Budidaya Ulat Hongkong yang Menjanjikan

SIMPEL dan menjanjikan. Begitulah gambaran singkat budidaya ulat Hongkong, atau biasa diketahui sebagai ulat untuk pakan burung peliharaan. Bagaimana tidak, selain pangsa pasarnya banyak dicari pembeli, nyatanya tidak butuh waktu lama untuk memanen hasil dari budidaya. Bagaimana cara budidayanya, berikut tulisannya.

Untuk mengembangkan budidaya ulat, yang berukuran kecil warna merah kehitam-hitaman itu, ternyata tidak rumit. Seperti yang dilakukan Harianto, 50 tahun, warga Dusun Plalar, Desa Sukoanyar-Pakis. Dia hanya memanfaatkan ruang tamu rumahnya yang berukuran sekitar 2,5 x 2,5 meter.
Dari ruang kosong yang kini sebagai tempat pembibitan itu, bapak lima anak itu pun membuat layaknya rak terbuka. Rak-rak berbentuk persegi panjang bertingkat, dengan berbahan dasar kayu sederhana itulah, yang digunakan sebagai pusat budidaya ulat yang kini dalam seminggunya mampu menghasilkan Rp 1,5 juta.
‘’Kalau modal pertama dulu, sekitar Rp 15 juta. Dari mulai membeli kayu untuk rak budidaya, sampai pada bibit ulat yang kini sudah dikembangkan sendiri menjadi banyak,’’ kata pria yang memutuskan pensiun dari Kamituwo Plalar, setelah melihat peluang usaha dari ulat Hongkong.
Diceritakan Hari, dari bibit ulat pertama yang dibelinya sekitar 25 kilogram, langsung ditampung dalam beberapa rak terbuka. Masing-masing sisinya, sudah diberi lapban guna menghindari kabur. Dari situ, kemudian diberi makan polar dan rombusah atau manisah, untuk mempercepat perubahan bibit ulat menjadi kepompong.
Dengan kombinasi makanan yang tidak terlalu basah, biasanya hanya perlu waktu seminggu, bibit ulat-ulat itu akan menjadi kepompong. Selanjutnya, seminggu kemudian akan menjadi kumbang yang siap bertelur.
‘’Rak-rak itu dibuat untuk memilah antara ulat dengan ulat, kepompong dengan ulat dan perubahan kepompong menjadi kumbang,’’ ungkap Hari.
Saat kumbang mulai bertelur, terangnya, biasanya butuh waktu seminggu telur-telur itu akan menetas menjadi ulat kecil. Karenanya, saat mengetahui kumbang-kumbang mulai bertelur, maka langsung dilakukan pemisahan antara kumbang dan telur. Masalahnya, kumbang akan memiliki masa bertelur antara tiga sampai empat bulan.
‘’Kalau di sini, biasanya setiap seminggu sekali telur-telur dipisahkan dari kumbang ke lokasi penetasan. Makanya, masa panen ulat itu menjadi seminggu sekali,’’ terangnya.
Selama melakoni proses budidaya, Hari menjelaskan, tidak ada hal rumit yang menjadi kendala. Masalahnya, untuk pakan ulat-ulatnya, hanya membutuhkan polar dan manisah atau ketela rambat, guna mempercepat budidaya ulat dan memiliki ketahanan hidup.
Kedua jenis makanan itu, tidak harus diberikan setiap hari. Namun, hanya menyesuaikan dari kondisi ketersediaan pakan di dalam masing-masing rak.
‘’Untuk pakan relatif mudah. Namanya ulat, pasti semua di makan. Namun, agar kondisinya agar bagus, tinggal melihat kondisi pakan di dalam rak. Pastinya, tidak setiap hari saya memberikan pakan,’’ ujar dia.
Justru yang harus diperhatikan dalam budidaya, tambahnya, yakni masa penetasan dari telur ke ulat kecil. Sebelum telur-telur selama seminggu itu akan menetas, raknya harus diberi penutup untuk melindungi dari kumbang jenis lain (Kapang), tikus hingga cicak.
Yang sangat menarik dari budidaya ulat Hongkong, terang Hari, selain masa panennya hanya seminggu sekali, tidak ada yang terbuang dari budidaya tersebut.
Kotoran ulat Hongkong pun laku dijual di pasaran. Kalau ulat Hongkong perkilonya minimal Rp 14 ribu, maka untuk kotorannya masih bisa dijual seharga Rp 500 perkilogramnya.
‘’Semua harga jual itu mengikuti di pasaran. Sepeti ulat Hongkong, itu bisa menembus angka hingga Rp 35 ribu sampai Rp 40 ribu, untuk perkilogramnya. Sementara pembelinya, pun harus datang sendiri ke lokasi budidaya,’’ imbuhnya. (sigit rakhmad)