Ikut Bantu Pendapatan Klub, Paling Susah Urusi LCA

Mereka yang di Balik Layar Membangun Citra Arema

Media Officer, memegang peranan penting dalam membesarkan imej dan citra sebuah klub sepakbola. Arema memiliki sosok penting bernama Sudarmaji. Namun, rupanya ada sosok penting lainnya, yang lebih sering tampil di muka publik. Merekalah para staf Media Officer, yang ikut bekerja keras membangun citra Singo Edan.
Sudarmaji, sudah dikenal secara nasional sebagai Media Officer dari klub kebanggaan Malang, Arema Cronus. Namanya sering muncul di media-media lokal dan nasional, sebagai representasi citra manajemen klub Singo Edan.
Sosoknya sering nampang di koran serta televisi sebagai wakil manajemen, untuk memberi pernyataan terkait semua tentang Arema.
Namun demikian, tidak banyak yang tahu bahwa tugas dari Media Officer, bukan hanya sekadar muncul di koran atau televisi, untuk beri pernyataan dan konfirmasi soal berita Arema. Departemen Media Officer, khususnya Arema, adalah bagian penting manajemen untuk menjaga citra Arema di mata publik.
Itu berarti, termasuk membuat website resmi tim, menyebar brand image seperti brosur, baliho dan iklan, serta spanduk-spanduk di jalanan. Demi mengerjakan hal seperti ini, Sudarmaji tak mungkin bekerja sendiri.
Ia didukung oleh delapan staf Media Officer yang bekerja di balik layar untuk membuat, menjaga serta mempertahankan brand image Arema di hadapan para fans.
Delapan orang tersebut adalah Rahmat Taufiq (Oyex), Taufik Soleh, Ovan Setiawan, Riyan Meidi Wijaya, Ignes Kharisma, Ardhisa Rika YP, Yuwono Kristanto dan Heru Tri Mulyono. Menariknya, sebagian staf departemen Media Officer, mereka justru sama sekali tak memiliki latar belakang ilmu jurnalistik maupun media.
Taufik Soleh, awalnya adalah bagian dari equipment Arema. Tapi akhirnya diperbantukan ke departemen Media Officer sebagai fotografer. Taufik Soleh (37 tahun), mempelajari fotografi secara otodidak sejak tahun 2010. Riyan Meidi WIjaya (31) mempelajari manajemen media dari Sudarmaji, bukan di bangku kuliah.
Riyan adalah seorang sarjana teknik sipil. Ada juga Rahmat Taufiq alias Oyex (31), yang juga seorang lulusan Teknik Sipil ITN Malang. ‘’Sebagian staf departemen Media Officer, belajar soal media dan jurnalistik secara otodidak. Sebab, yang profesional sudah diambil oleh koran dan media besar,’’ terang Sudarmaji sambil tersenyum.
Oyex, staf Media Officer Arema sendiri mengungkapkan, dirinya sama sekali tak punya dasar ilmu jurnalistik maupun manajemen media. ‘’Saya masuk Media Officer Arema, awalnya freelance. Saya sama sekali buta soal jurnalistik maupun manajemen media. Awalnya saya ingin belajar motret olahraga,’’ tutur Oyex kepada Malang Post.
Malah, Oyex adalah seorang sarjana Teknik Sipil angkatan tahun 2000 dari ITN Malang. Sampai sekarang pun, di sela kesibukannya di Arema, ia masih menggarap proyek pembangunan di Malang maupun luar kota. Ia sendiri terlibat dalam departemen Media Officer Arema sejak tahun 2010.
Pria berusia 31 tahun ini mengungkapkan, keaktifannya di Media Officer Arema, didasari oleh rasa cinta kepada Arema. Ia tak memiliki niatan lain. Ia juga tak menjadikan Arema sebagai mata pencahariannya. Baginya, bekerja di proyek adalah profesi. Bekerja di Arema adalah dedikasi.
‘’Kalau di Arema, saya tak memikirkan gaji. Karena apa yang saya dapat dari profesi saya di proyek, lebih besar dari yang saya terima dari Arema. Sebaliknya, saya mikir apa yang bisa saya beri untuk Arema. Ya dengan aktif di Media Officer Arema ini,’’ tutur pria berkulit sawo matang itu.
Oyex sendiri mengaku, bekerja di Media Officer Arema adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga. Dia mendapatkan banyak ilmu yang tak didapatkannya di pekerjaan rutinnya sebagai broker proyek pembangunan. Ternyata, Media Officer Arema tak hanya soal ngopeni kartu pers wartawan yang ingin liputan ke Arema.
‘’Keliru kalau bilang Media Officer cuma ngurusi wartawan, serta bikin statement. Media Officer Arema harus desain semua poster dan iklan Arema di jalanan, urusi web resmi, twitter dan facebook. Bersama panpel, kita juga susun maket untuk laga home,’’ terang Oyex.
Media Officer bersama panpel, ikut mengatur penempatan tribun wartawan, jalan keluar masuk untuk tim di stadion sampai mengurus press conference serta mix zone.
Menurut Oyex, pengalaman paling berat selama membantu Sudarmaji di Departemen Media Officer adalah menghandle pertandingan Liga Champion Asia.
‘’Kerja paling berat Media Officer adalah saat LCA. Match Commisioner sangat rewel, persyaratan sebuah pertandingan LCA sangat detail dan terstruktur. Kita bakal mengulangi kerumitan ini saat AFC Cup. Standar LCA dan AFC Cup sama rewelnya,’’ tegasnya.
Bahkan, tak hanya sekadar menjadi departemen publikasi dan manajemen pencitraan, Media Officer Arema juga dituntut untuk menghasilkan profit dan pendapatan bagi Arema. Dengan jumlah staf yang banyak, yakni 8 orang, tentu saja harus ada kontribusi nyata buat perkembangan klub.
Tak heran, Akademi Arema sekarang juga dihandle oleh Media Officer Arema, untuk menjadi salah satu pos pemberi pendapatan buat klub. ‘’Sejak awal kita sudah tekankan bahwa Akademi Arema adalah profit oriented. Media Officer dibebani tugas untuk membantu pendapatan tim, karena itu kita mengelola Akademi,’’ terangnya. (fino yudistira)