Ibu yang Peduli pada Pendidikan Anak Kurang Beruntung

Hari ini, diperingati sebagai Hari Ibu. Seorang ibu, memang berkewajiban memberikan pendidikan terbaik bagi anak kandungnya. Namun, ada seorang ibu yang berjuang keras, memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu. Tak heran, bentuk kepedulian sosialnya, menuai berbagai prestasi.

Sore itu, tampak belasan anak berkumpul di rumah yang terletak di Perumahan Pesona Singosari Blok JJ 3. Hanya dengan beralaskan tikar, mereka terlihat serius menyimak penyampaian materi pelajaran dari salah seorang wanita berjilbab.
Menggunakan kapur tulis, sesekali wanita tersebut berinteraksi dengan anak-anak. Wanita berjilbab itu, Abyz Wigati. Wanita berusia 41 tahun tersebut, selama ini dikenal sebagai ibu yang peduli dengan pendidikan anak-anak dari keluarga tidak mampu dan yatim piatu.
Rumah yang dia tempati, memang sekaligus menjadi tempat belajar, anak-anak yang kurang beruntung tersebut.
‘’Maaf ya, rumahnya berantakan. Maklum, dibuat belajar dan bermain anak-anak,’’ ujar ibu tiga orang anak ini kepada Malang Post.
Menurut istri M Noor Choirulloh ini, perkembangan anak-anak usia TK dan SD, mutlak diperlukan pendampingan orangtua. Namun, keadaan yang memaksa ada sebagian anak, yang tidak mendapatkan kesempatan itu. Salah satunya, ada anak yang seusianya, sudah yatim piatu ditinggal wafat orangtua mereka.
Adapula anak-anak, yang sengaja ditipkan oleh orangtua mereka di panti asuhan. ‘’Namun, ada juga anak-anak yang berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka dipaksa oleh orangtuanya, untuk bekerja di jalanan seperti mengamen dan mengemis. Hal ini, tentunya tidak bagus untuk pertumbuhan mereka,’’ tegasnya.
Berawal dari keprihatinan itulah, dia bersama suaminya, membuka sekolah aternatif, yakni TK dan SD Sanggar Anak Harapan Umat sejak tahun 2005.
Niat mulia mereka, ternyata tidak mudah. Keberadaan sekolah yang mereka dirikan, mendapatkan penolakan dari para orangtua anak-anak dari kalangan tidak mampu.
Meski begitu, kedua pasangan suami istri  ini tidak menyerah begitu saja. Mereka tetap berjuangan dengan memberikan pengertian kepada para orangtua.
‘’Kami datang ke tiap-tiap rumah orangtua mereka. Tujuannya, memberikan pengertian bahwa pendidikan bagi anak-anak mereka itu sangat penting,’’ ucapnya mengenang.
Pendekatan secara persuasif yang dia lakukan, akhirnya membuahkan hasil. Para orangtua yang awalnya menolak, akhirnya melunak. Keadaan itu, bertahan hingga kini. ‘’Sekarang, ada sekitar 100 anak-anak lebih yang belajar bersama kami. Tentunya hal itu sangat positif dan kami syukuri,’’ katanya.
Tak hanya memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak, dia juga memberikan pendidikan parenting gratis kepada para orangtua. Tujuannya, agar para orangtua tersebut tahu bagaimana teknik memberikan pendidikan yang benar kepada buah hati mereka.
Kini, keberadaan sekolah alternatif untuk ibu dan anak tersebut, sudah berkembang di sejumlah wilayah Kabupaten Malang dan Kota Malang. Seperti di Gadang, Muharto, Sukun, dan Srigading Lawang.
‘’Anak-anak yang masih kecil, tidak boleh dikerasi. Harus memakai hati dan perasaan ketika akan meyampaikan sesuatu,’’ terangnya. Hasil dari pendidikan parenting tersebut, pendidikan dan kecerdasan anak akan semakin berkembang pesat. Dia mencontohkan, sudah ada anak didikannya yang bisa membuat buku.
Ada pula yang bisa memainkan suatu alat musik tradisional dan modern. Pintar dalam mata pelajaran eksak dan sebagainya. ‘’Seiring bertambahnya umur mereka, akan bertambah pula kecerdasannya. Asal ya itu tadi, para orangtua harus menerapkan pendidikan parenting yang baik dan benar, ucapnya.
Pengabdiannya selama delapan tahun, membuahkan hasil. Dia mendapatkan berbagai penghargaan tingkat nasional. Diantaranya  Kartini Inspiratif 2012. Yang paling istimewa Perempuan Ispiratif 2013 bidang pendidikan dari Tabloid Nova. Penghargaan itu diperolehnya pada tanggal (14/12), atau sepekan sebelum pada Hari Ibu Nasional.
Pada hari Ibu Nasional ini, dia berpesan kepada ibu-ibu lainnya agar tetap mengabdi dengan hati. Meski, pada mulanya memang susah. Namun, hal itu wajib dilakukan oleh para ibu, terutama untuk mendukung perkembangan pendidikan buah hati mereka.
‘’Bila mereka sayang kepada anak-anaknya, tentunya memberikan segalanya yang terbaik. Bila ada orangtua yang memperkejakan anak mereka, berarti mereka tentunya tidak sayang,’’ tutupnya. (binar gumilang)