Dua Mahasiswa yang Tewas di Gunung Welirang

Setelah lebih seminggu mencari, dua mahasiswa yang hilang ketika mendaki Gunung Welirang, ditemukan dalam kondisi tak bernyawa. Setelah ditemukan, tak satupun dari orang tua keduanya, yang melihat mayat mereka.

Bunyi sirine itu, memecahkan keheningan kawasan Desa Sumberbrantas Kota Wisata Batu. Didalamnya, dua jenazah mahasiswa STIESIA Surabaya, terbujur kaku. Alif Hazen Rahmansyah (24) dan Dian Meitami (18).
Mereka adalah anggota Mahapala (Mahasiswa Pecinta Alam) STIESIA Surabaya. Dari 12 orang yang rencananya mendaki Gunung Welirang, Alif dan Dian, yang tetap ngotot naik, sekali pun cuaca buruk. Lainnya, memilih balik kanan setelah tidak kuasa meneruskan perjalanan.  
Bukan pekerjaan mudah, untuk membawa dua jenazah tersebut. Selain cuaca yang kurang bersahabat, lokasi ditemukannya Alif dan Dian, sulit dicapai.
Sebelum dibawa ke RS Paru, jenazah laki-laki dan perempuan itu, harus beberapa kali berganti mobil. Dari lokasi ditemukannya dua mayat tersebut, Tim SAR Gabungan membawa dengan tandu, hingga jalan setapak, baru bisa dibawa mobil Jeep hingga Pos Tahura R Soerjo di Desa Sumberbrantas.
Di posko itu, sudah menunggu ambulans milik SAR Mahameru, yang akan membawa dua jenazah itu ke Kota Batu. Tapi sampai di Desa Sidomulyo, jenazah kembali dipindahkan. Kali ini, dua kantong mayat yang berisi Dian dan Alif, dipindahkan ke ambulans PMI dan ambulans BNPB.
Keluarga Dian dan Alif, memilih menunggu di RS Paru. Hanya saja, tidak ada orang tua kedua korban tersebut. Sekalipun demikian, ketika jenazah itu tiba, sontak tangis pecah dari kerabat korban. Bahkan salah satu kerabat, sampai harus dibopong karena tidak kuasa melihat saudaranya yang tidak bernyawa lagi.
Subadi, Kakek Dian, adalah satu dari kerabat yang menjemput di RS Paru. Sementara Budi, sang ayah, memilih tetap tinggal di Surabaya, untuk menenangkan istrinya, Mariana.
‘’Dian itu putra kedua. Dia memang suka mendaki gunung sejak SMA. Termasuk aktif di setiap kegiatan di sekolah,’’ kata Subadi. ‘’Anaknya juga baik,’’ sebutnya lagi.
Awalnya, setelah mendapat kabar Dian hilang di Gunung Welirang, Subadi langsung menuju Pos Tahura, untuk memastikan kabar tersebut. ‘’Karena saya tinggal di Malang, saya diminta memastikan, jika cucu saya hilang. Ternyata petugas membenarkannya,’’ ujarnya.
Dia menyebut, meski orang tua Dian tidak ke Malang, keduanya tetap memantau perkembangan pencarian. Termasuk ketika kemarin pagi mendapat kabar, putrinya ditemukan, Budi memilih tetap tinggal di Surabaya, karena kondisi istrinya sering menangis hingga pingsan.
‘’Tapi keluarga sudah mengikhlaskan kepergian dia. Semoga Dian diterima disisi-Nya,’’ ungkapnya.
Rasa kehilangan juga dirasakan paman Dian, Heri. Dia menuturkan, sebelum berangkat, Dian sempat pamit. Ketika itulah, Heri merasakan ada sesuatu yang tidak enak. Hal yang sama, juga dirasakan keluarga lain.
 ‘’Sementara ibunya, sebenarnya berat untuk mengizinkan Dian ke gunung. Apalagi cuaca sedang tidak bagus. Tapi karena ngotot, Dia akhirnya diantarkan bapaknya ke kampus,’’ cerita Heri.
Yang lebih menyedihkan, keluarga Alif. Kedua orang tuanya, Hamim dan Hasinah, bahkan tidak berada di Indonesia. Mereka menjadi TKI di Singapura. Jenazah Alif, hanya bisa ditunggui sang bibi, Ike Nurhasiyah.
Mulai Alif dinyatakan hilang, hingga ditemukan sudah tidak bernyawa, kabar itu belum disampaikan kepada orang tua Alif. Alasannya, keluar Alif lainnya yakin, Alif bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
‘’Ternyata tim penyelamat mengabarkan sudah tidak bernyawa lagi. Kami pun harus menyampaikan kabar itu ke orang tua Alif. Sekarang (kemarin, Red.), keduanya sudah dalam perjalanan pulang,’’ sebut Ike, sembari terus meneteskan air mata itu. (miski)