Melihat Model Sosialisasi Pemilu yang Mulai Dirubah

RELAWAN Demokrasi (Relasi), jadi bandul perubah gaya sosialisasi pemilu legislatif, 9 April mendatang. Organisasi bentukan KPU yang terdiri dari 25 orang ini, didominasi oleh generasi muda. Di tangan mereka inilah, pemilu bergema ditempat nongkrong hingga perkampungan. Bagaimana cara kerja Relasi?

Bahrul Imron, aktivis mahasiswa Unisma, memecah ramainya obrolan disebuah kantin di sekitar kampusnya. Pria 23 tahun ini, tiba-tiba nyletuk di tengah canda dan tawa sejumlah anak muda.
‘’Jangan lupa ya, 9 April,’’ ucapnya ringan memecah canda. ‘’9 April? Kenapa 9 April?’’ tanya teman-temannya. ‘’9 April coblosan. Pilih wakil rakyat, salurkan hak berdemokrasi,’’ ucapan retoris padat pesan itu pun meluncur dari mulut Imron.
Ya. Itulah gaya aktifis mahasiswa ini mensosialisasikan pemilu. Sosialisasi di tempat ngopi oleh Imron, sudah berlangsung rutin dari satu tempat ke tempat lain.
Imron adalah anggota Relasi. Ia memilih mengembangkan kreatifitas sosialisasi pemilu ala Imron, sejak bergabung menjadi anggota Relasi.
Setiap hadir di kantin dan tempat nongkrong, seperti lesehan dan tempat makan, mahasiswa semester lima  ini tak canggung sosialisasi. Kemasannya ringan, tapi tepat sasaran.
Selain membawa pesan pemilu di tempat nongkrong, Imron hadir di facebook. Ia nongol melalui status facebook tentang pemilu legislatif 9 April. Belasan orang memberi tanda jempol di statusnya. Tapi yang memberi komentar, ternyata tak banyak.
Ia sadar, masih ada generasi muda atau pemilih pemula, tak mengerti kalau 9 April nanti memilih wakil rakyat. Situasi itu tak menyurutkan semangatnya. Imron bahkan semakin bersemangat. ‘’Saya akan terus sosialisasi ala saya,’’ ucapnya bersemangat.
Imron merupakan salah satu dari 25 anggota Relasi. Tugas Relasi yakni melakukan sosialisasi dan sekaligus kepanjangantangan KPU untuk urusan sosialisasi. Mereka diberi kesempatan untuk berkreasi.
Anggota Relasi lainnya, Pristanti Kumalasari, juga punya cara sendiri. Selain getol sosialisasi di lingkungan kampusnya di UMM, Pristanti memilih lingkungan rumahnya sebagai wahana bersosialisasi. Mulai dari ibu-ibu, sampai sesama generasi muda pasti diceritain tentang pemilu 9 April.
’’Saya sosialisasi dengan cara saya. Ya bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti. Yang pasti tidak formal, biar mudah dipahami dan menyenangkan,’’ katanya. Bagi Pristanti, yang penting pesan bahwa 9 April nanti menggunakan hak pilih tertancap di lingkungannya.
Dendy Kuspriya Prayogo juga memilih Relasi sebagai wadah berkreasi. Menurut Dendy, mengajak pemilih menggunakan hak suara saat 9 April mendatang adalah tantangan di tengah apatisme masyarakat terhadap politik.
Imron, Pristanti dan Dendy yang sedang giat sosialisasi pemilu itu tak pernah memikirkan berapa biaya yang dikeluarkan untuk menyadarkan publik menggunakan hak pilih. Bagi mereka, yang terpenting pemilih pemula menyalurkan hak suara.
Anggota Relasi KPU Kota Malang, sudah beraktifitas sejak November lalu. Mereka bertugas selama enam bulan. Tugas utamanya yakni melakukan sosialisasi pelaksanaan pemilu legislatif, 9 April.
Komisioner KPU Kota Malang, Zaenudin ST mengatakan, setiap anggota Relasi, diberi keleluasan berkerasi untuk sosialisasi pemilu. Mereka boleh menggunakan medium apa saja yang penting terjangkau.
Tak sekadar sosialisasi, semua anggota Relasi juga diajak membahas persoalan sosialisasi, termasuk melakukan pemetaan potensi sosialisasi. Tujuannya agar sosialisasi tepat sasaran.
Karena itulah dalam waktu tertentu, ruang media center KPU Kota Malang biasanya berubah jadi ruang kelas. Biasanya pada Jumat siang, mereka berkumpul di media center lembaga penyelenggara pemilu itu.
Bersama  Zaenudin dan komisioner lain, mereka memetakan siapa saja yang harus jadi sasaran sosialisasi. Selain itu, pengetahuan tentang pemilu anggota Relasi juga diperkuat. Mulai dari materi tentang DPT hingga teknis membuka surat suara diberikan kepada para anggota Relasi.  
Saat kelas Relasi dimulai, kantor KPU pun berubah bagai ruang kuliah dengan suasana diskusi. Melontarkan pertanyaan lalu mencari jawaban menjadi dinamika rutin di ruangan itu.
‘’Mereka inilah yang menjadi salah satu ujung tombak sosialisasi. Mereka juga punya segmen untuk sosialisasi,’’ kata dia. Segmen Relasi yakni kaum perempuan, pemilih pemula, kaum penyandang cacat, kalangana keagamaan kaum pinggiran.
‘’Kaum pinggiran maksudnya komunitas pinggiran dan dari sudut sosial, mereka merupakan kelompok minoritas seperti waria, anak jalanan dan lainnya,’’ sambung Zaenudin. (vandri van battu)