikut training penjurian anggrek di Malang dan Singapura. Pasca pelatihan, dia langsung ditarik sebagai asisten juri.
Bertambahnya pengetahuan tentang anggrek, mempermudah dirinya membudidayakan anggrek. Semisal menghasilkan anggrek yang bagus itu harus bagaimana dan penilaian dewan juri terhadap anggrek, dari sisi apa.
‘’Setiap negara kan satu perwakilan, saya dan tiga teman saya mengusung tema tentang kebudayaan lokal. Yakni tentang adat Jawa. Sementara saat pameran di Malaysia, saya menyajikan budaya Toraja dan kami keluar sebagai yang terbaik,’’ jelasnya sembari mengajak mengelilingi kebunnya tersebut.
Sementara untuk prestasinya, Dedek dengan anggreknya berhasil meraih Best Anggrek Brasavola Donusa. Tahun 2013 ini, dia juga berhasil meraih Dendrobium Indonesia, sebagai juara pertama yang diselenggarakan di Surabaya. Sedangkan saat di China, dia bersama tiga rekannya meraih penyaji pameran terbaik.
Kini budidaya anggreknya, sudah ribuan dengan sekitar 30 jenis anggrek. Ada jenis Dendrobium, Vanda, Oncidium, Dyah Katarina, Helix, dan Strebloseras.
Setiap harinya, Dedek menerima pesanan sekitar 4.000 bibit anggrek ketika menjelang akhir tahun. ‘’Khusus Dendrobium kan jenis anggrek langka. Harganya pun relatif mahal dan proses budidayanya cukup lama. Selain itu semuanya saya jual dalam bentuk bibit,’’ urai pria yang mengelola kebun anggreknya ini bersama adik dan ibunya tersebut.
Karena besarnya permintaan dari para kolektor dan pencinta anggrek, Dedek mengajak semua masyarakat disekitarnya ramai-ramai budidaya anggrek.
Kini, ada 25 ibu-ibu PKK yang sudah membudidayakan anggrek setelah dilatih. Mereka pun berbagi tugas untuk memudahkan pekerjaannya serta perputaran ekonomi lebih cepat. Ada yang buat bibit, ada yang bagian perawatan sampai ada juga yang bagian pemasaran.
‘’Kalau bagi tugas seperti ini lebih efektif. Jika perorangan mengelola dari pembibitan sampai pemasaran, prosesnya terlalu lama,’’ tambahnya sembari mengakui jika punya cita-cita menjadikan kampungnya sebagai kampung petani anggrek. (Miski Al Madurain)