Catatan Perjalanan ke Bangkok saat Kota Dikepung Demo (3)

Meski negara terus diguncang demo, Pantai Pattaya Thailand, tetap menggeliat. Padahal, tidak seindah Pantai Kuta, Bali. Bahkan, masih lebih indah Pantai Balekambang di Malang Selatan. Tetapi, kenapa Thailand mampu mendulang miliaran Bath per tahun dari kawasan Pattaya. Berikut catatan kehidupan malam di Pattaya, sekalipun demo juga tak pernah berhenti.

Berkunjung ke Bangkok, ibukota Thailand tidak lengkap kalau tidak menuju Pattaya.  Pattaya, dulu adalah desa nelayan kecil di Pesisir Teluk Thailand. Tepatnya 165 km Tenggara Kota Bangkok, di Provinsi Chonburi. Untuk menuju Pattaya, bukan pekerjaan susah. Turun dari Suvarnabhumi Airport paling mudah naik taksi. Tarifnya kisaran 800 Bath atau sekitar Rp 350 ribu dengan jawak tempuh kisaran 2 jam.
Primadona Pattaya yang paling utama adalah pantainya, Pantai Pattaya. Membentang dari Timur hingga ke Barat sepanjang kurang lebih 2 km, pantai Pattaya, adalah surga di siang hari dan surga di malam hari.
Ratusan kursi pantai, disediakan ratusan Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mencari keberuntungan di pinggir pantai Pattaya. Kursi itu tidak gratis. Meski kita makan dan minum di PKL di situ kalau ingin duduk di kursi pantai dikenakan sewa 100 Bath (sekitar Rp 39 ribu) per jam. Untuk menikmati satu buah kelapa mudah plus sedotan kita bayar 40 Bath (sekitar Rp 16 ribu).
Pada musim panas seperti sekarang di Thailand, setiap hari, ribuan wistawan asing silih berganti menikmati indahnya dan enaknya Pantai Pattaya. Aktifitas kebanyakan yang mereka lakukan adalah berjemur diri. ‘’Saat berjemur, mereka tidak bebas melepas BH seperti dulu. Karena sudah ada larangan pemerintah Thailand,’’ ungkap Saudi, salah seorang tour leader di Thailand.
Jika bosan berjemur, wisatawan bisa memanfaatkan berenang di tenangnya laut Teluk Thailand. Sebagian lagi, ada yang memanfaatkan jasa snoorkling menggunakan perahu nelayan menuju pantai terdekat. Atau juga menikmati paralayang yang ditarik kapal boat yang tersedia di sepanjang pantai.
‘’Paling nyaman di sini berjemur dan berenang. Lautnya sangat tenang dan ombaknya kecil. Tidak mungkin kami melakukan surfing,’’ ujar Margareth, cewek asal Perancis yang datang Pattaya bersama teman-temannya.
Hirup pikuk Pattaya, tidak saja di pantainya. Di sepanjang Pattaya Road, Banglamung, Pattaya, wisatawan mancanegara disuguhkan aneka jenis wisata. Bisa wisata belanja di puluhan mall, minuman-minuman di bar dan café yang buka mulai jam 10.00 sampai dini hari, juga sajian aneka kuliner.
Sejak pagi hingga malam hari, bar di sepanjang Pattaya Road tidak pernah sepi pengunjung. Tidak hanya minuman keras, mereka juga menyediakan pramusaji (waiters) cantik-cantik. Jika cocok, paramusaji bisa di-booking untuk diajak kencan. Untuk sekedar menemani minum saja tarifnya bervariasi antara 100 Bath hingga 1.000 Bath per jam. Tergantung kualitas bar dan waiters bersangkutan.
Untuk membawa mereka kencan, bukan perkara susah dalam mencari penginapan. Hotel tanpa bintang (losmen) sampai hotel berbintang sekelas Hilton Hotel ada di Pattaya Road.
Padahal losmen yang letaknya di gang-gang kecil, minimal 600 Bath sekitar Rp 240 ribu per jam. Biasanya, turis yang memanfaatkan ini adalah para kelasi-kelasi muda (angkatan laut) yang kebetulan singgah di Pattaya.
Tidak ada rasa tabu apalagi malu. Siang bolong pun mereka dengan santai dan nyaman membawa waiters atau juga Pekerja Seks Komersial (PSK) ke losmen-losmen yang posisinya biasanya ada di gang sebelah bar atau café tempat mereka minum. Layaknya pasangan suami istri, sepanjang perjalanan menuju losmen mereka pun menikmati percakapannya.
Seks wisata bebas siang hari di Pattaya, bukanlah hal terlarang. Lalu lalang PSK dan banci menjajakan diri menjadi pemandangan sehari-hari. Sebab, karena merekalah, Pattaya menjadi lokasi kunjungan utama negeri ‘milik’ Perdana Menteri Thaksin Sinawatra.
‘’Meski pun ada demo, wisatawan tetap aman dan nyaman menikmati Pattaya. Karena, pariwisata seks yang ada di Bangkok turu menyumbang devisa negara,’’ ujar Saudi, yang mengaku sudah belasan kali mengantar pejabat dan anggota DPRD di Indonesia menikmati nikmatinya surga Pattaya. (hary santoso)