Ketua RW yang Penemu Energi Terbarukan

Segudang prestasi yang diraih dalam dua tahun terakhir, tak membuat HM Ayyub, merasa puas. Belum cukup menghasilkan penemuan inovatif terkait pemanfaatan gas metan dan penanggulangan sampah, menjadi bahan bakar ramah lingkungan, Ketua RW XIII Bunulrejo itu, kini sudah menyiapkan satu energi terbarukan paling gres. Bioetanol.

BAU menyengat, tercium dari dalam botol berisi cairan bening. Mirip minyak gas, yang disodorkan Ayyub kepada Malang Post. Belum hilang aroma pekat itu dari hidung, bapak tiga anak itu, sudah menyodorkan satu botol lainnya. Sekilas, baunya mirip. Tapi, tidak terlalu menyengat seperti bau cairan di botol pertama.
Sejurus kemudian, pria paro baya yang masih tampak bugar itu, mengeluarkan kompor berdesain sederhana. Menuangkan sedikit isi botol berisi cairan tersebut ke dalamnya. Sekejam kemudian, api sudah berkobar begitu Ayyub memantik korek di atasnya. ‘’Ini cairan bioetanol produksi saya sendiri. Coba diamati, apa bedanya dengan minyak gas atau elpiji,’’ tanyanya melontarkan rasa penasaran.
Cairan bioetanol memang berbeda. Selain tidak berbau, api yang dihasilkannya juga tidak menyebabkan hangus. Bioetanol sendiri merupakan salah satu bentuk energi terbarui, yang dapat diproduksi dari tumbuhan.
Etanol dapat dibuat dari tanaman-tanaman yang umum. Seperti kentang, singkong, jagung dan tebu. Memanfaatkan tetes tebu, pria asal Jalan Aris Munandar itu sukses mengembangkan inovasi mutakhir.
Ayyub kemudian mengajak Malang Post ke bengkel produksi, yang berada persis di samping rumahnya, Jalan Imam Bonjol 35. Di lahan kosong itulah, selama ini pria lulusan Unmer tersebut bereksperiman dan mengujicobakan temuannya. Termasuk mengolah gas metan menjadi energi alternative, yang sukses menarik perhatian nasional. Termasuk membuat Menteri Lingkungan Hidup, Belthasar Kambuaya datang ke Malang.
Di sebuah bilik mirip gudang yang ada di sana, rupanya tersimpan sebuah alat pengolah limbah yang tengah difungsikan. Corongnya menjulang tinggi ke atas, melebihi atap bangunan. Kira-kira setinggi 10 meter.
‘’Ini lebih seperti tungku-tungku pengolah tetes tebu. Setelah proses fermentasi, lalu dites kadarnya untuk diubah menjadi bioetanol. Dari tungku pertama sampai ke pipa berisi batu suloid, tetes tebu ini diolah dari bioetanol berkadar 50 persen menjadi 90 persen. Kalau sudah mencapai 99,9 persen, sudah bisa menghidupkan mesin seperti halnya bensin,’’ urainya.
Faktanya, etanol sebagai unsur utama bioetanol, memang seringkali dijadikan bahan tambahan bensin sehingga menjadi biofuel. Pada tahun 2010, produksi etanol dunia mencapai angka 22,95 miliar galon AS (86,9 miliar liter), dengan Amerika Serikat sendiri memproduksi 13,2 miliar galon AS, atau 57,5 persen dari total produksi dunia.
Energi terbarukan ini, mempunyai nilai ekuivalensi galon bensin sebesar 1.500 galon AS. Kebanyakan mobil-mobil yang beredar di Amerika Serikat saat ini, dapat menggunakan bahan bakar dengan kandungan etanol sampai 10 persen dan penggunaan bensin etanol 10 persen malah diwajibkan di beberapa kota dan negara bagian AS.
Perlu diketahui, etanol diproduksi dengan cara fermentasi mikroba pada gula. Fermentasi mikroba saat ini, hanya bisa dilakukan langsung pada gula.
Dua komponen utama dalam tanaman, yakni amilum dan selulosa, dua-duanya terdiri dari gula dan bisa diubah menjadi gula melalui fermentasi. Sekarang ini, hanya gula, seperti pada tebu dan amilum, seperti dimiliki jagung, yang masih bernilai ekonomis jika dikonversi.
Etanol mengandung bahan-bahan yang dapat larut dan tidak dapat larut. Tak hanya hasil fermentasinya saja yang punya nilai ekonomis, Ayyub memastikan ampasnya juga tak kalah bermanfaat.
‘’Justru limbah bioehanol ini kalau disiramkan ke lokasi TPA, maka bisa mempercepat proses gas metan. Mempercepat pembusukan dan menghilangkan bau sampah. Kalau kaliumnya bisa menyuburkan tanah,’’ papar pria yang sejatinya lulusan sarjana hukum ini.
Lalu, apa yang menginspirasi Ayyub untuk mengembangkan energi terbarukan yang belum banyak dikelola masyarakat ini. ‘’Kita sudah harus menuju ke tahap revolusi energi. Jadi mulai mempersiapkan jika nanti pemanfaatan energi fosil sudah tak maksimal. Selain itu, prinsip saya adalah menularkan ilmu dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Itu termasuk ibadah,’’ imbuh pria kelahiran 7 Januari 1962 ini kepada Malang Post.
Tentu saja, inovasi pengelola Toko Emas Sultan II ini bakal melengkapi sederet temuan inovatif yang lebih dulu dikemukakannya. Wali Kota Malang, HM Anton bahkan bersiap mensupport penuh penelitian dan kegiatan pengolahan yang dilakukan Ayyub.
Usai menerima penghargaan atas kiprah membanggakannya di sela Festival Ngalam Ijo di Kantor DKP, Selasa (7/1) lalu, pria 52 tahun itu berkesempatan memberi paparan di hadapan walikota.
‘’Beliau (wali kota, Red.) merespon positif dan bersiap memback up. Beliau berharap ada langkah konkrit lanjutan dari saya dalam waktu dekat. Tentunya ini semua bertujuan demi kepentingan yang lebih besar," pungkasnya antusias. Hanya saja, sementara ini Ayyub belum berpikir memasarkan produknya secara massal. (tommy yuda pamungkas)