Layang-layang yang Mampu Menerbangkan Keliling Dunia

Siapa sangka, layang-layang ternyata bisa ‘menerbangkan’ seseorang keliling dunia. Itulah yang dialami Juhud Arianto, 55 tahun, warga Kecamatan Singosari ini. Bermula dari hobinya membuat layang-layang, kini sukses mengekspornya keluar negeri. Selain itu, dia juga kerap menjuarai perlombaan laying-layang internasional.

Sore itu, cuaca gerimis membasahi mayoritas wilayah Malang Raya. Namun kondisi itu, tidak menyurutkan aktivitas Juhud Arianto untuk membuat layang-layang di Toko Ahoed DC, salah satu ruko di sekitar Lapangan Rampal, Kota Malang. Permintaan layang-layang saat itu, memang sedang banyak. Meski cuaca saat ini, tengah memasuki musim penghujan.
Ternyata, layang-layang itu bukan untuk konsumsi dalam negeri. Tapi akan dikirim ke manca negara. Kali ini, pemesannya adalah warga dari Perancis.
‘’Kami sedang membuat layang-layang hias untuk dikirimkan ke Perancis. Perancis menjadi langganan kami sejak lama,’’ ujar Juhud Arianto kepada Malang Post.
Bapak tiga orang anak ini, menggeluti dunia layang-layang sejak 30 tahun yang lalu. Sebelumnya pada 1982, dia bekerja sebagai tukang service barang-barang elektronik. Namun, pada pertengahan tahun 1983, dia banting setir mencoba peruntungan dengan membuat layang-layang, untuk dijual.
Saat itu dalam benaknya, menjual layang-layang merupakan usaha yang memiliki prospek cukup tinggi. Bermain layang-layang, adalah aktivitas santai, yang sangat digemari semua kalangan. Apalagi untuk mendapatkannya, tidak perlu merogoh kocek dalam.
‘’Cukup dengan Rp 300 saja, sudah bisa mendapatkan layang-layang aduan.  Kalau rusak, bisa beli lagi. Karena harganya tidak mahal,’’ katanya.
Ternyata usahanya itu, dari tahun ke tahun, mengalami tren peningkatan yang cukup baik. Hingga pada pertengahan tahun 2000 dia membuka toko layang-layang bernama Ahoed DC di Jalan Raya Singosari, terletak di kanan jalan sesudah Stasiun Singosari. Tidak hanya menjual layang-layang, toko itu menjual senar layang-layang berkualitas.
Layang-layang yang dia buat, semakin dilirik oleh penghobi maupun konsumen. Tidak tanggung-tanggung, pelanggan pria yang disapa Ahoed ini, hingga keluar negeri. Selain Perancis, ada Belanda, Jerman dan Belgia untuk negara di Benua Biru atau Eropa.
Sedangkan negara-negara di Benua Asia seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Cina dan Jepang.
Layang-layang buatannya dilirik oleh pasar luar negeri, lantaran desainnya yang kreatif dan cukup bagus. ‘’Layangan ada dua jenis. Aduan dan kreasi. Untuk layangaan kreasi, saya memang menjaga kualitasnya,’’ ucapnya.
Khusus untuk layang-layang hias, oleh Ahoed dijual dengan harga Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. ‘’Tergantung dari model dan tingkat kesulitan saat membuatnya. Kami juga menerima pesanan, yang bentuknya sesuai apa yang diinginkan konsumen,’’ imbuhnya.
Tidak hanya membuat serta menjual, Ahoed juga acap kali mengikuti kejuaraan layang-layang tingkat internasional. Juarapun, sudah menjadi hal biasa bagi dia. Seperti juara International Kite Combat di Perancis, Gujarat Rally Kite Fetival di India, dan Udaipur International Rally Kite Festival yang juga di India.
‘’Saat di India, saya menjadi juara umum. Karena menang di tiga kota dari empat kota India yakni Gujarat, Udaipur, dan New Delhi, dengan sistem rally. Jadi, sudah banyak negara di luar negeri yang saya kunjungi,’’ terangnya.  
Dari layang-layang, perekonomian maupun penghasilannya juga turut terdongkrak. Setidaknya, saat ini dia mempunyai mobil, rumah, beberapa alat elektronik dan lainnya.
Terpenting, dia bisa menyekolahkan ketiga buah hatinya. Hal tersebut berbeda sebelum tahun 1982, yang saat itu dia masih menekuni usaha service alat-alat elektronik.
Kesuksesannya sekarang, berkat usaha keras serta keyakinnya yang tinggi bahwa hobi bisa menjadi profesi sebagai lahan untuk mendapatkan penghasilan.
‘’Bila ingin sukses, tentunya harus bekerja keras, pantang menyerah dan kreatif. Hal itu mutlak dimiliki seseorang, terutama para pemuda,’’ tutupnya. (binar gumilang)