Jadi Jujukan Kuliah Mahasiswa Asing

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) meraih prestasi istimewa dengan kesuksesannya mendapatkan akreditasi institusi A pada 2014 ini. Prestasi tersebut seakan membuka jalan bagi perguruan tinggi Islam negeri tersebut untuk mewujudkan mimpi menjadi world class university. Sebab bagaimana pun tidak mudah meraih akreditasi institusi dengan nilai A.
Akreditasi institusi beberapa bulan terakhir ini menjadi perbincangan hangat di perguruan tinggi. Sebab dalam Undang-Undang 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi (Dikti) disebutkan ijazah dinyatakan legal jika dikeluarkan oleh kampus yang institusi dan prodinya terakeditasi. Dengan demikian masyarakat harus kian teliti memilih perguruan tinggi, khususnya terkait akreditasi. Jika salah pilih, legalitas ijazah menjadi taruhannya. Perguruan tinggi diberi  waktu hingga  10 Agustus 2014 nanti untuk memroses akreditasi institusinya.
Di Kota Malang, perguruan tinggi yang sudah terakreditasi institusi baru tiga kampus, yaitu Universitas Brawijaya (UB) dengan akreditasi A, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan akreditasi A dan Unisma Malang dengan akreditasi B. Tentu saja akreditasi A yang diraih UIN Malang menjadi sangat istimewa karena menambah deretan perguruan tinggi berkualitas di Kota Malang.
“Tidak mudah memroses akreditasi institusi A, karena mulai dari visi, misi, tujuan, strategi sampai penganggaran harus runtut dan sesuai,” ungkap Rektor UIN Maliki Prof Dr Mudjia Rahardjo kepada Malang Post.
Persiapan menuju akreditasi institusi ini dimulai sejak visitasi Asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) PT ke UIN Maliki pada 6 November 2013. Penilaian dilakukan didasarkan atas beberapa penilaian yaitu aspek akademik, kelengkapan laboratorium, sosial, lulusan atau alumnisnya dan kegiatan spiritual. Asesor BAN PT yang dikirim ke UIN Maliki adalah asesor yang dikenal keras dan ketat dalam penilaian. Namun kabarnya Asesor tersebut justru terkagum-kagum melihat perkembangan dan inovasi yang ada di kampus eks IAIN itu. Mereka pun memberikan nilai di atas standar bagi UIN Maliki setelah proses visitasi berlangsung. Pada 16 Januari 2014 berdasarkan SK BAN PT UIN Maliki dinyatakan terakreditasi A dengan skor penilaian 634 atau sangat baik.
Jika berbicara perkembangan di dalam kampus UIN Maliki, siapa pun pasti akan sepakat dengan penilaian sangat baik dari BAN PT itu. Salah satu yang cukup menonjol dari kampus ini adalah jumlah mahasiswa asing yang kini berjumlah 250 orang dari 29 negara. Mereka berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand, Papua New Ginie, Madagaskar, Sudan, Libia, Filipina, Rusia dan bebarapa negara lain.  Mahasiswa dari seluruh negara ASEAN sudah ada di UIN Maliki dan menempuh pendidikan baik S1 maupun S2. Jumlah ini ditargetkan akan terus meningkat hingga empat tahun kedepan minimal bisa mencapai 10 persen dari total mahasiswa UIN Maliki.
Hubungan baik kampus yang juga meraih predikat pengelola Badan Layanan Umum (BLU) terbaik dari Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) ini  dijalin sejak lama. Mahasiswa asing tersebut datang karena dikirim oleh negaranya melalui kerjasama antar negara, atau ada juga yang dikirim oleh universitas karena kerjasama antar perguruan tinggi. Tapi tak sedikit pula yang datang karena keinginan sendiri.
Mantan Rektor UIN Maliki Prof Dr Imam Suprayogo menuturkan, sebenarnya sudah lama kampus ini memiliki  mahasiswa asing, yaitu dari Australia. Akan tetapi mereka hanya mengikuti short course  tentang   Bahasa Indonesia dan kebudayaan Islam. Kegiatan ini biasanya memakan waktunya singkat, hanya selama kurang lebih  antara tiga sampai enam bulan.  Pada setiap angkatan, program tersebut diikuti oleh sekitar 35 orang mahasiswa, dan hingga saat ini  sudah berjalan beberapa angkatan.
Baik mahasiswa program S1, pascasarjana,  maupun kursus singkat umumnya betah tinggal di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Dari sekian banyak mahasiswa asing dari berbagai negara itu belum ada yang mengundurkan diri, kecuali mereka yang memiliki problem  pribadi, hingga perlu dipulangkan sebelum program kuliahnya selesai.
Keberadaan mahasiswa asing bagi UIN Maliki dipandang sangat penting. Banyaknya mahasiswa asing itu  menunjukkan bahwa kampus Islam ini telah dipercaya oleh beberapa negara,  hingga  kemudian dijadikan sebagai tempat tujuan belajar. Selain itu, akhir-akhir ini banyak pimpinan perguruan tinggi asing datang ke UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, seperti dari Thailand, Malaysia, Maroko, Siria, Rusia, India, Australia, dan lainnya,  untuk menjalin kerjasama.
Inovasi yang lahir dari kampus ini salah satunya juga didorong potensi SDM dosennya yang hampir 90 persen adalah dosen muda. Mereka aktif menjalin kerjasama di luar negeri, menjadi pembicara dalam berbagai even internasional, dan juga aktif menulis di jurnal ilmiah internasional. Dinamika luar biasa inilah yang membuat kampus ini semakin menonjol, dan lambat laun menghapus citra pendidikan Islam yang di cap kumuh, tidak maju, keras, terbelakang dan bodoh. (lailatul rosida/han)