Perjuangan Murid SDN Wonorejo 4 No 214 yang Terpencil

SEMANGAT anak-anak di Dusun Pusung Desa Wonorejo Kecamatan Singosari ini, patut dicontoh. Berada di lokasi terpencil tepatnya di Pegunungan Pusung, tidak menyurutkan langkah mereka untuk menimba ilmu. Meski mereka harus melalui medan cukup berat dengan jalan terjal dan berliku saat berangkat maupun pulang sekolah.

Pagi itu, terdapat sekelompok anak, mengenakan seragam pramuka sedang berjalan ke sekolah mereka, di SDN Wonorejo 04 No 214. Diantaranya, ada yang sengaja melepas dan menjinjing sepatunya. Beberapa, bahkan memilih menyimpan sepatu di tas.
Tujuannya, sepatu tersebut tidak cepat rusak. Karena mereka terpaksa harus melalui jalan naik, turun, serta berliku. Belum termasuk berlumpur dan licin.
Selain itu, tanpa alas kaki, juga memudahkan mereka menaklukan jalanan yang mendaki, yang dikedua sisinya terdapat jurang cukup dalam.
Meski medan yang dilalui cukup berat, mereka tampak bersemangat dan ceria. Tidak tampak rona kelelahan dan kesedihan yang terpancar dari wajah mereka. Sesekali mereka juga sempat bercanda.
‘’Mereka sudah biasa melalui medan berat seperti ini. Namanya juga anak gunung, asli dusun ini,’’ kata salah seorang Guru SDN Wonorejo 04 No 214, Widya Astuti, kepada Malang Post, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, apa yang mereka lakukan belum seberapa. Menempuh perjalanan beberapa kilometer dari rumah ke sekolah, sudah menjadi ‘makanan’ sehari-hari.
Kondisi itu, semakin bertambah parah, ketika mereka harus mengikuti ujian akhir. Mereka terpaksa harus mengeluarkan tenaga ekstra, ketimbang saat berangkat sekolah.
Ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional, tidak mungkin dilaksanakan di sekolah mereka. Karena sarana prasaran serta fasilitas sekolah mereka, tidak mendukung untuk melakukan ujian.
Untuk menempuh ujian, seluruh siswa SDN Wonorejo 04 No 214, harus turun ke bawah. Ke Desa Wonorejo. Tempat tujuannya, yakni SDN Wonorejo 04 No 213.
Perlu diketahui, SDN Wonorejo 04, memang mempunyai dua bangunan sekolah. Yang pertama di pusat Desa Wonorejo dan satu lagi di pegunungan Dusun Pusung itu sendiri. Jarak antara Pusung ke pusat kota Singosari, sekitar 20 km.
‘’Kalau ujian akhir, mereka harus berangkat pukul 05.00 WIB. Karena untuk turun, harus menempuh jarak lebih dari tujuh kilometer dan membutuhkan sekitar satu jam,’’ kata Widya Astuti.
Lamanya perjalanan, karena harus mereka tempuh dengan jalan kaki. Kondisi jalan setapak cukup berat, lantaran terdapat bebatuan dan pasir.
Belum lagi bila cuaca sedang hujan, otomatis jalan licin dan becek. Kondisi seperti itu, tentunya membahayakan keselamatan mereka. ‘’Pernah saat hujan deras, mereka terpaksa menginap di sekolahan tempat berlangsungnya ujian. Karena bila dipaksakan naik ke atas untuk pulang, nanti malahan membahayakan keselamatan mereka,’’ katanya.
Dijelaskannya, SDN Wonorejo 04 No 214 di pegunungan Dusun Pusung, memang didirikan untuk mempermudah aktivitas belajar siswa setempat.
Di Dusun Pusung sendiri, terdapat dua RW yakni RW 17 dan RW 18, dengan total 150 KK. Keseharian penduduk setempat, bekerja sebagai peternak sapi perah.
SDN Wonorejo 04 No 214, hanya mempunyai empat orang guru dan tiga kelas. Sehingga untuk aktivitas kegiatan belajar mengajar, harus dilakukan secara bergantian.
‘’Kondisi sekolahan ini, sudah mendingan. Tiga tahun lalu, gedung sekolahan ini hanya terbuat dari bambu,’’ ujar wanita yang setahun ini menjadi guru di sekolah itu.
Meski kondisinya sudah sedikit lebih baik, dia mengharapkan sekolah tersebut, bisa dilengkapi dengan sarana prasarana dan fasilitas yang memadai. Termasuk  berharap agar sekolahan tersebut bisa menyelenggarakan ujian akhir sendiri.
‘’Kalau bisa menyelenggarakan ujian akhir sendiri. Biar murid-murid tidak perlu turun ke bawah (Wonorejo, Red.). Kasihan juga mereka bila dipaksa turun ke bawah,’’ harapnya.
Untuk bisa mewujudkan hal itu, tentunya peran pemerintah sangat dibutuhkan. Termasuk membangun akses jalan yang lebih baik lagi menuju dusun tersebut.
Bila akses jalan layak sudah terbangun, maka diyakini akan memacu pembangunan bidang lainnya, termasuk pendidikan. ‘’Bila akses jalannya memadai, perekonomian serta pendidikan masyarakat di sini, akan menjadi lebih baik lagi,’’ tutupnya. (binar gumilang).