Seperti Merawat Bayi, Bisa jadi Pengawal Pribadi

Perawat yang Memiliki Hobi Memelihara Ular Berbisa
WAJAHNYA imut. Dia juga seorang perawat sebuah rumah sakit ternama di Kota Malang. Namun kodew yang tinggal di Jalan Dorowati I Kota Batu ini, memiliki hobi tak lazim, untuk kaum hawa seumurnya. Dia sangat hobi memelihara ular dengan perawatan seperti layaknya seorang bayi.

Rumah bercat hijau, di dekat Sumber Torong Park, Sisir Kota Batu siang itu, masih tampak sepi. Sebuah mobil station, juga masih terparkir digarasi. Pintu depan terbuka, penanda jika sang pemilik rumah, ada di dalamnya.
Salah satu penghuni rumah tersebut adalah Nur Azizah, dara berusia 22 tahun. Sudah setahun ini, Nur Azizah bekerja sebagai perawat di RSI Aisyiah Kota Malang. Alumnus SMA 2 Batu ini, diterima bekerja di rumah sakit itu, setelah menempuh studi di Poltekkes, Jalan Ijen Kota Malang. Dialah kodew yang memiliki piaraan ular di rumahnya.
Perlahan, kodew yang mengenakan kaos putih itu, membuka akuarium kecil di sudut ruangan rumah. Perlahan dia memasukan tangan ke dalam akuarium. Yang keluar bukan ikan. Tapi ular. Tanpa memiliki rasa takut sedikitpun, dia memegang ular itu secara lembut.
‘’Ular harus pegang secara lembut. Berikan rasa nyaman kepadanya sehingga tidak ada kesan, mengancam keselamatan. Jika sudah begitu, ular akan jinak dan tidak menggigit,’’ kata Nur Azizah.
Benar saja perkataannya, ular tersebut tidak menggigit meski terus dipegang. Padahal ular jenis Piton Morolus, memiliki gigitan yang kuat. Dia juga biasa melilit mangsanya, sampai lemas, sebelum memakan mangsa itu.
’’Saat ini saya masih memelihara beberapa ular. Namun saya juga pingin memelihara lagi. Ular jenis Piton Morolus ini, termasuk hewan yang hampir langka,’’ tegasnya ketika ditemui di lingkungan rumahnya.
Ular Piton itu terlihat semakin manja. Dia terus merambat ke tangan dan kepala Nur Azizah. Perawat inipun sesekali menimang tubuh ular, seperti menimang bayi. Kebiasaan itu sudah biasa dilakukan setiap hari. Saat suasana santai, atau tidak masuk kerja, dia biasa memanjakan ularnya di rumah.
Ular itu harus dirawat baik-baik. Dimandikan, diberi sampho hingga makanan yang rutin. Makanan ular itu adalah hamster atau tikus putih. Dalam satu kali makan, sang ular bisa bertahan hingga sepuluh hari sebelum makan lagi.
’’Mungkin sudah biasa merawat orang, perlakukan terhadap binatang ular pun, seperti merawat manusia,’’ tambahnya.
Ular piaraan itu, tidak hanya dirawat, tetapi sering diajak ke tempat kosnya di Malang. Teman-teman satu kos, juga diajari tidak boleh takut terhadap ular, tetapi harus ikut menyayangi binatang.
Awalnya, mereka cukup memegang ekor secara lembut dan menunjukkan kepada sang ular, bahwa mereka tidak mengacam kehidupannya. Lama kelamaan, temanya tidak takut dan berani memegang tubuh ular.
Malahan, sang ular kesayangan pernah ke rumah sakit, tempatnya bekerja. Ular tersebut hanya diamankan dalam laci dan dikunci rapat. Hal itu untuk menghindari binatang melata itu kemana-mana dan membuat pasien ketakutan.
‘’Saat itu, saya sudah terlambat dan tidak sempat membawa ular ke tempat kos. Jadi ular saya bawa ke rumah sakit, kemudian dikunci dalam laci,’’ tambahnya.
Dia biasa membawa ular ke Malang jika ada jadwal pulang kerja malam hari. Biasanya, Piton itu ditaruh dalam tas untuk jaga-jaga diri. Tidak bisa dipungkiri, jika pelaku tindak kejahatan selalu mengancam orang di jalan. Apalagi jika seseorang bersepeda sambil membawa tas, maka salah satu kerawanan adalah copet atau perampasan tas itu.
’’Kalau berani rampas tas, silakan. Nanti sang ular yang akan akan keluar dari tas. Jadi ular ini juga untuk pengawal pribadi pada waktu malam,’’ pungkas Nur Azizah. (febri setyawan)