Blok Tahanan Jadi RS, Dua Dokter Layani Ribuan Napi

Melihat Layanan Kesehatan di LP Lowokwaru
DIBAYANGI keterbatasan anggaran dan sarana, tak membuat pengelola Lembaga Pemasyarakatan (LP) Klas I Lowokwaru, memperlakukan napi secara tak manusiawi. Termasuk ketika merawat napi yang sedang sakit, di masa penahanan.

Sebuah blok, di salah satu LP peninggalan Belanda itu, disulap jadi rumah sakit. Lengkap dengan standar pelayanan yang manusiawi pula. Karena sistem layanannya, LP yang dibangun tahun 1918 itu jadi rujukan LP lain di Jawa Timur.
Seorang psikolog, Rr Ayu S Widyarini, MPsi, psikolog ramah, berdialog dengan enam napi yang duduk berjejer dihadapannya. Suasana di salah satu ruangan dalam blok rumah sakit itu, terasa ramah. Jauh dari kesan seramnya kehidupan penjara.
Ayu, panggilan psikolog itu, tak sedang menginterogasi. Ia berpraktik psikolog untuk mengidentifikasi gangguan psikologi para napi yang baru mulai menjalani masa penahanan.
‘’Saya sedang wawancara. Tujuannya untuk mengetahui apakah saat masuk, mereka memiliki gangguan atau tidak. Apakah punya kecenderungan psikologi atau tidak,’’ ucapnya ramah. ‘’Ya, untuk mengetahui tingkat kecemasan mereka,’’ sambung psikolog LP Lowokwaru ini melanjutkan obrolan.
Itulah suasana di ruangan konseling. Situasi itu, hanyalah secuil potret blok yang disulap menjadi rumah sakit mini. Tak hanya ruangan konseling, blok tempat penanganan pertama napi yang sakit itu, terbilang lengkap untuk ukuran kehidupan yang diisolir.
Klinik umum, laboratorium mini, poliklinik gigi, ruangan rawat inap, ruangan isolasi dan musala, melengkapi sarana layanan kesehatan tersebut.  Terdapat juga ruangan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).
Tujuh petugas kesehatan, disiagakan di unit kerja yang bernaung di bawah Seksi Perawatan LP Klas I Lowokwaru. Dua diantaranya dokter, seorang psikolog, petugas laboratorium dan juga perawat.
Standar pelayanan kesehatan, didesain lazimnya layanan di rumah sakit. Hanya saja, di LP memiliki standar tambahan. Yakni screening awal.
Setiap napi yang baru masuk, wajib menjalani pemeriksaan kesehatan dan tes kejiwaan. Tujuannya untuk mengidentifikasi kadar kesehatan dan penyakit yang diderita.
Aktifitas layanan di rumah sakit tersebut terbilang maksimal. Pasien yang ditangani bukan sembarang penyakit. Pada pekan lalu terdapat 16 orang pengidap HIV/AIDS jadi pasien rumah sakit LP. Mereka adalah napi yang teridentifikasi HIV/AIDS saat sebelum menjalani masa hukuman.
Terdapat pula lima pasien TBC. Pasien TBC ditempatkan di ruangan isolasi. Perawatan khusus pun diberikan oleh petugas.
Sedangkan pengidap HIV/AIDS dirahasiakan identitasnya. Tujuannya agar tak dikucilkan. Namun, ada napi pengidap penyakit mematikan itu yang sudah open. Artinya, ia sudah terbuka dan mengaku sebagai pengidap HIV/AIDS kepada sesama temannya.
Dari pengidap HIV/AIDS  yang telah open itulah, salah satu fungsi edukasi kesehatan berjalan. Ia menjalankan tugas mulia. Yakni memberi penyadaran kepada sesamanya, agar tak tertular HIV/AIDS. Dia pun mememberi edukasi kepada sesama napi pengidap HIV/AIDS agar menjalani pola hidup sehat.  
Dr Sri Wardani merupakan salah seorang dokter berdinas di LP Klas I Lowokwaru. Sri menceritakan tentang layanan kesehatan dan sederet program kesehatan yang dimiliki tempatnya mengabdi.
‘’Disini ada program penanganan pengidap HIV/AIDS, TBMDR, IMS bekerjasama dengan Puskesmas Dinoyo. Untuk VCT kami bekerjasama dengan Puskesmas Kendalsari,’’ katanya.
Alumnus FK Universitas Brawijaya ini mengatakan, unit layanan kesehatan LP Klas I Lowowkaru memang memiliki jejaring. Mulai dari sejumlah puskesmas, Dinas Kesehatan, RSSA, instasi penanganan penyakit lain.
‘’Jika mengharuskan penanganan lanjutan pasien, kami rujuk ke RSSA. Kami juga beri edukasi tentang kesehatan kepada warga binaan. Bahkan warga binaan yang akan keluar diberi pembekalan,’’ terang Sri.
Bekerja sebagai dokter di hotel prodeo, tentu berbeda dengan dokter yang bertugas di rumah sakit pada umumnya. Butuh kesabaran dan loyalitas profesi yang sesungguhnya.
‘’Butuh kesabaran. Harus stand by 24 jam. Kalau dibutuhkan tengah malam, ya harus datang,’’ ucap Sri yang sudah empat tahun bertugas di LP Lowokwaru itu dengan senyum.
Bayangkan saja, dua dokter yang bertugas di LP tersebut, harus siap melayani 1.887 warga binaan (jumlah tersebut berdasarkan data pekan lalu).  Tugas itu tentu tidak ideal sebab LP Lowokwaru sebenarnya hanya berkapasitas 936 orang.
Tak sekadar memberi tindakan medis, dokter juga harus bekerja esktra. Misalnya mendampingi dan mengingatkan napi yang sakit agar minum obat secara teratur hingga menyadarkan agar membiasakan pola hidup sehat.
Para petugas tak hanya bekerja satu bidang pekerjaan saja. Mereka terbiasa rangkap fungsi. Mulai dari bertugas sebagai paramedic, penyuluh merangkap sopir ambulan hingga menjadi penjaga.
Karena layanan maksimal dan dedikasi petugasnya, kini LP Klas I Lowokwaru menjadi jujugan atau tempat belajar LP lain di Jawa Timur. Bahkan LP Lowokwaru ikut mendongkrak penilaian penghargaan yang diraih oleh Kementerian Hukum dan HAM.
‘’Kami berusaha menjalankan tugas semaksimal mungkin. Bahkan menjadi multifungsi,’’ kata Kepala LP Klas I Lowokwaru, Drs Herry Wahyudiono, Bc.IP, SH, MH.
Herry mengatakan, layanan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Karena itu harus diperhatikan secara maksimal pula. Kendati dibayangi keterbatasan anggaran, petugasnya tetap bersemangat.
‘’Kami juga membangun jejaring yang kuat dengan instansi lain. Petugas juga diikutkan dalam pelatihan yang bersifat nasional,’’ terangnya.  
Agar layanan kesehatan lebih utuh, mantan Kelapa Lapas Narkotika Bandung ini mengatakan, pihaknya juga melibatkan keluarga napi dalam pelayanan kesehatan.  
Hingga kini semangat LP Lowokwaru memberi layanan kesehatan kepada napi tetap berkobar. Padahal anggaran kesehatan untuk warga binaan pada tahun anggaran 2014 menurun signifikan.
Untuk diketahui anggaran kesehatan LP Lowokwaru dalam DIPA tahun ini hanya sebesar Rp 54 juta. Padahal pada tahun lalu, anggaran kesehatan sebesar Rp 150 juta.
Sudah begitu mulai 1 Januari 2014, Jamkesmas khusus untuk napi sudah dihapus oleh Kementerian Kesehatan. ‘’Kami berusaha mencari solusi agar pelayanan tetap maksimal,’’ pungkas Herry bersemangat. (vandi van battu)