Menjemput Tropi The Best of Java Newspaper di Bengkulu (1)

Sebagai koran lokal independen, meraih penghargaan berskala nasional, adalah bentuk pengakuan. Apalagi untuk kategori pembaca muda, kelompok pembaca yang mulai banyak meninggalkan media cetak. Perjuangan selama lima tahun untuk menyediakan halaman khusus anak-anak muda itupun, mulai membuahkan hasil. Berikut catatan dari awarding night Serikat Perusahaan Pers, yang berlangsung Sabtu malam (9/2/14), di Bengkulu.

Sekitar lima tahun lalu, di Hotel Grand Mahakam Jakarta, seratusan pemimpin redaksi Jawa Pos Grup, dari seluruh Indonesia berkumpul. Pertemuan rutin kala itu, punya agenda utama. Membuat rubrikasi khusus anak muda.
Azrul Ananda, Direktur Jawa Pos sekarang, membawa konsep rubrik Deteksi, dalam forum yang berlangsung selepas magrib. Bedanya, dia meminta agar masing-masing media, menyesuaikan karakter 'Deteksi' dengan wilayah masing-masing.
Termasuk nama, harus lebih membumi. Semua sepakat. Jumlah halaman, tergantung jumlah halaman koran masing-masing. Minimal ada satu halaman khusus untuk anak muda.
Pertemuan berakhir, tapi diskusi masih terus berjalan hingga dini hari. Akhirnya muncul kesepakatan. Dibuat nama yang sama. Expresi. Tetapi untuk konten, benar-benar harus bernafas seperti aroma lokal di daerah masing-masing. Semua kembali sepakat.
''Intinya, yang mengelola Expresi harus redaktur yang belum menikah, masih berjiwa anak muda dan merekrut anak-anak muda sebagai reporter. Boleh ambil anak SMA atau mahasiswa,'' pesan Azrul malam itu.
Sekembali dari Jakarta, Malang Post langsung bergerak cepat. Tim dibentuk. Dipimpin Dewi Yuhana, salah satu redaktur Malang Post. Halaman disiapkan. Dua halaman sekaligus. Sementara menunggu memiliki wartawan muda, yang masih berstatus siswa atau mahasiswa, halaman diisi oleh wartawan-wartawan muda. Termasuk even-even anak muda, lebih digencarkan lagi. Tujuannya, memperkenalkan halaman anak muda di Malang Raya.
''Karena koran sekarang, tidak hanya sekadar mencari berita. Tapi juga harus membuat berita lewat even. Apalagi dunia anak muda, sangat dinamis. Mereka cepat bergerak dan mudah berubah. Itu harus diperhatikan,'' sebuat Azrul di kesempatan lain.
Ternyata dalam perkembangannya, nama Expresi harus disesuaikan. Terutama agar tetap enak dan bisa diterima kalangan anak muda, di daerah masing-masing. Hasilnya, dua tahun setelah pertemuan Grand Mahakam, banyak media hadir dengan rubrik anak muda, tapi dengan nama berbeda.
Seperti Radar Banjarmasin memakai Radar Muda, Kaltim Post memakai XsPresi ataupun Manado Post yang masih setia dengan Espresi-nya. Sementara Malang Post, yang awalnya menggunakan nama Expresi M-Teens, akhirnya memilih memakai nama M-Teens.
Ternyata berkembangnya rubrik-rubrik anak muda tersebut, membuat SPS - yang dulunya kepanjangan dari Serikat Pekerja Surat Kabar - mewadahi dalam bentuk penghargaan tersendiri. Sebelumnya, SPS sudah memberikan penghargaan untuk halaman depan koran terbaik, Indonesia Print Media Award (IPMA) yang sudah masuk tahun kelima.
Kemudian untuk majalah, ada penghargaan Indonesia in-house Megazine Awards (InMA), yang masuk tahun ketiga. ''Dan kali ini, setelah SPS berubah menjadi Serikat Perusahaan Pers, memberikan penghargaan yang baru untuk rubrikasi anak-anak muda. Karena, bagaimanapun juga, anak-anak muda itu, harus terus dikenalkan dengan koran. Media yang menyediakan halaman khusus untuk anak muda, harus mendapat apresiasi khusus pula,'' sebut Dahlan Iskan, Ketua SPS yang juga Menteri BUMN tersebut, dalam sambutannya.
Untuk bisa menjadi pemenang, bukan pekerjaan mudah. Harus bersaing dengan seluruh media di Indonesia. Tidak peduli, apakah media itu beroplah ribuan, puluhan ribu, atau bahkan mungkin ratusan ribu. Semuanya ada dalam satu penilaian yang sama.
Malang Post pun, lewat rubrik M-Teens dinilai menjadi salah satu dari sekian banyak peserta, yang pemenangnya akan diumumkan dalam peringatan Hari Pers Nasional di Bengkulu.
''Kami sempat kaget setelah mendapat undangan untuk hadir dalam awarding night di Bengkulu. Benar-benar tidak menduga, kalau bisa menjadi salah satu pemenang,'' ujar Dewi Yuhana, redaktur M-Teens yang sebentar lagi bakal menggelar M-Teens School Competition itu.
Ternyata, undangan yang mendadak datangnya itu, memunculkan masalah baru. Bengkulu, sekalipun kota provinsi, tetapi tidak banyak ada hotel di sana. Hingga berangkat ke kota yang terkenal dengan bunga rafflesia itu, masih belum jelas, akan menginap dimana.
''Kalau terpaksa tidak ada hotel, ya sudah, saya akan menginap di kantor Rakyat Bengkulu saja. Saya sudah kontak Zacky, Pemred Rakyat Bengkulu. Dia juga akan membantu carikan hotel. Karena panitia tidak menyediakan akomodasi selama disana,'' sebut Sunavip Ra Indrata, Pemred Malang Post, yang akan menerima penghargaan tersebut.
Bahkan pesawat pun, lumayan susah. Bengkulu, kota yang memiliki Pantai Panjang, sebuah pantai sepanjang 10 km yang sangat eksotik itu, ternyata hanya dilayani tiga maskapai penerbangan. Rutenya hanya Jakarta - Bengkulu dan sebaliknya. (avi/bersambung)