Angkat Kisah Warokka, Pahlawan Laut Asal Malang

Tak banyak yang tahu, salah satu pahlawan dalam perang laut pertama Indonesia, adalah Arek Malang. Namanya Kapten Laut Albert Warokka, yang besar di Lingkungan Rumah Sakit Jiwa lawang. Sejarah A. Warokka ini berhasil ditelusuri dan ditulis bukunya, oleh Seksi Intel (Sintel) Lanal Malang.

Buku karya Sintel Lanal ini, berjudul : ‘’Siapa Kapten Laut A. Warokka.’’ Ditulis Pasintel Lanal, Kapten R. Didik Purwanto dan anggota Sintel, Erry Endyanto. Buku ini, memperkaya sejarah angkatan laut Indonesia, sekaligus menjadi kado hari Dharma Samudera, yang jatuh 15 Januari lalu.
Hari Dharma Samudera itu, dilatarbelakangi pertempuran hebat Komodor Yos Sudarso di laut Aru. Sedangkan buku Kapten Laut A, Warokka, mengungkap pertempuran laut pertama Republik Indonesia di selat Bali.
Warokka gugur dalam pertempuran laut di Selat Bali, ketika membantu pasukan I Gusti Ngurah Rai. Pertempuran laut pertama itu, telah dibukukan oleh Mabes TNI AL dengan judul Pasukan M (Markadi Pudji Rahardjo). Dalam buku itu, disinggung peran Warokka.
Pertempuran laut pertama dalam sejarah RI itu, terjadi Maret sampai dengan April 1946. Ketika itu, armada laut RI yang berpusat di Malang, menyerang Belanda di Pulau Bali. Pihak angkatan laut mengirim tiga gelombang pasukan.
Gelombang pertama dipimpin Kapten Laut Albert Warokka, mengambil sasaran pantai utara Bali. Kemudian gelombang kedua dipimpin, I Gusti Ngurah Rai dengan sasaran pantai selatan Bali. Adapun gelombang ketiga dipimpin Kapten Laut Markadi (Pasukan M) dengan sasaran pantai tengah Bali.
‘’Penelusuran buku ini memakan waktu tiga sampai empat bulan. Mulai dari RJS Lawang, Banyuwangi serta adik kandung A. Warokka yakni ibu Nelly Warokka yang masih hidup di Jalan Sulfat Agung Malang,’’ urai Kapten R. Didik Purwanto kepada Malang Post.
Kata Didik, dia dan stafnya, baru pertama kali ini menulis buku. Meski mengaku masih buta penulisan, namun semangatnya untuk menelusuri sejarah Warokka sangat kuat. Hal itu dilatarbelakangi kedatangan tim dari Mabes AL Jakarta yang akan menulis buku Pasukan M.
‘’Pada buku Pasukan M, lebih banyak menulis peran Kapten Markadi, kami kemudian terinspirasi untuk menulis Kapten Warokka. Ya, karena beliau besar di Malang,’’ jelasnya.
Menelusuri data adalah proses pertama yang dijalani Didik dan Erry. Selama berbulan-bulan, mereka harus menyesuaikan dengan ritme kedinasan di Lanal Malang. Data diperoleh, kesulitan kedua adalah menulis menjadi sebuah buku.
‘’Untuk data, kami harus bolak-balik melakukan verifikasi, karena menulis buku ini harus sesuai fakta,’’ terang pria yang pernah bertugas di KRI TMR-514 ini.
Nama Kapten Laut Albert Warokka sejatinya sudah dikenal di Lawang, Banyuwangi dan Bali. Di ketiga daerah ini, namanya sudah diabadikan sebagai nama jalan. Di Banyuwangi nama jalannya di belakang gedung DPRD, di Lawang berada di dekat pintu masuk Rumah Sakit Jiwa.
‘’Saat melacak ke Lawang, ternyata warga hanya tahu bahwa Warokka itu pejuang. Tapi mereka tak tahu pejuang dalam hal apa,’’ imbuh suami Margiyanti ini.
Titik terang kediaman Warokka di Lawang, baru didapat Didik dan Erry dari Muhammad Nur, tak lain adalah Kepala Museum RSJ Lawang. Dari sinilah, data-data lain diketahui, termasuk alamat adik kandung Warokka, yakni Nelly Warokka.
Sesuai penelusurannya, Kapten Laut Warokka bersama sejumlah perahu bertolak ke Bali pada 3 April 1946. Pasukan ini naik tiga perahu nelayan jenis mayang, telapak dan jukung. Pasukan Warokka sendiri mendekati tanjung Gondol sekitar pukul 04.00.
Tiba di darat, mereka kemudian membantu pemuda Bali untuk bertempur merebut wilayah Seririt. Beberapa hari bertempur dengan persenjataan terbatas, nyali mereka tetap besar. Kemudain diputuskan untuk mengambil senjata kembali ke Banyuwangi.
‘’Pada saat ke Banyuwangi ini, naik dua perahu nelayan. Perahu pertama ditumpangi Warokka bertemu patroli Belanda,’’ jelas pria yang pernah berdinas di berbagai Lanal ini.
Terjadi pertempuran dan Warokka gugur. Dari seluruh pejuang di perahu itu, hanya satu yang berhasil lolos yakni I.G.M Wijono. Adapun perahu lainnya juga tererat arus, dan hanya satu yang hidup yakni Kamdi.
‘’Setelah pasukan Warokka ini, baru gelombang kedua I Gusti Ngurah Rai, gelombang ketiga pasukan M yang menang dalam pertempuran laut melawan Belanda,’’ tandasnya.
Albert Warokka sendiri lahir di Jatiroto Lumajang, dengan 11 bersaudara. Ayahnya adalah Yohanes Warokka, asal Amurang Manado dan berdinas di Perkebunan Jatiroto kemudian pindah ke Sumberporong bertugas di RSJ Lawang. Ibunda Warokka bernama Armini, asli Desa Wonokitri Kecamatan Dampit Kabupaten Malang.
‘’Buku ini adalah untuk menggali sejarah pejuang laut dari Malang, namanya belum banyak yang tahu,’’ ujar Komandan Lanal Malang Kolonel Laut Syamsul Rizal SH MM.
Menurut Danlanal, nilai sejarah di dalamnya bisa menjadi bahan studi untuk siswa. Untuk itu, rencananya, jika selesai cetak bakal disumbangkan kepada siswa. Sasarannya adalah sejumlah sekolah di Malang.
‘’Agar siswa yang notabene asli Malang, bisa mengetahui bahwa pahlawan yang gugur dalam perang laut pertama dalam sejarah Republik Indonesia berasal dari Malang,’’ tandasnya. (Bagus Ary Wicaksono)