Pamerkan Capung Wendit, Diapresiasi Dunia Internasional

Pemerhati kupu-kupu, pemerhati reptile, dan pemerhari badak sudah banyak dijumpai di Indonesia. Satu hewan yang masih jarang dilirik ahli zoology, yaitu capung (odonata). Padahal, tanpa disadari, capung sudah semakin jauh dari kehidupan manusia. Polusi udara, menjadi penyumbang terbesar, hilangnya capung dari lingkungan.

Bagi Tabita Makitan, capung memiliki banyak misteri. Ceritanya, tak pernah habis dibahas. Wajar, jika berbicara dengan Tabita soal capung, tak bakal ada habisnya.
Wanita yang tinggal di Jalan Metro Sisir Kota Batu itu, selalu bersemangat saat menceritakan kegiatannya yang tak jauh-jauh dari dunia capung (odonata). Sebuah dunia, yang dia cintai sejak masih berstatus siswa kelas VIII di SMA Dempo.
Awalnya, gadis 20 tahun itu, sedang aktif di dunia fotografi. Suatu ketika, sang guru, Wahyu Sigid, mengajak hunting spot untuk foto landscape. Di alam terbuka tersebut, Tabita mendadak terpesona melihat sekawanan capung terbang mengitari pepohonan.
‘’Melihat warna, bentuk dan namanya yang dalam Bahasa Inggris adalah dragonfly atau naga terbang, saya lantas ingin menggali lebih banyak tentang hewan mungil ini. Setelah browsing, ternyata banyak sekali manfaatnya. Diantaranya menjadi indikator air,’’ terang gadis yang berulang tahun setiap 18 Agustus tersebut panjang lebar.
Capung bertelur di dalam air dan menetas, menjadi nimfa atau serangga air. Nimfa inilah, tutur dia, sangat sensitif terhadap pencemaran air. Semakin bersih airnya, akan banyak capung di sekitar air tersebut.
Sejak saat itu, putri bungsu dari dua bersaudara itu, bertekat menjaga kelangsungan hidup capung. Referensi yang sangat terbatas, memaksa Tabita berkirim email kepada pakar capung. Vincent J Kalkman dan Rory A Dow, dua pakar capung dunia, yang bekerja di National Museum of Natural History, Leiden, Belanda.
‘’Untuk capung Indonesia, kita punya buku tentang capung Papua dan Kalimantan. Keduanya ditulis oleh orang luar negeri dalam Bahasa Inggris. Alangkah sayangnya jika kita sendiri tidak punya reservasi capung,’’ tutur gadis yang pandai bermain gitar ini.
Bersama Wahyu Sigid, putri pasangan Freddy Makitan dan Susilowati Makitan ini, lantas mendirikan Indonesia Dragonfly Society (IDS), yang hingga saat ini, mempunyai peran penting tak hanya di Indonesia, tapi juga untuk pecinta capung seluruh dunia.
Bersama Wahyu dan tiga anggota IDS lain, Magdalena Putri, Bernadetta Putri dan Bambang Feri Wibisono, mereka menerbitkan buku berjudul Naga Terbang Wendit, Keanekaragaman Capung Perairan Wendit, Malang, Jawa Timur, yang mengulas 31 jenis capung di Wendit.
Buku tersebut menjadi buku kedua setelah sebelumnya mereka membidani kumpulan tulisan berjudul Capung Teman Kita. Kedua buku ini, menambah daftar literature tentang capung yang saat ini masih terbatas.
Meski saat ini, Tabita fokus pada eksplorasi capung di Pulau Jawa, tapi dua kali, mahasiswi semester tiga Fakultas Antropologi UGM ini, mengikuti kongres capung internasional.
‘’International Congress of Ononatology pertama pada Juli 2012 di Odawara, Jepang. Saya kesana bersama Nur Christian. Yang kedua di Freising, Bavaria, Jerman pada Juni 2013, yang saya ikuti bersama Magdalena Putri. Kongres selanjutnya di Argentina dan saya harap Indonesia juga mendapat kesempatan menjadi tuan rumah,’’ tuturnya.
Dalam lima hari di kongres tersebut, Tabita yang bertemu pakar capung dunia, digunakan untuk memperluas relasi dan membuka kesempatan untuk mengenalkan capung Indonesia.
‘’Dari habitat di Wendit, kami menemukan tida jenis capung endemic Jawa. Rhinocypha Fenestrate (Capungbatu merahjambu), Paragomphus Reindwartii (Capungpancing Jawa) dan Nososticta Insignis (Capungjarum Sunda) yang membuat peserta terpukau,’’ tutur gadis ramah ini bangga.
Tak hanya itu, ia juga mempublikasikan tentang Amphiaeschna Ampla, satu jenis capung yang ditemukannya bersama tim di Banyuwangi, di Newsletter Worldwide Dragonfly Association (WDA), AGRION. Jenis ini dikatakan terakhir kali ditemukan pada 1954 silam.
Saat ini, keseharian Tabita dan rekan-rekannya di IDS, masih seputar pendataan dan pengembangan riset tentang hubungan capung dengan aspek ekologi, kultural dan ekonomi, pelestarian habitat capung, mengedukasi masyarakat tentang capung, serta mendorong komunitas maupun perorangan yang berinisiatif untuk melestarikan capung.
‘’Di Jogjakarta, kami mendukung kelompok pecinta alam BIOLASKA dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta, yang akan membuat buku capung sungai Gadjah Wong. Di Banyuwangi juga ada komunitas fotografer yang akan menerbitkan buku capung Banyuwangi. Di Malang sendiri ada band Dodo’ Erok, yang seluruh lagunya menginspirasi untuk menjaga capung,’’ terang gadis berambut panjang tersebut.
Untuk edukasi, gadis pecinta travelling tersebut belum lama ini bersama timnya, mendampingi sekolah-sekolah yang ingin siswanya mengamati capung. Ia juga mengagendakan kegiatan jambore capung yang akan dilaksanakan di Ambarawa pada Mei tahun ini.
Beragamnya aktivitas masyarakat yang melibatkan capung, dikatakan Tabita, adalah bukti bahwa capung milik siapa saja. Ia harap, dengan kegiatan-kegaiatan ini masyarakat dapat melestarikan capung tanpa harus menunggunya menjadi satwa langka yang dilindungi.
‘’Tentu kita tidak ingin capung menjadi bagian dari Red List of Threatened Species yang dicantumkan The International Union for Conservation of Nature (IUCN). Tak hanya capung, tapi juga binatang lain seperti kunang-kunang, kumbang dan lain-lain,’’ terangnya seraya menutup pembicaraan. (laili salimah)