Andry Hidayat, Pengusaha yang Peduli Pendidikan Anak Inklusi

Tak banyak orang rela mengesampingkan bisnis yang ditekuninya, dan lebih mementingkan kepeduliannya terhadap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Jika hal itu terjadi, umumnya, masyarakat akan menilai, ada profit-oriented terselubung di dalamnya. Pandangan tersebut lah yang saat ini dipatahkan oleh Andry Hidayat. Pengusaha muda yang melejit dengan berbagai usaha kulinernya ini, memiliki kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan ABK.

Ditemani putra semata wayangnya, Andry Hidayat, menemui Malang Post yang sudah menunggu di kantor Little Ant Inclusion School yang ia dirikan pada 2009 lalu, di Jalan Mega Mendung, Dieng.
Setelah memperkenalkan sang putra, Nicholas, pria ramah ini buru-buru mengeluarkan setumpuk majalah ‘My Special Star’ dari laci meja kerjanya.
Majalah dengan halaman-halaman berwarna cerah tersebut, bukan majalah sembarangan. Setiap halamannya, berisi wawasan tentang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), yang dikemas dengan kreatif, edukatif dan inspiratif.
Saat ini, selain di Kota Malang sendiri, majalah yang terbit setiap tiga bulan ini, sudah didistribusikan ke Jabotabek, Palembang, Banjarmasin, Surabaya, serta Manado dan mendapat sambutan hangat di masyarakat.
Majalah tersebut, bukan satu-satunya peran Andry di bidang pendidikan inklusi. Di tengah kesibukan berbisnis, Andry tidak pernah melupakan sebuah pengalaman yang menyayat nuraninya.
Sebagai manusia, ia pernah tergugu saat melihat seorang anak dipasung oleh masyarakat desa karena dianggap gila dan berbahaya. Padahal, dalam beberapa kasus, anak dengan sifat-sifat tersebut, sama sekali tidak gila. Ia hanya mengalami sindrome tertentu yang membuatnya sulit dikendalikan.
‘’Kasus itu yang selalu melecut saya untuk membantu sebisa mungkin agar ABK tidak dianggap sampah atau anak buangan. Hal mutlak yang mereka butuhkan adalah terapi, yang biasanya tidak dikenal oleh masyarakat prasejahtera,’’ tuturnya.
Bagi masyarakat berpendidikan, menjelaskan hal tersebut tidak akan sulit. Berbeda halnya jika yang menerima penjelasan adalah masyarakat awam, yang pendidikannya sebatas mampu membaca dan menulis, tentu bukan perkara mudah.
‘’Secara umum, yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memberi terapi kepada putra ABK mereka adalah masyarakat menengah ke atas. Sedangkan masyarakat menengah ke bawah, selain kurang pengetahuan tentang ABK, juga terkendala biaya. Hal ini tengah kami garap dengan serius,’’ lanjut Andry.
Keseriusan Andry, dibuktikan dengan berbagai upaya yang dia lakukan dengan Little Ant Inclusion School. Di antaranya, selain pembuatan majalah, dia membuat terobosan dengan mendirikan Vocational Inclusion School (VIS) di tubuh Little Ant sendiri.
Selama ini, Andry melihat terapi yang dilakukan orangtua maupun sekolah, hanya hingga usia remaja. Setelah itu, tidak ada jalan lagi untuk mengarahkan mereka ke karir yang sesuai.
Menyadari hal tersebut, Andry pun menggaet beberapa perusahaan seperti perusahaan konveksi dan kuliner milik rekan bisnisnya, untuk menjadi mitra Little Ant dalam penyaluran tenaga kerja.
‘’Sepengetahuan saya, Little Ant adalah satu-satunya Vocational School khusus siswa inklusi di Kota Malang. Meski memulai dari nol, kami mampu membuktikan bahwa siswa inklusi dapat meniti karir di perusahaan,’’ tuturnya bangga.
Di bidang seni, pria yang berulang tahun setiap 14 September ini menggembleng siswa inklusinya untuk menyalurkan bakat seni tari, rupa, dan musik. Tak tanggung-tanggung, hasil lukisan siswa Little Ant mendapat kesempatan pameran seni di Grand City Surabaya. Hasilnya pun tak mengecewakan. Beberapa hasil lukisan siswa yang dilelang dengan harga tinggi, diburu kolektor hingga akhirnya jatuh ke tangan kolektor seni rupa terpandang di Kota Pahlawan.
Melihat kesuksesan yang diraih siswanya, dikatakan Andry adalah kebanggaan tersendiri. Terlebih lagi, proses terapi yang mereka lakukan sebagian besar tidak dengan kocek sendiri.
Dengan taraf ekonomi siswa Little Ant yang beragam, Andry harus pandai-pandai menyisihkan pendapatan sekolah dan menggaet donatur agar terapi siswa bisa berjalan optimal.
‘’Karena kami sama sekali tidak tersentuh pemerintah, kami memaksimalkan anggaran yang ada dan dibantu donatur independen. Saat ini masih ada sekitar 30 siswa prasejahtera yang indent menunggu jadwal terapi,’’ ujar suami dari Mei Ling tersebut.
Sebagai lembaga mandiri, Andry tak mengelak bahwa Little Ant membutuhkan support dari orangtua, praktisi serta pemerhati autisme. Karenanya, ia juga memaksimalkan peran Parent Support Group (PSG) yang aktif mengadakan gathering setiap dua bulan. Dari sana, biasanya tercetus usulan-usulan untuk menyelenggarakan event-event autisme. Misalnya, kunjungan ke rumah Ibu Wali Kota Malang  hingga kunjungan ke perpustakaan belum lama ini.
Selain itu, ia juga menggandeng mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) yang ingin berkecimpung di dunia autisme untuk terjun langsung di Little Ant Inclusion School.
‘’Saat ini yang tengah kami garap selain VIS adalah home schooling bagi masyarakat yang kesulitan untuk mengantar putra mereka ke sini. Baik karena kendala biaya maupun karena kendala lain,’’ tutur Andry.
Selanjutnya, pria yang gemar melakukan meditasi Bhuddist ini juga membeberkan rencananya untuk merangkul ABK lebih luas lagi dengan mendirikan inclusion boarding school atau sekolah berasrama khusus siswa inklusi pertama di Kota Malang.
‘’Kami sedang mencari lahan yang cukup luas dan strategis untuk perkembangan biologis dan psikologis siswa. Dengan boarding school, pola hidup mereka lebih mudah kami pantau, sebab lifestyle juga mempengaruhi hasil terapi,’’ tutur pria bermata sipit ini. (laili salimah)