Ikwan Budi Laksono wasit FIFA asal Kota Batu

Memiliki bakat sebagai pemain bola tak lantas membuat Ikwan Budi Laksono merasa puas diri, meski sejak kecil dia memang hobi bermain bola dan berkeinginan membela Timnas. Namun pasca lulus kuliah, dia justru memilih banting setir atau menekuni dunia wasit. Alasannya, dia berfikir jika menjadi pemain bola stoknya sudah banyak, sehingga dia memutuskan untuk menjadi wasit dengan tujuan semata-mata ingin membenahi peraturan futsal.  

Tepat pukul 09.00 pagi sosok pria santun tampak sedang berada di halaman rumahnya, dia terlihat sedang ngobrol dengan pekerja bangunan, sesekali gelak tawa terpancar dari keduanya. Ya, dialah Ikwan Budi Laksono yang akrab dipanggil Ikwan, masih muda namun bertalenta dan cukup disegani para pemain kulit bundar terutama saat dilapangan hijau.

Berkat kegigihannya untuk menjadi wasit profesional, Ikwan kini telah mencatatkan namanya sebagai satu-satunya wasit asal Indonesia yang berlisensi FIFA Futsal. Dia mulanya mengikuti seleksi wasit FIFA tahun 2009 bertempat di Jakarta, baru sekali ikut tes ternyata pria asli Batu ini langsung diterima dan mendapatkan sertifikat  sebagai wasit FIFA, sehingga pada tahun 2011 dia melakukan registrasi ulang.

Sebelumnya, untuk mencapai prestasi tersebut, pria 30 tahun ini hanyalah wasit ditingkatan lokal. Semisal seringkali memimpin pertandingan futsal di Malang Raya dan tingkat Propinsi, baru tahuin 2010 dia diangkat menjadi wasit Indonesia Futsal League (IFL). Namun, dia juga tidak henti-hentinya selalu ikut workshop wasit ataupun pelatihan wasit sebagai bahan tambahan dalam menjadi hakim lapangan.”Saya mulai menekuni wasit sejak lulus kuliah, dan saya selalu belajar dan mencari tahu menjadi wasit profesional seperti apa,”kata Ikwan saat beberapa waktu lalu ngobrol akan perjalanan karirnya itu.

Untuk tahun ini saja misalnya, pria yang masih aktif bermain bola ini menjadi bagian dari satu diantara beberapa wasit dalam even Internasional, sebut saja Piala AFF (2012, 2013) di Thailand, dan Sea Games 2013 Myanmar. Selain itu, Ikwan juga dipercaya untuk selalu memimpin partai puncak (final) pertandingan, seperti saat Thailand vs Vietnam piala AFF tahun 2012, Australia vs Thailand piala AFF tahun 2013, serta saat Sea Games 2013 mempertemukan Thailand vs Vietnam.”Setiap wasit diberi jatah untuk memimpin pertandingan sebanyak 13 kali, dan untuk di final harus melalu uji kompetensi terlebih dahulu,”ujar pria dua anak ini dengan ramah.
Ikwan harus bersaing dengan 9 wasit dari negara lainnya untuk bisa memimpin partai final, diantaranya Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Myanmar, Vietnam dan Kamboja. Layak tidaknya wasit memimpin dipartai puncak ini dinilai dari sejak awal dia memimpin, mulai dari berapa kali melakukan kesalahan, dan berapa kali mengambil keputusan yang tepat. Serta dari satu pertandingan ke pertandingan lainnya kesalahannya tidak semakin banyak melainkan berkurang (di ranking setiap wasit). Dan dalam beberapa tahun ini, dia selalu bersaing dengan wasit asal Malaysia dan Vietnam.”Siapapun mempunyai peluang untuk memimpin partai final, asal yang dipimpin bukan tim dari negaranya sendiri,”terangnya kepada Malang Post.

Lebih jelas dia menyebut, bahwa memimpin pertandingan di Internasional lebih nyaman daripada memimpin pertandingan di negara sendiri. Pasalnya, para pemain disana lebih menghargai keputusan wasit, apalagi tidak melakukan aksi-aksi yang tidak senonoh. Tetapi, beberapa tahun terakhir ini, memang di Indonesia sudah mulai tampak fair playnya (sudah ada perbaikan).

Sayang kesuksesan mengharumkan nama negara tidak diimbangi prestasi tim futsal Indonesia, sebagaimana diketahui jika tim garuda hanya mampu bertengger di semifinal dalam perhelatan Sea Games 2013 di Myanmar beberapa waktu lalu. Sama halnya dengan tim sepakbola garuda yang hanya puas dengan medali perak.”Saya sangat berharap pada tahun lalu Indonesia mampu meraih medali, tetapi hanya puas masuk semifinal. Dan ini menjadi pelajaran berharga bagi organisasi futsal Indonesia untuk segera berbenah dan membentuk tim yang lebih tangguh,”urai pria yang masuk dua terbaik dari 10 wasit dalam Sea Games kemarin itu.

Kini, Ikwan yang juga mengajar di SMPN 2 Kota Batu dan masih aktif sebagai wasit Pengcab PSSI Kota Batu ini, ketika tidak ada even Internasional biasanya dia selalu diundang mengisi workshop wasit dan pelatihan, seperti di Jogjakarta, Bandung, Medan, dan Bontang. Selain itu, dia juga menjabat sebagai asisten wasit Indonesia dan juga wasit Asosiasi Futsal Indonesia (AFI).”Prestasi ini saya raih berkat dukungan keluarga terutama kedua orangtua, istri dan anak. Sedangkan orang yang sangat berpengaruh dalam karir saya adalah pengurus PSSI Kota Batu, seperti Zainul Arifin, Ketua KONI Kota Batu, Didik Mahmud dan pengurus olahraga lainnya,”ungkapnya sambil mengenang pihak-pihak yang mengantarkannya bisa sukses seperti sekarang.

Diapun masih memendam impian lebih tinggi, yakni menjadi salah satu wasit Word Cup 2017 nanti. Dia berharap agar bisa masuk dalam seleksi elit Refleay Futsal AFC bulan Februari mendatang.”Doakan saja semoga saya bisa lolos seleksi sebagai wasit piala dunia futsal nanti, dan dapat mengharumkan nama negara,”harapnya sambil tersenyum.(miski)