Mantan Aktivis Aceh Dirikan Sekolah Gratis

Masih banyaknya anak bangsa, yang tidak dapat mengenyam pendidikan, karena keterbatasan ekonomi. Fakta itu membuat mantan aktivis ini, mendirikan sekolah gratis bagi anak miskin dan yatim piatu. Dia adalah Habib Maulana, pengasuh pondok pesantren Al Hidayah Kota Batu.

Suasana malam yang sangat dingin itu, tak membuat anak-anak di pondok pesantren Al Hidayah, menghentikan aktivitasnya. Jam sudah pada titik 21.00, mereka masih ngobrol dan aktif mempersiapkan diri, untuk tampil dalam perayaan HUT salah satu tempat wisata di Kota Batu,. Kebetulan mereka salah satu sekolah yang diundang dalam acara tersebut.
Diantara anak-anak itu, tampak laki-laki berusia 31 tahun, m Mmakai kopiah. Dia yang cukup disegani di sekolah tersebut, sedang memberikan arahan serta meminta harus berlaku sopan dan baik saat menghadiri undangan.
Tidak terlalu lama kemudian, pria yang akrab dipanggil Habib ini, menghampiri Malang Post. Mengajak melihat setiap sudut sekolah yang kini masih dalam tahap pembangunan. Setelah itu, baru dia mengajak ngobrol di gazebo, di halaman depan sekolah ini.
‘’Pembangunannya dikerjakan siang malam. Supaya lekas selesai dan santri dapat beraktivitas normal. Tahun ini kami dapat bantuan lagi,’’ katanya sambil menggendong anak pertamanya, mengawali obrolan malam itu.
Setelah pulang dari Aceh, Habib mencoba mengakses program Australia, yang menghibahkan dana untuk 500 pondok pesantren dibidang pendidikan setingkat madrasah. Program itu,  Australia Indonesia Basic Education Program (AIBEP). Dan Al Hidayah merupakan salah satu pesantren yang mendapatkan hibah tersebut.
Proses pembangunan gedung MTs di kompleks pondok pesantren itu, dimulai sejak 2009. Awal 2010 baru selesai. ‘’Kami dapat bantuan Rp 724 juta dari Pemerintah Australia. Namun, bantuan tersebut hanya berupa bangunan, bukan untuk keseluruhan,’’ ujarnya.
Diakuinya, sebelum ada MTs di pondok pesantrennya, terlebih dahulu sudah tersedia Madrasah Ibtidaiyah (MI). Pertama kali, siswa yang masuk MTs, ada 14 orang. Saat ini sudah ada 36 siswa.
‘’Sejak 2004, sudah ada MI. Saya serahkan ke adik saya untuk mengurus, karena saya berangkat ke Aceh. Sepulangnya baru saya seriusi untuk membangun sekolah dalam pesantren yang gratis,’’ aku pria yang juga mantan relawan Aceh ini.
Saat ini MI dan MTs satu atap Al Hidayah ini, sudah dapat menampung 116 santri. Semuanya gratis. Mulai dari biaya sekolah, makan, tempat tinggal serta pakaian.
Siswanya, tidak hanya dari Kota Batu. Tapi ada dari Blitar, Bondowoso, Madura, Purwakarta, Bali, Lampung dan Kalimantan Barat, serta satu orang dari Ternate.
‘’Sejauh anak tersebut memenuhi syarat, seperti secara ekonomi tidak mampu, putus sekolah dan anak yatim, baru bisa sekolah disini. Berbeda dengan sekolah negeri yang lebih mengutamakan kualitas siswa untuk tesnya,’’ ungkapnya.
Untuk memenuhi kebutuhan setiap harinya, lanjut Habib yang juga Ketua ISNU Kota Batu ini, selama ini dibantu oleh masyarakat Batu. Baik itu pedagang bunga, guru, petani dan masyarakat lainnya. Bantuan bisa berbentuk beras, minyak goreng, mie dan kebutuhan sembako. Karena setiap bulan, pondok ini butuh sekitar 1 ton beras bagi 116 siswa.
Kegigihannya menciptakan pendidikan gratis, karena ingin mengangkat moral anak-anak kurang beruntung, untuk mendapatkan sekolah yang layak. Karenanya, sekolah di Al Hidayah, tak kalah saing dengan sekolah negeri.
‘’Selain meneruskan cita-cita orangtua, saya juga ingin memberikan kesempatan bagi warga yang kurang mampu, agar dapat menyekolahkan anaknya, tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar,’’ tegas putra dari pasangan Muh Martain dan Muslihah Syahri, pengasuh Pondok Pesantren Al Hidayah di Jalan Semeru Kelurahan Sisir Kota Batu.
Dia menambahkan, bagi santrinya yang ingin meneruskan sekolah ke jenjang SMA sederajat, juga sudah terjamin. Sebab, empat sekolah siap menampung lulusan Al Hidayah ini. Seperti SMA Hasyim Asy’ari, SMAI Batu, MA Ma’arif dan MAN Batu.
Sekalipun gratis, tapi fasilitas sekolah tidak kalah. Diantaranya, terdapat laboratorium IPA. Meski untuk lab komputer, masih belum tersedia.
‘’Sejauh ini, secara prestos, siswa-siswa ini mampu bersaing dengan siswa sekolah lain. Ke depan, kami bertekad menciptakan sekolah yang bukan hanya fasilitasnya saja lengkap, tetapi secara karakter pendidikan berbasis pendidikan pesantren,’’ papar pria mantan aktifis Tranparansi Intenasional Indonesia (TII) ini.
Kini, dia bersama guru-guru lainnya berharap, kepedulian lebih dari pemerintah daerah, yang selama ini masih dirasa kurang. Ke depan Pemkot Batu dapat melihat sekolah mana saja yang membutuhkan dalam memajukan pendidikan.
‘’Kami berharap seperti itu. Tapi jika tidak, kami tetap bisa berusaha sendiri dalam membangun sekolah berkualitas. Salah satunya dengan ulur tangan para donatur dermawan,’’ harap suami Renita Maydayanti itu. (miski al madurain)