Kenduri Lintas Agama Haul Keempat Gus Dur di Klenteng

Lagu berjudul Ahlan wa Sahlan mengalun merdu dari biduan Sanggar seni An Nashih, PMII Komisariat Universitas Negeri Malang, semalam. Perpaduan musik modern dan tradisi terdengar harmonis di Gedung Serbaguna Klenteng Eng Ang Kiong, mengantar puluhan umat mengikuti kenduri lintas agama dalam rangka Haul keempat KH Abdurahman Wahid (Gus Dur).

Lagu ahlan wa sahlan, menjadi simbol selamat datang bagi enam agama dan satu kepercayaan, yang mengikuti haul. Pengantar bagi lintas agama, untuk datang dalam forum untuk menambah ilmu. Sebab, kenduri ini juga diikuti diskusi lintas agama.
Tema yang diambil penyelenggara adalah : sepi ing pamrih rame ing gawe. Harmonisasi dalam sebuah gawe bersama, dicerminkan perpaduan gitar sebagai simbol musik modern dan saron yang mewakili musik tradisi.
Hal itu dijelaskan Hasan Suudi, Humas An Nashih. ‘’Lagi ini menjadi simbol selamat datang bagi hadirin dalam mencari ilmu di forum ini,’’ katanya. Enam agama, satu kepercayaan dan peserta dari berbagai etnis, menikmati musik bernuansa universal tersebut.
Sebagai keynote speaker acara itu, adalah puteri keempat Gus Dur, Inayah Wulandari Wahid. Hadir pula Bunsu Anton Triyono (Kong Hu cu), Romo Eko (Katolik), Pdt. Yohannes Hariono (Kristen), HM Syafiq (Islam), Ida Bagus Bajre (Hindu), Haryono (Buddha) dan Joedo Asmoro (Penghayat Kepercayaan).
Kegiatan ini, diselenggarakan oleh Pengurus Cabang PMII Kota Malang, komunitas Gusdurian Muda (Garuda) Kota Malang, mahasiswa Ahlit Thariqah Al-Mu'tabaroh Annahdhiyah (Matan) Kota Malang, Committee For Interfaith Tolerance in Indonesia (Cinta), Encompass dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Malang.
Layaknya sebuah kenduri, dalam acara itu juga disiapkan tumpeng serta berbagai polo pendem. Masyarakat dari berbagai etnis seperti Tionghoa, Jawa, Madura berpadu mengikuti haul.
Acara itu juga diisi pentas barongsai, testimoni kerukunan keagamaan. Ada juga  kolaborasi musik seluruh agama serta maiyaha .
Bonsu Anton Triyono mewakili Kong Hucu, mengatakan, kegiatan ini mengingatkan pada lahirnya Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB), 20 September 1998.  Semua itu terinspirasi pemikiran Gus Dur yang memiliki rasa pluralisme dan demokrasi yang tinggi.
‘’Bersatu dari agama-agama dalam berbangsa dan bernegara, dalam perjalanan mampu membawa kedamaian untuk nusa dan bangsa,’’ ujar Bonsu Anton.
Pelaksanaan di Klenteng, juga mewakili harmonisasi tiga keimanan. Klenteng Eng Ang Kiong sendiri selama 200 tahun, menyinergikan tiga keyakinan. Konghucu, Tao dan Buddha Mahayana.
‘’Ketiga saling bersinegeri dan berempati. Itulah yang bisa mempertahankan keberadaan klenteng selama 200 tahun. Kami terbuka untuk acara ini,’’ jelasnya.
Apalagi Gus Dur di dalam perjalanan Forkom demokrasi dan ketika menjadi presiden RI, banyak menghasilkan kebijakan yang progesif untuk umat beragama. Warga Tionghoa  diberikan hak-hak sipil, menghapus diskrimasi.
‘’Peran Gus Dur terutama dalam menerbitkan UU no 6 tahun 2000, dampaknya besar sekali bagi masyarakat Indonesia. Juga menghapuskan gender,’’ imbuh dia.
UU tersebut, juga ikut ‘menolong’ Megawati tampil menjadi presiden RI.  Karena Gus Dur memperjuangkan terhapusnya gender.  ‘’Sebelum UU lahir, kami seperti terpasung, tradisi budaya dan agama. Tidak bisa berkembang. Dilarang di depan umum,’’ katanya.
Bahkan warga Tionghoa, tak bisa menulis agama Konghucu di KTP. Serta tidak tercatat di catatan sipil pernikahan warga Konghucu. Pada masa itu, seorang Konghucu terpaksa pindah agama agar punya KTP.
‘’Kami terakomodasi kepimpinan Gus Dur. Nama-nama Tionghoa pada waktu orde baru terhapus, sekarang sudah bisa. Hanya kami wegah ganti lagi, karena surat-surat memakai nama baru,’’ urainya.
Pihaknya ikut handarbeni yakni merasa memiliki Gus Dur. Perjuangan dan pemikiran Gus Dur, bisa mewujudkan empati simpati dalam mempersatukan Indonesia yang  plural.
Sementara itu, Fathul Hasan, Ketua Panitia dari PMII cabang Kota Malang mengatakan, kenduri lintas agama amat penting. Sebab kenduri sejak jaman nenek moyang sudah diadakan untuk mempersatukan umat.
‘’Kita lakukan untuk meruwat hajat bareng. Hari ini, kita cover lebih indah. Tokoh berbicara disini dalam rangka haul keempat Gus Dur,’’ kata dia.
Acara haul Gus Dur ini baru pertama kali digelar bersama lintas agama di Kota Malang. Dipilih klenteng, karena setiap tempat ibadah adalah suci. Memberikan kebaikan. Panitia mayoritas Islam, maka dicari tempat non islam sebagai bukti toleransi.
‘’Sekaligus menjadi simbol perdamaian menyongsong tahun baru. Biasanya momennya selalu panas, maka butuh pendingin dengan acara ini,’’ tandasnya.
Adapun Barokat Anas dari Gusdurian Muda (Garuda) Kota Malang mengatakan, haul juga untuk meneruskan semangat dan pemikiran Gus Dur.
‘’Gerakan Gusdurian muda (Garuda) tidak mematok kader. Kita non structural. Spirit untuk meneruskan pemikiran Gus Dur di wilayah kultural,’’ tegasnya.
Gusdurian Malang juga melindungi Gus Dur baik simbol maupun teks dari pemanfaatan kepartaian. Terutama caleg yang tanpa izin Shinta Nuriyah Wahid, memakai untuk promosi.
‘’Kita dalam rangka mengingatkan caleg, lebih ke pendekatan melalui media, agar mereka bisa memahami arti dari pelarangan itu. Simbol dan teks harus seizin ibu Shinta Nuriyah,’’ akunya.
Mengenai pluralisme sendiri, bagi Garuda adalah saling menghormati dan menghargai, tanpa campur adukkan agama satu dan yang lain.
‘’Sepi ing pamrih rame ing gawe menjadi komitmen bukan sebatas banyak wacana, tapi dalam hal kecil bisa kita wujudkan, baik diskusi maupun harmoni dalam konteks kehidupan,’’ tandas dia. (Bagus Ary Wicaksono)