Catatan Perjalanan ke Bangkok saat Kota Dikepung Demo (1)

Pergi ke suatu negara ketika terjadi ketegangan politik yang sangat tinggi. Itulah yang terjadi saat rombongan Malang Post berkunjung ke Thailand pada akhir Januari, saat kota Bangkok dilanda unjuk rasa anti-pemerintah yang semakin meningkat. Aksi para penentang perdana menteri Yinluck Sinawatra itu semakin meningkat setelah pemerintah memutuskan menyelenggarakan pemilu pada 2 Februari lalu sebagai kompromi memenuhi tuntutan pihak oposisi. Tapi yang diinginkan para pengunjuk rasa bukan pemilu, tapi Yingluck harus turun dari jabatannya.

Sebenarnya rombongan mau turun di depan mal Mabongkrong atau yang akrab disebut mal MBK, tapi ternyata jalanan di depan mal terbesar di Bangkok itu sudah dipenuhi oleh pengunjuk rasa. Akhirnya rombongan berhenti di depan hotel Pratuwan yang berada di ujung mal yang berdampingan dengan universitas Chilalungkorn, universitas tertua di Thailand. Begitu turun dari kendaraan, langsung disambut suara orang berorasi yang disalurkan melalui sound sistem berkekuatan besar. Saya mengira lokasi panggung demo hanya beberapa meter, tapi ternyata cukup jauh, ada di ujung jalan sekitar 500 meter.
Bagi kita yang terbiasa dengan kegiatan demo di Indonesia, jangan bayangkan yang melakukan demo sambil berdiri membawa bendera kemudian ada tukang orasi sambil menentang mega phone. Tapi, panggung demo bak panggung konser musik dengan sound sistem yang kuat dilengkapi dengan layar proyektor di sudut-sudut jalan, sehingga masyarakat yang jauh dari panggung bisa melihat dari dekat. Jalan sepanjang hampir satu kilo meter itu berubah menjadi arena demo. Selain panggung di bagian depan, di bagian tengah dibuat tenda beratap setengah lingkaran yang menutup seluruh badan jalan. Racha Dameon Road merupakan salah satu diantara tujuh lokasi demo yang tersebar di pusat kota Bangkok.
Satu sisi jalan digunakan untuk para pendemo, sebagian berteduh di bawah tenda permanen yang besar, satu sisi lagi digunakan untuk bazaar dengan aneka barang dagangan yang dijajakan di tempat ini. Aksi pendemo ini sudah berjalan sejak bulan November lalu - saat ini sudah memasuki bulan keempat - mereka datang dari berbagai penjuru negeri Thailand. Mereka yang dari tempat yang jauh, rela menginap sambil membawa tenda kecil yang dipasang di sepanjang jalan. Bagi yang tidak membawa tenda, mereka bisa tidur di emperan mal. Ketika orang berlalu lalang keluar masuk mal, mereka tak terganggu, tetap tidur dengan lelap.
Saya pikir jalan tersebut hanya digunakan untuk pendemo, tapi masyarakat umum pun boleh masuk ke dalamnya, makanya agak ragu-ragu ketika akan masuk ke jalan tersebut. Ternyata banyak orang luar masuk ke dalamnya, berbaur dengan para pendemo yang memiliki cirri khas, berkalung warna bendera Thailand dengan peluit dan mainan berbentuk tangan kalau digerakkan bisa berbunyi, seperti orang tepuk tangan. Saya pun membeli peluit dan membaur bersama para pendemo.
Para pendemo itu tidak perlu khawatir karena semua kebutuhan mereka terpenuhi, mulai makan,  minum, tidur dan kesehatan. Di setiap lokasi demo ada satu mobil ambulans yang siaga. Juga ada yang membagi-bagikan makanan dan minuman gratis. Beberapa sukarelawan membagikan nasi dengan lauk ayam atau daging, juga ada mie dalam gelas yang dicampur dengan air panas, ada kopi, tes, minuman dingin dan yang paling favorit adalah es krim.
Saya berusaha mendekati sumber suara yang terdiri dari tiga orang, dua pria dan satu perempuan. Ternyata panggung cukup jauh, harus berjalan melewati orang-orang yang duduk sambil menggelar tikar plastik atau tiduran di dalam tenda kecil. Setelah berjalan melewati kerumunan orang yang duduk maupun tidur, akhirnya sampai ke panggung yang cukup megah, tak kalah dengan panggung konser musik yang biasa digelar di lapangan Rampal. Di panggung itu diisi berbagai acara, yang utama adalah orasi para pendukung oposisi pimpinan Suthep Thaugsuban, diselingi dengan acara music, kesenian tradisional dan hiburan lain.
Selain jadi panggung orasi, tempat itu juga digunakan untuk menghibur para pendemo. Ada kelompok musik anak muda dengan music yang meriah, ada kesenian tradisional, ada pemusik akustik dan penyanyi solo sambil memetik gitar. Sesekali Suthep tampil di panggung disambut sangat meriah oleh pendukungnya. Bagi mereka yang tidak sempat datang ke MBK, bisa menyaksikan aksi demo ini secara live melalui ASTV, stasiun TV milik kelompok oposisi yang menyiarkan aksi demo ini secara live sepanjang hari dari lokasi yang  berbeda. Bagi orang luar negeri, acara itu mungkin membosankan karena diisi dengan orasi, sesekali diisi liputan tentang aksi bentrok pendemo dengan aparat keamanan.
Aksi kekerasan memang tidak terhindarkan, karena ada kelompok pendukung pemerintah yang dikenal dengan kelompok kaus merah, karena dalam aksinya selalu mengenakan kaus merah. Sejak digelar tiga bulan lalu, sekitar sepuluh orang tewas dan banyak lagi yang terluka akibat bentrokan dengan sesama pendemo maupun dengan aparat keamanan. Kalau terjadi bentrokan memang ngeri, karena ada diantara mereka yang menggunakan senjata api. Tapi di balik ketegangan itu, aksi demo ini bisa menjadi atraksi khusus bagi para turis yang datang ke Bangkok. Apalagi para pendemo itu sangat ramah menyambut orang luar yang ikut bergabung. Saya pun ikut membaur dengan ribuan pendemo sambil mengenakan kalung berwarna bendera Thailand yang dijual di jalanan dengan harga 10 Baht.
Banyak yang menyapa saya dengan bahasa Thailand, tapi tentu saya tidak bisa menjawab, karena saya tidak mengerti bahasa itu, sementara kebanyakan mereka tidak mengerti bahasa Inggris. Ada sebagian yang mengerti sedikit-sedikit bahasa Inggris sehingga bisa diajak ngobrol. Tapi aksi demo itu – meskipun dilakukan berbulan-bulan – tidak membuat masyarakat terganggu. Mal MBK, mal terbesar di Bangkok adalah tempat favorit belanja bagi turis, khususnya dari Indonesia, tetap ramai dengan orang yang belanja aneka kebutuhan. Seorang pemilik toko mengatakan, demo itu tidak berpengaruh pada kegiatan perdagangan. ‘’Kami sudah terbiasa, tidak ada masalah, pengunjung mal tetap banyak, tapi kalau bisa dihentikan saja biar lalu lintas lancar,’’ kata pemilik toko sepatu di lantai MBK tersebut. (husnun nd)