Perayaan Natal ala GKJW Panthan Ubalan Dampit

Perayaan Natal, biasanya ditunggu-tunggu oleh umat Kristiani di seluruh dunia. Namun bila tanpa ada bencana melanda, Natal harus dirayakan dengan kondisi minimalis serta jauh dari kesan mewah, malahan harus numpang di rumah warga, pasti membuat jemaat tidak bisa melupakan saat tersebut. itulah yang dialami warga jemaat Greja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Panthan Ubalan, Desa Pamotan, Kecamatan Dampit. Mereka menggelar misa di rumah.

‘’Tahun ini, kami terpaksa merayakan Natal di rumah warga. Tepatnya di rumah Ibu Suminto, yang rumahnya di samping gereja. Proses pembangunan gereja molor dari jadwal karena terkendala tingginya curah hujan dua bulan terakhir ini,’’ ujar Ketua Majelis GKJW Ubalan, In Suhariyono.
Proses renovasi gereja yang sudah berusia 42 tahun dan beralamat di Jalan Gereja No 9 Dusun Ubalan tersebut, terpaksa mengalah dengan kondisi alam.
Sejak pertama kali dibongkar awal November lalu, sudah harus berpacu dengan hujan. Menurut In, renovasi terpaksa dilakukan di bulan tersebut, karena begitu terkena hujan, gedung gereja tersebut pasti banjir.
’’Saat terkena hujan, pasti di dalam gereja ini seperti kolam ikan. Airnya menggenang memenuhi lantai gereja. Jadi penatua gereja, terpaksa mempercepat pembangunan yang seharusnya berlangsung sekitar Maret tahun depan. Sebab dananya juga belum terpenuhi sebenarnya bila direnovasi tahun ini,’’ ujarnya kepada Malang Post.
Menurut pensiunan guru ini, pemugaran atap yang mulai lapuk pun dilakukan. Hasilnya, renovasi terhambat dan hampir dua bulan belum selesai juga.
Lamanya renovasi ini, memaksa Majelis Gereja (pengurus) harus memberikan pengertian kepada jemaat, jika tahun ini harus merayakan Natal dengan sederhana. Selain harus menumpang untuk misa Natal, beribadah dengan model lesehan harus di alami di tahun 2013 ini.
‘’Untuk pertama kalinya kami merayakan Natal menumpang, duduk di atas lantai dan tanpa ada sajian yang diberikan kepada jemaat,’’ imbuhnya.
Lebih lanjut bapak empat anak ini menyampaikan, tahun ini pula perayaan Natal di gerejanya tidak mengundang dari jemaat gereja lain di Kecamatan Dampit.
Tidak tampak hiasan Natal, kecuali pohon terang yang memang milik keluarga di rumah Ibu Suminto, yang konon juga baru berduka cita karena ditinggalkan oleh kepala keluarga sekitar sebulan yang lalu. Tidak ada juga sound system serta alat musik yang biasa dikenakan untuk mengiringi ibadah.
’’Pemilik rumah juga baru saja berdukacita. Tetapi tetap rela meminjamkan tempatnya. Namun untuk perayaan Natal walaupun sederhana, hanya rumah warga ini yang terhitung layak menampung sekitar 300 jemaat GKJW Ubalan. Jadi kami juga tidak siap apapun, kecuali badan ini untuk menyelenggarakan ibadah,’’ tambah dia.
Rumah Suminto, memang tergolong besar. Area ruang tamu yang digunakan untuk beribadah berukuran 12x12 meter. Cukup untuk menampung 200 jemaat jika posisinya lesehan. Perhitungan dari majelis gereja, jika semua warganya datang lengkap, sisanya berada di area emperan rumah. Benar saja, hampir semua warga jemaat datang, sisanya harus di bagian luar ditemani dengan hujan deras yang mengguyur sejak malam hari sebelumnya.
Meskipun aneh dan sederhana, warga antusias untuk mengikut ibadah. Sekitar 250 jemaat, baik tua, muda, dan anak-anak mengikuti ibadah yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut.
Namun tidak sedikit pula wajah sedih terpancar karena mengalami kondisi ini dan terlihat menitikkan air mata begitu memasuki renungan Natal.
’’Minggu lalu sudah diumumkan, tidak ada perayaan mewah sebab gereja sedang butuh dana lebih untuk pembangunan. Daripada biaya sekitar Rp 4-5 juta untuk perayaan, banyak yang sepakat mendahulukan biaya pembangunan karena memerlukan biaya puluhan juta. Jadi, kami buat ibadah sederhana saja, yang penting ada perbedaan ketika menyambut kelahiran Tuhan Yesus Kristus, dan ini cara kami tahun ini,’’ papar pria yang pandai bermain keyboard ini.
Salah satu jemaat, Juni Antoko mengakui, baru pertama kali merayakan Natal dalam kondisi minimalis dan diguyur hujan. ‘’Biasanya, sekalipun tidak ada pesta mewah merayakannya di dalam gedung gereja sendiri. Malah selama 10 tahun ini selalu ada perayaan dan gedung gereja yang bisa menampung 300 orang ini selalu tidak cukup, karena yang datang hampir semua warga gereja. Tetapi ya tidak apa-apa, tahun depan pasti bisa merayakan Natal di gereja yang lebih layak,’’ ungkap pemuda berusia 29 tahun tersebut. (Stenly Rehardson)