Melihat Museum Pendidikan di Kota Malang

KOTA Malang memiliki museum pendidikan, yang kini menjadi favorit siswa untuk belajar sejarah masa lampau. Meski koleksi didalamnya masih belum banyak, namun museum ini telah memiliki sejumlah koleksi yang cukup langka. Apa saja benda-benda istimewa itu? 

Lokasinya berada di kawasan Malang International Education Park (MIEP) Tlogowaru. Tepatnya disamping kampus Poltekom. Dari luar bentuk bangunannya tak jauh beda dengan gedung biasa, tapi di dalamnya menyimpan banyak benda berharga.
Pertama kali memasuki ruangan museum, pengunjung bisa melihat beragam koleksi yang tertata rapi. Pandangan pertama yang menarik perhatian, adalah koleksi foto kepala daerah Malang sejak masa Bussemaker hingga Peni Suparto.
Di samping kanan kiri, berderet manekin anak-anak mengenakan baju adat berbagai daerah. Ada baju adat Nusa Tenggara Barat, Maluku, Aceh dan daerah lainnya.
Masuk lebih dalam, ada banyak hal menarik yang bisa dilihat. Salah satunya adalah Sabak. Ipad atau tablet adalah alat komunikasi yang lazim dikenal masyarakat masa kini, tapi tak banyak yang tahu bahwa alat tersebut pernah sangat populer di masa lampau. Pada zaman dulu, orang mengenal Sabak sebagai alat tulis.
Bentuknya mirip ipad atau tablet. Tapi fungsinya hanya untuk menulis saja. Alat tulis kuno itu, adalah salah satu koleksi yang bisa dilihat di museum pendidikan Kota Malang.
Sabak terbuat dari batu yang sekarang berkembang menjadi buku dan grip merupakan anak batu tulis untuk menulis di sabak. Itulah alat tulis menulis zaman itu. Sama sekali belum dikenal buku tulis dan pensil.
Tulisan pada sabak dengan mudah dapat dihapus, sehingga alat tersebut bisa digunakan secara berulang-ulang.
‘’Sabak dan grip ini, dulu dipakai di sekolah. Anak-anak zaman sekarang tentu tak banyak yang tahu bagaimana bentuknya. Kami siapkan di museum ini untuk pengetahuan mereka,’’ ungkap Kepala Museum Pendidikan Kota Malang, M Shodiq kepada Malang Post.
Di tengah-tengah ruangan ada beberapa meja tua yang diatasnya terdapat sejumlah mesin ketik kuno. Di sudut kiri ruangan, terdapat manekin orang dewasa yang merupakan gambaran baju dinas guru dari masa ke masa.
Mulai dari guru berbaju kebaya, guru dengan baju kolonial, hingga guru dengan baju seragam PNS masa kini. Di samping manekin guru, berderet bangku dan meja sekolah.
Bangku-bangku ini berbeda dari yang lazim dijumpai saat ini, dimana kursi dan bangku menyatu dengan meja yang lebar. Bangku sekolah ini didapatkan oleh tim Dikbud Kota Malang saat hunting ke pelosok daerah.
Salah satu anggota tim tersebut adalah Denny Hastuti, kasi fungsional Tenaga Kependidikan. Menurutnya proses hunting itu dilakukannya dengan blusukan ke desa-desa terpencil khususnya di Malang Raya.
‘’Bangku sekolah itu saya dapatkan dari sekolah yang sudah tutup, ternyata masih menyimpan bangku model zaman Belanda,’’ ujar Denny.
Proses berburu barang kuno tersebut, menurut Denny, dilakukannya dari rumah warga ke rumah warga. Ia sengaja tidak melibatkan makelar atau kolektor supaya mendapatkan barang dengan harga yang tidak mahal.
Seperti saat ia menemukan sepeda onthel khas zaman Belanda yang dulu dipakai guru pulang dan pergi sekolah. Kekhasan sepeda itu terlihat dari tempat air minum yang menempel di sepeda dengan tempat barang di kanan dan kiri sepeda.
‘’Saya waktu itu bertemu tukang sabit rumput di Karangploso, saya tawar diberikan Rp 475 ribu. Waktu saya bawa di atas pick up ada orang di jalan yang menawar dua kali lipat,’’ kenangnya sambil tertawa kecil.
Benda-benda khas lainnya yang ada di museum itu seperti lampu berbagai zaman mulai dari cempluk, ublik hingga lampu tempel. Ada juga keramik berbagai masa sebagai simbol perkembangan Kota Malang.
Keramik ini salah satunya didapatkan dari istri wali Kota Malang tahun 1998-2003, Suyitno. Benda bersejarah milik keluarga Rokok Djagung, yaitu sebuah telepon kuno juga menghiasai musium ini.
‘’Kami sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin menambah koleksi museum kami, karena keberadaan museum ini ditujukan untuk pendidikan,’’ ujar Kepala Dikbud Kota Malang, Dra Sri Wahyuningtyas M.Si.
Yuyun, panggilan akrab Sri Wahyuningtyas juga beberapa kali sengaja hunting untuk melengkapi isi museum ini. Ia pernah mendapatkan sebuah sepeda mini kuno yang dibeli dengan harga jutaan rupiah.
Ia berharap museum ini selalu ramai dengan kunjungan siswa. Baik dari Kota Malang hingga luar kota seperti Pasuruan, Sidoarjo dan lainnya.
Karena itu koleksi museum akan terus ditambahkan, termasuk keinginan untuk melengkapi museum dengan koleksi baju adat yang bisa dipakai oleh pengunjung dan kemudian mengabadikannya. Studio foto itu kedepan akan melengkapi keberadaan museum sebagai sarana pendidikan dan hiburan bagi warga Malang. (lailatul rosida)