Susahnya Membumikan Bursa Saham di Kampus

MENYOSIALISASIKAN perdagangan saham di kampus, bukan perkara mudah. Apalagi kampus pernah diguncang kasus money game PT Pohonmas Mapan Sentosa (Pomas). Belum lagi isu best provit yang beberapa waktu lalu juga menjadi momok. Tugas berat itu kini diemban Dr. Puji Handayati SE, MM, Ak, Direktur Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) Universitas Negeri Malang (UM). Bagaimana kiprahnya?

Layar monitor saham di pojok BEI UM, terlihat berkedip. Seorang wanita berkerudung asyik mengamati pergerakan harga saham.
Sementara beberapa mahasiswa, juga terlihat keluar masuk untuk sekadar melihat layar monitor yang ada dan kemudian berdiri lagi untuk mengikuti kuliah.
‘’Beberapa pekan ini pasar modal sedikit lesu, karena harga saham secara umum turun,’’ ungkap Puji sambil memperlihatkan layar monitor yang sedang diamatinya.
Di pojok BEI UM, ada 12 unit komputer yang disiapkan bagi pengunjungnya. Siapa pun bebas datang ke ruangan berukuran 5x12 meter itu.
Letak bangunannya menyatu di areal gedung perkuliahan Fakultas Ekonomi. Selain fasilitas komputer, beberapa majalah dan brosur tersusun rapi di rak buku. Sebelum masuk ke ruangan tersebut, ada meja penerima tamu yang harus dilewati, sehingga tamu yang keluar masuk tercatat rapi.
Sejak 2010 lalu, kelahiran Pasuruan 12 Oktober 1974 ini dipercaya sebagai Direktur BEI UM. Tugasnya yang utama adalah mengenalkan pasar modal kepada kalangan akademisi, serta mengajak mereka tak alergi berinvestasi di pasar modal.
Tentu saja hal itu tidak mudah. Buktinya saja sampai saat ini belum mencapai satu persen dosen di UM yang mulai tertarik menjadi investor.
Keengganan mereka dikarenakan banyak mitos yang menyebut pasar saham adalah sama dengan permainan judi. Disamping itu dunia kampus juga pernah dibuat kapok dengan investasi bodong seperti Pohon Mas.
Terbaru masyarakat juga dibuat geram dengan kasus Best Provit Futures. ‘’Isu-isu investasi bodong menjadi momok bagi akademisi baik dosen dan mahasiswa, mereka banyak yang masih enggan main saham,’’ ujarnya.
Kondisi di Malang ini jauh berbeda dengan kota besar lainnya seperti Surabaya. Di Kampus Ubaya, hampir seluruh mahasiswa baru sudah memiliki akun di pasar modal. Pembiayaannya masuk dalam komponen biaya pendidikan.
Karena itulah pada 2010 lalu, hadir BEI di kampus sebagai tindak lanjut dari kerjasama Fakultas Ekonomi dengan PT. Reliance Asset Management.
BEI selain sebagai perdagangan saham, ada beberapa aktifitas lain yang dapat dilakukan diantaranya perdagangan obligasi, investasi dan lain sebagainya.
Seiring dengan perluasan mandat nantinya fakultas diharapkan dapat mengelola asetnya secara mandiri. Perguruan tinggi diharapkan ikut mendorong iklim investasi pasar modal Indonesia melalui pojok BEI.
Dalam kegiatan sosialisasi, program yang dilaksanakan diantaranya sosialisasi di SMA se Malang raya, organisasi kemasyarakatan, Bhayangkari dan PKK.
Sekalipun masih sulit mengajak kalangan kampus, berperan serta, tapi sejumlah penghargaan sudah diraih. Dalam ajang BEI Award 2012 lalu, Galeri Investasi BEI UM tahun lalu meraih penghargaan tingkat nasional.
Dari empat kategori yang dilombakan yakni nilai investasi, jumlah investor, pengembangan dan inovasi, serta penyebarluasan informasi, BEI UM meraih dua kategori sekaligus. Yakni terbaik nasional untuk kategori pengembangan dan inovasi, serta juara tiga penyebarluasan informasi.
Seleksinya diikuti sekitar 65 pojok BEI seluruh Indonesia. Pada 2013, galery investasi BEI UM meraih juara dua tingkat nasional.
‘’Jumlah transaksi kami yang masih kecil menjadi kendala untuk mempertahankan juara 1, tapi kami tetap optimis,’’ ujarnya mantap.
Bagi Puji, dunia saham bukan hal baru. Karena semenjak kuliah di Universitas Brawijaya (UB) ia sudah bermain saham. Hanya saja saham-saham yang dipilihnya biasanya adalah saham yang aman, seperti PT Semen, Telkom, Wika dan Astra. Sang suami yang bekerja di perbankan juga tidak asing dengan dunia ini, bahkan salah satu putranya yang duduk di bangku SMA juga sudah punya saham di pasar modal.
‘’Anak saya bahkan kini meyakinkan saya bahwa saat kuliah nanti ia tak akan merepotkan orang tua karena sudah punya keuntungan besar dari bermain saham,’’ ujarnya sembari tersenyum lebar. (lailatul rosida)