Catatan Perjalanan ke Bangkok saat Kota Dikepung Demo (2)

Tingkat kebencian masyarakat Bangkok terhadap keluarga Thaksin tampaknya sudah tidak tertahan. Hanya satu yang mereka ingin, keluarga Thaksin tidak lagi menduduki jabatan sebagai pemimpin negara, baik di pemerintahan maupun parlemen. Selain Thaksin yang pernah menjadi PM Thailand dan adiknya Yingluck Shinawatra yang kini tengag berkuasa menjadi PM, beberapa anggota keluarga Shinawatra juga terjun ke dunai politik. Kesan yang muncul di mata masyarakat adalah, anggota keluarga ini korup sehingga harus segera diturunkan dari jabatannya.

BAGI para pendemo, menurunkan Yingluck dari kursi PM adalah harga mati. Hal itu terbukti saat Yingluck menawarkan pemilu yang dipercepat, komite reformasi demokrasi Thailand pimpinan Suthep Thangsuban tetap menolak. Pemilu dianggap sebagai muslihat Yingluck untuk mencari legitimasi bahwa posisinya bisa dipertanggung jawabkan. Ketika sebagian besar rakyat Thailand menggunakan hak suaranya Minggu (2/2) para pendemo tetap melakukan aksinya bahkan mereka minta masyarakat tidak datang ke TPS.
Imbauan ini rupanya ampuh, terutama bagi sebagian besar warga Bangkok yang tetap enggan datang menggunakan hak suaranya. Mereka lebih suka menghabiskan waktunya untuk bergabung dengan kelompok penentang pemerintah yang melakukan demo secara marathon yang kini sudah memasuki bulan keempat. Aksi demo di Racha Damneon Road yang tak jauh dari toko fashion Isetan dan Platinum Plaza, mal khusus fashion di Bangkok, dipadati oleh warga. Mereka terdiri dari warga Bangkok dan dari provinsi lain di Thailand.
Di panggung utama, seperti  biasa, diisi orasi dari berbagai tokoh penentang pemerintah. Setiap kali orator mengucap kata Thaksin atau Yingluck, pendemo menyambut dengan teriakan dan menyembunyikan peluit. Suasanya pun menjadi semakin meriah ketika tampil kelompok kesenian tradisional Thai yang terdiri dari anak-anak memainkan tari dan acrobat. Di bawah panggung, seorang tokoh waria Thailand pemenang pemilihan Miss AC/DC juga ikut bergabung bersama para pendemo.
Bagi warga Bangkok, saat malam hari mereka pulang ke rumah, sedangkan yang tetap tinggal di tenda-tenda dan emperan toko umumnya masyarakat yang datang dari wilayah Selatan seperti Pathani dan Hatchai. ‘’Setiap hari mereka tinggal di tenda, nanti kalau uangnya sudah habis, mereka pulang dan kembali lagi ke sini. Tapi secara umum kebutuhan pokok mereka seperti makan, minum dan tidur sudah terjamin,’’ kata  Suthiporn Chirapanda warga Bangkok yang aktif ikut demo. Hari Minggu itu Suthiporn datang bersama rombongan sebuah perusahaan yang menyediakan makanan dan minuman bagi pendemo.
 Banyak kelompok masyarakat dan perusahaan yang menyediakan konsumsi bagi pendemo di berbagai lokasi. Bagi Suthiporn, mereka tetap pada tuntutannya untuk melakukan reformasi demokrasi di Thailand. Arti reformasi itu adalah turunnya Yingluck, bukan pemilu atau upaya yang lain. Hal itu terungkap dari berbagai poster yang mereka bawa : Reform before Election, Shutdown Bangkok, Restart Thailand, Stop Thaksin Eating Thailand, Thaksin is Father  of Corruption dan tulisan lain yang umumnya bernada keras. Tapi ternyata tuntutan mereka masih belum membuahkan hasil meskipun aksi mereka sudah berlangsung tiga bulan lebih.
Para pendemo memberi deadline kepada Yingluck untuk turun dari jabatannya 13 Januari lalu, kalau tidak mereka akan melumpuhkan Bangkok. Maka muncul istilah  Bangkok Shut Down, Restart Thailand untuk menekan Yingluck agar segera turun, tapi sampai batas yang ditetapkan tuntutan mereka belum berhasil, adik Thaksin itu masih bercokol sebagai PM. Seperti yang diungkap Suthiporn, mereka akan terus melakukan aksinya sampai pemerintahan Yingluck turun dari jabatannya, karena mereka yakin aksi tersebut didukung rakyat Thailand.  
Suthiporn adalah pendukung setia kelompok penentang pemerintah. Dari mundur dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri di kementrian pertanian dan lebih memilih sebagai orang bebas. Ketika saya menyebut dari Indonesia, dia tampak antusias karena dia pernah bertugas di Indonesia, saat dilaksanakan proyek transmigrasi tahun 70-an. Dia pernah ke Bali, Yogyakarta dan proyek transmigrasi di Sulawesi Selatan.
Selain dukungan dalam bentuk kehadiran dalam demo, masyarakat juga memberikan dukungan berupa makanan, minuman dan kebutuhan sehari-hari. Di ujung lokasi demo yang terletak di depan hotel Pratuwan yang menjadi satu dengan MBK Mal, diletakkan sebuah kotak amal. Siapa siaja bisa menyumbangkan uangnya untuk mendukung aksi menentang pemerintah. Dari dalam kotak transparan setinggi sekitar satu meter itu terlihat banyak uang Baht dedngan berbagai pecahan yang dimasukkan oleh para penyumbang. Seorang panitia menyebut, setidaknya 5 juta Baht atau sekitar Rp 190 juta setiap hari terkumpul dari kotak amal yang tersebar di berbagai lokasi. Uang tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan sehari-hari para pendemo. Aksi demo tersebut memang membutuhkan biaya besar, karena melibatkan banyak orang dengan berbagai atraksinya selama berbulan-bulan. Tidak jelas, kapan aksi ini akan berakhir. (husnun nd)