Hanya Bisa Melihat Teman Pingsan, Hingga Tenggelam di Cairan Gula

SYOK : Sugiono (memegang HP) dan Marsih (bertopi) tampak syok atas peristiwa yang merenggut nyawa empat rekan kerjanya.

Kecelakaan kerja di Pabrik Gula (PG) Kebonangung yang menyebabkan empat orang tewas, menyisakan duka dan kesedihan yang mendalam dari rekan kerja korban. Pasalnya, selama tujuh tahun bekerja di CV Dinarta sebagai pembersih gula sisa, tidak pernah mengalami kejadian seperti itu. Sontak, peristiwa maut itu membuat mereka syok.

Siang itu, suasana awan kelabu serta kesedihan yang mendalam sangat jelas terasa di depan Kamar Mayat RSSA Kota Malang. Ada dua orang yang tampak cemas. Seorang gelisah dengan berulangkali menghubungi seseorang lewat ponsel miliknya, seorang lagi mencoba berusaha tetap tegar dan tenang. Meski, raut wajah kesedihan tak bisa disembunyikannya.
Ya, mereka adalah Sugiono dan Marsih yang merupakan teman kerja empat karyawan CV Dinarta yang mengalami kecelakaan kerja di PG Kebonagung. Meski masih dilanda kesedihan yang mendalam, Sugiono masih bisa bercerita peristiwa maut itu. Awalnya, mereka mulai bekerja membersihkan sisa gula hari Selasa (24/12).
Saat itu, dirinya bersama 37 pekerja lain datang dari Kelurahan/Kecamatan Pesantren Kota Kediri. Perusahaan tempat mereka bekerja, memenangkan tender pembersihan sisa gula di PG Kebonangung. “Ini kali kelima, kami membersihkan palung tempat tetesan gula di tempat itu,“ ujarnya kepada Malang Post kemarin.
Awal mereka bekerja, tidak ada kendala sama sekali. Saat itu, terdapat empat palung gula milik PG Kebonagung yang harus mereka bersihkan. Sugiono mengungkapkan, satu palung mempunyai luas sekitar 160 meter persegi, sehingga dibutuhkan tenaga yang banyak untuk membersihkan sisa gula.
“Kami membersihkan sisa gula di setiap sudut yang ada di palung tersebut. Palung itu, merupakan tempat tetesan gula,” terangnya. Selama tiga hari berlangsung pembersihan, pekerjaan mereka berjalan lancar. Nasib naas terjadi pada hari keempat atau tepatnya Sabtu (28/12) kemarin. Awalnya, Harianto masuk ke palung nomor dua sekitar pukul 10.15. Baru sebentar masuk, ia terlihat panik seperti keracunan gas hingga pingsan. Melihat Harijanto pingsan, Pujianto (30), Mujiono (28), serta Armi Uspahadi (25), yang ada di luar palung pun
mencoba memberikan pertolongan. Naasnya, mereka juga ikut keracunan, pingsan dan tenggelam dalam air gula. Sedangkan Sugiono dan Marsih yang juga berada di sekitar tempat tersebut, tidak bisa berbuat apa-apa.
“Saya mau mencoba menolong mereka, tapi tidak bisa. Karena bau gas semakin menyengat,” ucapnya lirih.
Namun, mereka langsung bergegas melaporkan peristiwa tersebut ke petugas keamanan PG Kebonagung yang kemudian melaporkan peristiwa tersebut ke Polsek Pakisaji. Sayangnya, kedatangan petugas kepolisian bersama PMI, tidak berhasil menyeamatkan nyawa mereka. “Saya tidak tahu gas beracun itu berasal dari mana. Kalau saya sempat rasakan, bau gas itu seperti soda atau alkohol,” ucapnya.
Kematian keempat rekan kerjanya itu, menyisakan beban berat bagi mereka. Pasalnya, mereka berdua harus menyampaikan peristiwa maut tersebut kepada keluarga korban. Dari semua korban yang tewas, hanya Armi Supahadi yang belum berkeluarga. Sedangkan Mudjiono dan Pujianto masing-masing mempunyai satu anak, dan Harianto meninggalkan dua anak.
“Mereka semua adalah tulang punggung keluarga masing-masing. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana dengan kondisi keluarga yang ditinggalkan,” katanya sembari mencucurkan air mata.
Sebelum peristiwa naas ini, lanjut Sugiono, mereka sudah biasa membersihkan palung di berbagai pabrik gula yang ada di Pulau Jawa. Seperti PG Ngadirejo Kabupaten Kediri, PG Mojo Sragen Jawa Tengah, PG Rejo Agung Madiun dan beberapa pabirk gula lain. “Selama tujuh tahun saya bekerja, ya baru sekarang mengalami kejadian ini,” katanya sembari menambahkan mereka tidak punya firasat apa-apa sebelum peristiwa tersebut terjadi.
Marsih menambahkan, saat itu suasana kerja berlangsung seperti biasanya. Tidak ada kejadian yang janggal dirasakan sebelumnya. “Kami mulai kerja seperti biasa. Termasuk saat masuk ke palung nomor dua, juga tidak punya firasat apa-apa. Ya masuk ke palung begitu saja seperti biasa,” ucap pria paruh baya tersebut.
Meski keempat rekannya tewas, Marsih mengiklashkan peristiwa maut tersebut. Lantaran menurutnya, kejadian ini merupakan takdir dari yang maha kuasa. “Usai dibersihkan, kami langsung membawa jenazah mereka pulang ke Kediri, untuk dikebumikan. Kami akan bekerja lagi sesuai instruksi nanti,“ tutupnya. (binar gumilang/han)