Rajin Puasa Daud, Pungut Sampah Dimanapun Ada

POLISI berprestasi mungkin banyak dan sudah biasa. Tetapi polisi yang peduli lingkungan, serta rajin berpuasa dengan meniru salah satu sifat Nabi Daud AS, jarang sekali ada. Kalaupun ada, mungkin hanya satu-dua orang saja. Aiptu Sumantri, anggota Sabhara Polres Malang ini salah satunya.

Siang itu, kondisi cuaca di halaman Mapolres Malang sangat panas sekali. Terik matahari persis di atas kepala. Beberapa personil Sabhara terlihat berjaga di pos penjagaan pintu masuk Polres Malang.
Mereka menghentikan setiap pengunjung yang datang di Polres Malang. Terutama pengendara motor yang memakai jaket, diminta untuk melepas.
Dari beberapa personil Sabhara yang berjaga di pos penjagaan, ada satu personil yang selalu menjadi perhatian pengunjung. Dia adalah Aiptu Sumantri. Setiap orang selalu melihatnya, karena dia memiliki kebiasaan yang jarang dimiliki oleh setiap anggota polisi lainnya.
Setiap kali turun piket jaga (Dinas), selain berjaga di pos penjagaan, kesibukan pria kelahiran 5 Februari 1961 ini selalu memunguti sampah yang mengotori jalan masuk Mapolres Malang. Tidak hanya dengan menggunakan sapu lidi dan pengki (dalam istilah jawa disebut cikrak) yang selalu dipegang, tetapi juga dipunguti dengan tangan.
Itu dilakukannya setiap saat. Setiap melihat ada daun dari pohon berjatuhan, mantan anggota Brimob Ampeldento ini langsung mendekat dan mengambilnya. Sekalipun kondisi cuaca panas ataupun hujan. ‘’Kalau hujan saya melepas sepatu. Tetap semangat, dan tidak masuk angin,’’ ujar Sumantri, sembari mengambil satu daun kering yang jatuh di jalan.
Meski memunguti sampah itu sebenarnya bukanlah pekerjaan, tetapi semuanya dilakukan dengan ikhlas. Sumantri, tak pernah merasa kecapekan, minder ataupun malu. Sekalipun selalu dilihat banyak orang. ‘’Tidak ada kata malu, Mas. Selama apa yang saya lakukan benar. Apalagi yang saya lakukan itu supaya kantor terlihat bersih, serta sedap dan indah,’’ tutur bapak dua anak ini.
Bahkan, ketika malam tiba, tidak hanya depan pos penjagaan atau jalan masuk saja yang dibersihkan. Lapangan Stayprabu yang biasa digunakan untuk apel pagi, disapu hingga bersih.
‘’Asalkan ditemani rokok jagung ijo dan secangkir gelas saat piket, sudah cukup. Saya tidak pernah mengharapkan pujian atau imbalan apapun dari pimpinan. Semuanya ikhlas saya kerjakan. Karena semata-mata supaya bersih, dan memberi semangat pada anggota lainnya,’’ terang dia.
Yang juga membedakan Aiptu Sumantri dengan anggota lainnya, dia juga selalu rutin berpuasa menirukan sifat Nabi Daud. Yaitu satu hari puasa, satu hari tidak. Itu dilakukannya sudah sejak 2003 lalu. Puasa Nabi Daud yang juga bisa disebut tirakat itu, akan dilakoninya sampai kedua anaknya bekerja dan hidup mapan.
Puasa Daud itupun, juga diikuti oleh istrinya, Sri Wahyu Ratna Ningsih, guru SD Jatiguwi Kecamatan Sumberpucung. Bedanya kalau istrinya, berpuasa pada hari Senin – Kamis, sedangkan Jumat – Minggu tidak.
‘’Puasa itu supaya keluarga kami tentrem, serta kedua anak saya saat sekolah ataupun kerja bisa lancar. Anak saya yang pertama Yusuf Norman, kuliah diUniversitas Brawijaya jurusan Sastra Jepang semester IX. Sedangkan yang kedua, Fanny Fadilah, kelas X SMP 2 Sumberpucung,’’ terangnya.
Puasa rutin, plus tidak pernah tenang jika melihat sesuatu yang kotor, menjadi sebuah perpaduan yang unik untuk seorang anggota polisi. Tetapi bagi Sumantri, semua itu adalah bentuk pengabdiannya.
‘’Pak Mantri itu, memang seperti itu. Puasanya benar-benar khusuk. Tidak terpengaruh apapun. Berat loh, sehari puasa, sehari tidak. Kemudian tangannya, tidak pernah diam jika melihat sampah. Dimanapun dia berada,’’ kata beberapa teman polisinya. (agung priyo)