Lewat Asuransi Sampah, Raih Penghargaan dari Pangeran Charles

Gamal Albinsaid, tidak pernah memimpikan Indonesia Medika (InMed), meraih berbagai penghargaan. Baik nasional apalagi internasional. Inovasi InMed yang berkonsep healthpreneur, mendapat perhatian dari banyak pihak. Yang teranyar, Jumat (31/1) kemarin, Gamal meraih First HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Prize dari Pangeran Charles, Inggris, atas salah satu inovasinya. Asuransi Sampah (Garbage Insurance).

Pada 5 Juni 2005 lalu, balita bernama Khaerunnisa, tidak sanggup mengobati penyakitnya, hingga ia menghembuskan nafas terakhir, di gerobak sampah ayahnya, Supriyono.
Kisah nyata yang terjadi di Jakarta ini, menampar Gamal Albinsaid. Saat itu, ia bertekad untuk tidak membiarkan Kaerunnisa-Kaerunnisa lain, berakhir sama. Untuk itu, Gamal dengan ilmu dan kesungguhan yang ia miliki, bersama rekan-rekannya di Indonesia Medika (InMed), merancang klinik asuransi kesehatan dengan sampah (Garbage Insurance Clinic).
‘’Garbage Insurance Clinic, memberikan pelayanan kesehatan secara holistic. Yaitu meningkatkan kesehatan, mencegah dan mengobati sakit, serta rehabilitatif,’’ terang Gamal.
Kerja keras dan kesungguhan Gamal berbuah manis. Setelah beberapa waktu lalu, CEO InMed ini meraih Unilever Sustainibility Living Young Entrepreneurs Award, kini giliran Pangeran Charles yang mengapresiasi karya dokter muda ini.
Garbage Insurance Clinic meraih First HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneur Prize pada Jumat (31/1) kemarin. Penganugerahan tersebut, diumumkan oleh Pangeran Charles pada upacara di Istana Buckingham di hadapan CEO Unilever, Paul Polman, dan Vice Canchellor dari Universitas Cambridge, Professor Sir Leszek Borysiewicz dan di hadapan para pemimpin organisasi dan perusahaan internasional di bidang sustainabilitas.
‘’Atas penghargaan itu, kami berhak atas hadiah EUR 50.000 (setara Rp 838 juta) sebagai dukungan finansial dan paket mentoring dari Cambridge University yang dirancang secara individu,’’ ujar Gamal kepada Malang Post saat dihubungi via sambungan internasional, kemarin..
Lebih lanjut, alumnus Universitas Brawijaya (UB) ini menjelaskan, pemenang penghargaan tersebut adalah tujuh finalis yang sebelumnya sudah melalui seleksi ketat dari 511 wirausaha muda dari 90 negara.
Selain Gamal, enam finalis lainnya yaitu Anu Sridharan dari India, Blessing Mene dari Nigeria, Surya Karki dari Nepal, Isabel Medem dari Peru, Curt Bowen dari Guatemala, dan Manuel Wichers dari Mexico.
Seluruhnya berusia di bawah 30 tahun, karena program penghargaan internasional ini didesain untuk menginspirasi pemuda di seluruh dunia.
Meski masih muda, langkah yang mereka ambil sangat berperan dalam menyelesaikan isu lingkungan, sosial, dan kesehatan dengan solusi yang menginspirasi, praktis, dan jelas untuk membantu masyarakat.
‘’Dalam presentasi, saya menjelaskan, masih banyak masyarakat Indonesia yang belum memiliki asuransi kesehatan. Sedangkan data internasional menunjukkan, hampir separuh penduduk Indonesia berpenghasilan di bawah USD 2 per hari, sehingga kita bisa memprediksi alokasi dana kesehatan pada tingkat rumah tangga,’’ ujar putra pasangan Saleh Arofan Albinsaid dan Eliza Abdat tersebut.
Lalu, lanjut Gamal, ia menawarkan solusi yang bisa menciptakan model keuangan kesehatan yang memungkinkan setiap orang mendapatkan akses kesehatan dari sumber daya rumah tangga.
Ia menegaskan, sampah adalah solusi terbaik, karena setiap rumah memproduksi sampah setiap harinya. Apa yang ia lakukan adalah membuat masyarakat memobilisasikan sumber daya mereka yang terbuang dan tidak digunakan, yaitu sampah, untuk meningkatkan akses kesehatan dan menghancurkan penghalang antara akses kesehatan dengan masyarakat.
‘’Secara praktis, kami meminta masyarakat menyerahkan sampah sejumlah Rp 10 ribu dan dikembalikan sebagai asuransi kesehatan pada layanan primer,’’ ujarnya.
Gamal optimis, konsep asuransi sampah ini bisa mendorong masyarakat menjadi wirausaha sampah di rumah masing-masing sekaligus mengubah persepsi dan kebiasaan masyarakat terkait sampah serta memalihara kesehatan dengan mudah.
Hal ini dikatakan Gamal sesuai dengan visi Indonesia Medika yaitu mewujudkan sebuah visi keadilan dan kesejahteraan kesehatan bagi masyarakat Indonesia.
‘’Dalam upacara penghargaan, Pangeran Charles menyampaikan ucapan selamat kepada kami atas inisiatif ini. Menurutnya, ide ini menangani dua masalah pada saat yang bersamaan. Yaitu menangani masalah sampah untuk menyelesaikan masalah kesehatan,’’ tutur pria yang fasih membaca Al-Quran ini.
Selain Pangeran Charles, Gamal juga mendapat apresiasi dari Polly Courtice, co-chair penghargaan panel juri dan CEO Unilever, Paul Polman. Courtice mengatakan bahwa garbage insurance  membawa wawasan penelitian dan dinamisme kewirausahaan masyarakat Cambridge untuk mendukung para pemimpin muda dalam menyempurnakan inisiatif mereka.
Sedangkan Polman memberi motivasi kepada Gamal agar terus menggunakan energi dan akal untuk mempercepat pembangunan. Khususnya, di lingkungan masyarakat yang belum sepenuhnya tersentuh pendidikan dan menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa.
‘’Yang terpenting, kita harus selalu berusaha merealisasikan niat, sekecil apapun itu. Saat ini saya berencana untuk mengembangkan replikasi Garbage Insurance dengan proyek yang lebih besar di Indonesia dan dunia Internasional,’’ ungkap pria berdarah Arab itu.
Untuk itu, lanjut Gamal, ia juga harus melakukan penelitian yang lebih mendalam sebagai dasar modifikasi program yang akan menjadi role model dari konsep asuransi sampah. Tak hanya itu, Gamal bersama InMed juga akan memasuki bidang-bidang lain, seperti Sekolah Asuransi Sampah agar masyarakat yang tidak mampu dan tidak terjangkau pemerintah bisa mendapatkan pendidikan. Konsepnya, secara garis besar sama dengan Garbage Insurance, yaitu dengan membayar sampah.
‘’Tetaplah menjadi pejalan dalam jalan-jalan kebaikan, karena jalan kebaikan adalah jalan Tuhan, sehingga ia yang berjalan dalam jalan kebaikan, sesungguhnya sedang berjalan bersama Tuhan,’’ jawab Gamal, ketika ditanya pesannya kepada pemuda-pemuda Indonesia. (laily salimah)