Sananjaya, Tempat Usaha Didedikasikan untuk Purnawirawan

Banyak pebisnis luar kota, bermunculan di Kota Malang. Diantaranya, Sananjaya yang dimiliki orang luar kota. Namun yang membuat berbeda, bisnis yang bergerak di bidang pusat oleh-oleh itu, dikelola Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Indonesia (Pepabri), pensiunan yang terkadang kini dilupakan dan juga peduli pada industri rumah tangga di Malang Raya.

Lokasi Sananjaya, terletak di area tanah milik DPC Pepabri Kota Malang. Di Jalan Panglima Sudirman. Tepat di sisi paling utara sisi barat kompleks militer Bela Negara.
Sekilas pasti banyak yang menduga, usaha tersebut milik Pepabri Malang. Namun ternyata, milik seorang yang berdomisili di Jakarta bernama Afdal Damanhuri.
Pengelola Sananjaya, Machmud Ariad mengakui, pusat oleh-oleh tersebut, dimonitor jarak jauh. Hanya sesekali sang owner mengecek, untuk melihat perkembangan dan juga rencana ekspansi. ‘’Pemiliknya tinggal di Jakarta. Namun dia sangat cinta dengan Malang dan ingin mengembangkan bisnisnya di sini,’’ terangnya.
Menurut Machmud, secara yuridis lokasi tersebut memang milik Pepabri. Tetapi secara de facto berdasarkan MoU yang telah disepakati, dikuasai oleh Sananjaya. Istilah kasarnya, owner menyewa kepada Pepabri dalam jangka waktu tertentu.
‘’Waktunya sekitar 20 tahun. Perjanjiannya diantaranya, perbulan kami menyisihkan sebagian keuntungan untuk khas Pepabri. Yang jelas di atas Rp 2 juta, dan akan direvisi setiap dua tahun,’’ beber dia kepada Malang Post.
Dia mengungkapkan, Afdal sang owner, tidak ada latar belakang pensiunan Pepabri. Hanya saja, dia mempunyai hati dan peduli dengan kumpulan orang-orang tua yang terkadang sudah dilupakan keberadaannya. Bahkan salah satu cita-cita besar Afdal, menjadikan Pepabri Kota Malang sebagai percontohan di wilayah lain.
Malang Post beruntung bisa bertemu dengan sang owner ketika melakukan kunjungan singkat ke Malang. Bila di Malang, Afdal menginap di Hotel Megawati yang lokasinya sekitar 100 meter dari tempat usahanya. Kesan malu-malu langsung dia tunjukkan.
Begitu ngobrol, Afdal ternyata mengakui sudah sejak tahun 1993 memiliki bisnis di Kota Malang. ‘’Waktu itu di bidang garmen, lokasinya di kawasan Alun-alun Merdeka, tetapi sekarang sudah tidak,’’ beber Afdal.
Pria berusia 64 tahun ini kemudian menceritakan mengenai misinya dengan Sananjaya. Saat ini, memang masih berupa pusat oleh-oleh, tetapi tidak lama lagi di lokasi yang sama sudah merambah kuliner.
Menurutnya, sekitar sebulan lagi sudah beroperasi. Salah satunya, mengandalkan Bakso Presiden dan Rawon Mamik. Dua jenis makanan ini menurut pria ramah tersebut masih tenggelam ketimbang merek lain.
Sementara itu untuk pusat oleh-oleh, dia mengakui bekerjasama dengan 200 suplier. Jumlah tersebut, 90 persen diantaranya merupakan makanan buatan usaha kecil dan menengah (UKM) atau industri rumah tangga. Lalu, 75 persen dipastikan produk lokal Malang Raya yang tersebar di Kota Malang, Batu dan juga Kabupaten Malang.
‘’Kami hanya memberi space 10 persen untuk industri besar, untuk melengkapi produk. Memang konsen Sananjaya ini untuk mengembangkan potensi lokal pula,’’ beber dia.
Sebab menurut pria kelahiran Bukit Tinggi, Sumatra Barat ini, ada rasa puas tersendiri, ketika supplier ‘kecil’ datang menyerahkan barangnya atau mengambil uangnya. Jumlahnya tidak begitu banyak, bahkan tidak jarang hanya mengambil uang Rp 300-400 ribu dari hasil barang yang dititipkan tersebut.
‘’Melihat mereka menghitung sisa barang, hasil atau uangnya, serta kembali lagi untuk menitipkan barang menjadi kepuasan tersendiri. Jadi potensi keripik tempe, keripik buah, dan usaha kecil lainnya masih tetap hidup, meski harus bersaing dengan industri yang besar,’’ tegasnya.
Selain itu, dengan Sananjaya yang kini beromzet sekitar Rp 3 juta per hari ini, dia ingin membuktikan Pepabri bisa hidup terus untuk menjalankan roda organisasi.
Selama ini, persatuan pensiunan tersebut berkumpulnya sebulan sekali, untuk menerima dana yang tidak begitu besar. Sehingga terkadang bingung ketika ingin menggelar acara atau bahkan sekedar peduli dengan sesama yang sudah renta dan terserang sakit. ‘’Sekarang, kan sudah ada pemasukan yang jelas,’’ imbuh pria yang gemar mempelajari sejarah Majapahit ini.
Dia menyebutkan, disamping sebagian hasil dari omzet Sananjaya, selanjutnya khas Pepabri juga terus bertambah dengan lahan parkir serta adanya mesin ATM yang kini ada di lokasi. Belum lagi, bila dalam waktu dekat resto dan juga travel agent mulai beroperasi.
‘’Bisa disebut seperti jargon Pepabri, yakni pengabdian tiada henti. Kami berinovasi tiada henti, hingga akhirnya usaha ini menjadi bisnis one stop shopping. Sebab ujungnya nanti harus berdiri pula penginapan untuk melengkapi. Boleh kan saya juga peduli kepada mereka tiada henti, melalui keberadaan usaha ini,’’ pungkas dia. (Stenly Rehardson)