UIN Maliki Menuju World Class University (habis)

Lahirkan Penghapal Alquran yang Ilmuwan
MENJADI Kampus berkelas internasional dengan mengandalkan keunggulan lokal, setidaknya hal itulah yang akan diusung UIN Maliki Malang yang menuju proses go international. Ada banyak kekhasan yang akan terus dipertahankan dan bahkan menjadi keunggulan di kampus eks STAIN ini.

Ada satu fasilitas di UIN Maliki yang tak dipunyai oleh perguruan tinggi lain, yaitu Ma’had Aly. Awalnya keberadaan ma’had (pondok) ini hanya sebagai pelengkap pendidikan yang ada di sana, namun dalam perkembangannya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan perkuliahan. Bahkan ada beberapa mata kuliah yang tidak bisa ditempuh kalau belum mengikuti kegiatan di ma’had.
“Ada mata kuliah yang harus ditempuh di ma’had dan itu menjadi pra syarat mengikuti kuliah Alquran dan Hadist yang ada di kartu rencana studi mahasiswa,” ungkap Humas UIN Maliki, Sutaman kepada Malang Post.
Pondok yang ada di UIN Malang pada prinsipnya memang sama saja dengan pondok yang ada di pesantren. Di bawah pimpinan Drs. KH Chamzawi M.HI dan Dr. KH Isyroqunnajah M.Ag pesantren ini menjadi tempat bagi para mahasiswanya dalam memahami kultur dan keilmuan agama secara lebih mendalam. Kegiatan di dalamnya menjadi penyempurna bagi mahasiswa yang memiliki keilmuan tinggi setelah menempuh program sarjana. Tentu saja melalui kegiatan dalam rangka peningkatan kedalaman spiritual khas di ma’had yang berkapasitas 3500 orang ini. Kebiasaan salat malam dan dzikir pun menghiasi keseharian santri, yang adalah mahasiswa baru UIN Maliki.
“Hanya di kampus ini saja semua mahasiswa baru wajib tinggal di ma’had, kampus Islam lainnya belum ada yang mewajibkan,” ujar Rektor UIN Maliki Prof. Dr. Mudjia Rahardjo.
Kewajiban bagi mahasiswa tinggal di ma’had baru diterapkan pada tahun 1999. Satu tahun setelah ma’had dibangun pada 1998. Karena wajib bagi mahasiswa baru, maka setiap tahunnya kampus ini tak pernah menerima mahasiswa lebih dari kapasitas ma’had meski setiap tahun peminatnya selalu bertambah dan meningkat. Dari ma’had pula lahirlah para mahasiswa penghafal Alquran yang mempunyai semangat belajar terhadap Alquran sangat tinggi.
Hingga saat ini tak kurang dari 2500 mahasiswa UIN Maliki adalah para penghafal Alquran. Istimewanya lagi, setiap wisuda sejak perguruan tinggi ini berubah menjadi universitas, wisudawan yang meraih nilai terbaik selalu dari mereka yang hafal Alquran.
Menurutnya, tradisi wajib satu tahun di ma'had ini dilakukan agar lulusan UIN Maliki menjadi lulusan yang berjiwa ulama dan ilmuwan, serta ilmuwan yang ulama. Karena itulah para calon ilmuwan tersebut harus tinggal di pondok dan mengikuti serangkaian program dan pembinaan khusus.
Mantan Pembantu Rektor 1 UIN Maliki ini menuturkan pandangan UIN Maliki adalah mengintegrasikan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan agama. Sebab menurutnya ilmu semuanya dari Allah. Saat belajar Kimia harus disandingkan dengan Alquran, begitu pula ketika belajar biologi dan ilmu lain. ”Semua ilmu adalah agama, sumbernya dari Allah," kata dia.
Menariknya lagi, ma’had tak hanya menjadi tempat tinggal mahasiswa baru, tapi juga mahasiswa asing yang sedang studi di UIN Maliki. Mereka berbaur dan saling belajar budaya masing-masing dan hidup saling menghormati.
“Kami ingin menampilkan Islam dengan wajah akademik yang berkualitas, dan ini bisa dilihat oleh masyarakat internasional di UIN Maliki,” tegas Mudjia.
Kekhasan yang dimiliki UIN Maliki inilah yang akan menjadi modal untuk go international, sehingga kebanggaan tak hanya saat orang bisa kuliah di Universitas Al Ahzar tapi ketika dapat berkuliah di UIN Maliki Malang. Modal lain yang menjadi andalan adalah kualitas SDM dosen yang sudah meng-internasional. Buktinya saja tak sedikit dosen UIN Maliki yang sudah menjadi pembicara di berbagai belahan dunia. Saat ini pun ada dosen dari Fakultas Saintek yang berada di Ummul Quro University Mekkah dan Universitas Islam Madinah untuk berbagi pengalaman integrasi sains dan Islam ala Indonesia.
“Saat ini alumni Al Ahzar ada yang melanjutkan ke UIN, bahkan dari Jerman dan Rusia juga jumlahnya besar-besaran studi di sini,” tuturnya bangga.
Perolehan status akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) Perguruan Tinggi (PT) tak lantas membuat kampus ini terlena. Sebab lima tahun lagi akan ada re-akreditasi yang harus dilewati untuk membuktikan apakah akreditasi A masih layak disandang kembali. Kerja keras seluruh civitas cukup berat di masa mendatang untuk mewujudkan pendidikan Islam berkualitas dan berkelas internasional. Konsistensi pimpinan perguruan tinggi untuk mengawal akan ditunjukkan di lima tahun mendatang. Sebab bagaimana pun memertahankan lebih berat daripada meraihnya, lengah sedikit saja bisa terpeleset.
“Saya berharap kampus ini terus kondusif, tak ada demo dan semuanya iktu merawat dan menjaga apa yang sudah dimiliki di kampus ini,” imbuh Mudjia. (lailatul rosida/han)