Klenteng Eng An Kiong Menyambut Imlek

Dua patung Say atau Kilin atau Singa berdiri dengan gagah di halaman Klenteng Eng An Kiong di Kota Malang. Matahari sore yang menerobos gapura klenteng, seperti menyorot dua singa itu. Sementara, bangunan klenteng yang didominasi warna merah dan kuning, berbaur dengan semburat jingga.

Profil dua singa itu, terbaca melalui dua warna khas milik Klenteng Eng An Kiong. Warna merah mencerminkan keberanian serta kehidupan. Adapun warna kuning melambangkan keagungan dan kebesaran.
Tepat pada sore itu, seluruh areal di Klenteng Eng An Kiong semakin bersinar. Sebab, ritual pembersihan klenteng untuk menyambut Imlek sudah selesai. Ritual yang dimulai pada 24 Januari 2014 lalu, dimaksudkan agar klenteng semakin indah pada 31 Januari.
Perjalanan panjang telah dilewati Eng An Kiong hingga Imlek tahun 2665 ini. Barangkali Liutenant Kwee Sam Hway generasi ketujuh Dinasti Ming, tak memperkirakan hal ini. Sebab ketika datang di Malang tahun 1825 dulu, misinya adalah mencari daerah baru.
Karena Malang daerah agraris, maka Dewa Bumi menjadi dewa utama Eng An Kiong. Dan sekarang ini, 189 tahun sesudah kedatangan Kwee Sam Hway, klenteng masih berdiri dengan kokoh. Perjalanan Liutenant kala itu ditandai dengan empat Dewa di bagian teras Klenteng.
“Empat Dewa ini menandai empat penjuru lautan, bahwa di empat lautan kita semua bersaudara,” ungkap Bonsu Anton Triyono Humas Klenteng Eng An Kiong.
Empat dewa itu antara lain Dewa Zeng Zhang Tian Wang, Dewa Chi Guo Tian Wang, Dewa GUang Mu Tiang Wang serta Dewa Duo Wen Tian Wang. Keempatnya mewakili kekuatan yang harus dimiliki manusia saat ini, ketika hendak menjelajah dunia.
“Lihat saja penanda di empat dewa itu, stempel, pundi-pundi uang, mata tiga dan pendengaran yang tajam, keempatnya harus dimiliki manusia sekarang ketika hendak bepergian,” jelasnya.
Dewa Zeng Zhang Tian Wang membawa stempel, simbol dari paspor dan identitas. Dewa Chi Guo Tian Wang memikul pundi-pundi uang, kemudian Guang Mu Tiang Wang bermata tiga dan Dewa Duo Wen Tian Wang dengan simbol pendengaran.
“Mata tiga adalah simbol kejelian, dan pendengaran adalah simbol wawasan, untuk menjelajah samudera kita harus punya paspor, uang, kejelian dan wawasan yang luas,” urainya.
Struktur bangunan klenteng juga sarat makna filosofis. Di bangunan utama, tidak ada struktur kayu maupun tembok model diagonal. Semuanya berupa garis vertikal dan horizontal, itu menjadi simbol hubungan manusia dan Tuhan serta sesama manusia.
“Seperti konsep Islam yakni hablu minallah wa hablum minannas, kalau di kita ada cung I thien suk I ren artinya setia dengan firman Tuhan dan tepo seliro terhadap sesama,” imbuh sang rohaniawan ini.
Jangan lupa pula, bahwa di klenteng itu, selama ratusan tahun, tiga agama hidup rukun. Yakni keyakinan Budha Mahayana, Konghucu dan Tao. Di tempat itu juga ada bedug dan lonceng yang umurnya setua klenteng. Kelak, bedug dipakai umat Islam di masjid-masjid dan lonceng digunakan umat Kristiani.
“Klenteng sudah beberapa kali rehab, mengacu prasasti bertuliskan hurif Cina di depan kantor pengurus, rehab dan pengumpulan dana dilakukan tahun 1895, 1912 dan 1934,” bebernya.
Rehab klenteng mengubah atap dari genteng pegon (Jawa) memakai karangpilang. Lantai terakota (persegi tanah liat buatan dari Cina) sempat diganti tekel era Belanda. Namun yang saat ini dilihat adalah lantai marmer buatan Tulungagung.
“Kami sadar bahwa leluhur kami dari Tiongkok ingin kami hidup lebih baik di bumi sini (Indonesia), makanya klenteng warisan leluhur juga tetap kami jaga,” tegas dia.
Pengurus tak hanya melestarikan dan merawat bangunan klenteng, berikut 24 altar Dewa. Namun juga masih menjaga dengan baik, tiga buah kio (tandu) dari Dinasti Ming. Tandu itu bahkan umurnya lebih tua dari usia klenteng Eng An Kiong.
“Kami punya tiga kio tua, kemudian 10 tahun lalu membuat kio replika dari kayu jati yang dibuat Kabul perajin dari Tumpang, biayanya Rp 60 juta per kio,” imbuhnya.
Tiga kio asli, oleh pengurus disimpan pada tiga altar berbeda. Kio pertama di altar dewa bumi, lainnya di altar Thay Sue The (dewa simbol pemerintahan) dan altar Guang Ze Zun Wan (dewa obat). Adapun dua replika berada di altar Guang Sheng Di Jun ( Dewa kejujuran dan kesetiaan) serta  altar Chai Sen Ye (dewa keberuntungan).
“Kalau Kio asli ini buatan dari kayu kelengkeng, kita pakai ketika kirab ulang tahun klenteng saja,” lanjut Anton.
Kio asli sungguh menakjubkan, ornamen berwarna emas, benar-benar berbahan emas murni. Emas itu dibuat menjadi serbuk (kiempo) baru dioleskan ke kayu. Setiap kio memiliki 49 dewa yang diukir sangat detail.
“Ada juga ornamen perjuangan, sebuah ukiran yang mengingatkan umat, bahwa dalam hidup kita harus senantiasa berjuang,” Bonsu menambahkan.
Mengenai perayaan Imlek sendiri, pihak klenteng sudah mempersiapkan dengan matang. Saat ini berjajar berbagai jenis lilin mulai dari yang kecil sampai raksasa. Lilin raksasa seberat 300 kati sudah disiapkan 14 pasang, satu pasang harganya Rp 7,5 juta.
Kemudian ada juga lilin 200 kati sebanyak delapan pasang yang dibeli  dengan harga Rp 5 juta per pasang, lantas lilin 100 kati seharga Rp 2,5 juta serta lilin 50 kati  Rp 1,250 juta. Untuk lilin 100 kati dan 50 kati masing-masing lebih dari 10 pasang. Jika ditotal, semua lilin tersebut minimal senilai Rp 182,500 juta.
“Pada Jumat 31 Januari kita gelar ibadah Imlek 2665 Cia Gwee menyambut tahun baru Khong Cu Lik dan sembahyang  kelahiran Yang Mulia Bie Lik Hud, dilanjutkan 3 Februari ritual Ciap Sien, 7 Februari upaca King Thi Kong dan pamungkasnya Cap Gomeh 14 Februari,” tandas Bonsu Anton.(Bagus Ary Wicaksono/han)