Total Mengemban Amanah, Pinjamkan Dana Pribadi untuk Kuliah Terapis

PUSAT Layanan Autis (PLA) Kota Malang sejak berdiri 2012 hingga sekarang dipimpin oleh sosok wanita yang istimewa, Kunti Nur Sasiati, insinyur alumnus UGM Yogyakarta. Semasa masih menjadi PNS aktif ia berkarir di Dinas Pendidikan Kota Malang. Memasuki masa pensiun, Kunti justru mendapatkan amanat untuk mengembangkan LPA yang kala itu satu-satunya di Indonesia yang dimiliki pemerintah daerah. Bahkan baru-baru ini ia baru saja mendapat kesempatan mengikuti kursus penanganan autis di Australia Barat.

Lokasi LPA Kota Malang berada di pinggiran kota tepatnya di kawasan sekolah internasional Tlogowaru. Lembaga ini sekarang menjadi rujukan berbagai daerah di Indonesia yang akan mendirikan layanan untuk anak autis. Sejak berdiri pada Mei 2012, layanan milik pemerintah Kota Malang ini terus berbenah. Di bawah kepemimpinan Kunti Nur Sasiati S.Tp banyak hal baru yang terus dikembangkan, termasuk konsep layanan anak autis yang baru dipelajarinya.
Ya, di usianya yang sudah 59 tahun, perempuan kelahiran 11 Oktober 1955 ini tak berhenti belajar. Baru-baru ini ia terpilih mengikuti kursus di Australia Barat, program kerjasama pemerintah provinsi Jawa Timur dan pemerintah negara bagian Australia Barat. Ada 20 orang di Jawa Timur yang ikut dalam program ini, profesinya bermacam-macam, mulai dari dokter, perawat, bidan, pengelola layanan autis, dan terapis.
”Bayangan saya di sana belajar pengelolaan, tapi ternyata peserta diajari bagaimana menangani anak autis,” ujarnya.
Beruntungnya, ia masih bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris walau tidak terlalu lancar. Selama kegiatan pelatihan ia harus berkomunikasi dengan pembicara dan juga anak-anak autis yang ditangani dengan Bahasa Inggris. Hasil pelatihan di Australia Barat itu saat ini ia dokumentasikan sendiri dan biasanya diberikan kepada siapa saja yang studi banding ke PLA Malang.
”Semua daerah yang akan mendirikan PLA sekarang ini direkom untuk belajar ke Malang, jadi saya bagikan juga pengalaman waktu di Australia Barat,” ucapnya.
Oleh-oleh yang kini dikembangkan di PLA Kota Malang adalah model penanganan anak autis. Jika sebelumnya lebih menekankan pada layanan satu anak satu terapis, konsep yang baru justru lebih banyak mengajak anak dalam satu grup bermain. Sebab pada dasarnya anak autis kesulitan dalam berkomunikasi dengan temannya, sehingga perlu dibiasakan berada di lingkungan yang ramai untuk bisa saling berkomunikasi.
”Ada siswa kami yang selalu menutup telinga kalau mendengar temannya ramai, karena itu sekarang kami biasakan sering bermain dan berteriak-teriak bersama temannya,” kata dia.
Bergelut dengan dunia anak autis mewarnai masa pensiun ibu dari tiga putra ini. Sebelum pensiun ia sudah membayangkan bisa sering berkumpul dengan keluarganya, apalagi anak bungsunya masih kuliah di FK UB, sementara putri pertamanya berprofesi sebagai dokter gigi dan putra keduanya adalah peneliti di Bank Indonesia.
”Waktu mau pensiun saya sudah membayangkan mau ngopeni keluarga, tapi kepala dinas pendidikan memberikan amanah ini,” kata dia.
Tawaran itu pun lalu disampaikan kepada suaminya, Dr.Ir. Sujanto Simoen yang merupakan dosen peneliti di Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya (UB). Atas izin sang suami, ia pun mantap mengabdikan masa pensiunnya di PLA yang berada di komplek sekolah internasional Tlogowaru itu.
”Saya memang tidak memiliki background psikolog atau berkaitan autis, tapi kepala dinas yang waktu itu dijabat Bu Yuyun (Sri Wahyuningtyas, red) percaya saya mampu mengelola karena tugas saya memang untuk urusan manajemennya saja,” ungkap Kunti.
Sebelum mulai pembukaan PLA, ia pun aktif mengikuti pelatihan di Indocare, layanan autis milik swasta. Selain Kunti, ada juga beberapa calon terapis yang ikut serta.
Setiap hari ia menempuh perjalanan dari rumahnya di Tawangmangu menuju Tlogowaru, meski jauh ia melakoninya dengan ikhlas. Perempuan yang rajin puasa ini harus menyetir sendiri menantang macet dan jalur yang tak mudah.
”Kalau macet biasanya kaki sampai pegal menginjak rem, maklum sudah tua jadi kaki sering tiba-tiba kram,” guraunya.
Pengorbanan Kunti untuk membesarkan PLA tak hanya sampai di situ. Ia juga merelakan sebagian uangnya untuk dipinjam oleh para tenaga terapis untuk menempuh studi di Universitas Negeri Malang (UM). Ada beberapa terapis yang saat ini sekolah dengan biaya dibantu oleh Kunti dan kemudian akan dikembalikan secara mengangsur setelah mereka selesai kuliah. Ada 14 terapis yang sedang kuliah di UM, karena tidak ada dana dari pemerintah maka Kunti meminjamkan dana kepada mereka.
”Saya mendukung mereka untuk berkuliah lagi, menambah bekal keilmuan,” tandas perempuan yang tidak mengambil keuntungan sepeserpun dari pinjaman dana yang ia keluarkan. (lailatul rosida/han)