Letusan Kelud yang Mengubah Segalanya (2)

Sejumlah pemuda duduk di atas dam sungai lahar Asmorobangun, mereka menggenggam kamera ponsel. Sejurus kemudian membungkukkan badan ke arah sungai dan memotret aliran air. Masih kurang, tangan menjulur ke depan kepala, jepreet, jadilah foto selfie di lokasi bencana.

Erupsi Gunung Kelud memang luar biasa dampaknya. Secara kemanusian mengundang simpati dan empati dari seluruh lapisan masyarakat di berbagai daerah. Sayangnya, erupsi Kelud juga mengundang rasa penasaran orang-orang, untuk datang ke lokasi bencana.
Mereka ini disebut wisatawan bencana, datang untuk melihat, merekam dan berfoto-foto selfie. Kedatangan para wisatawan dadakan ini mengundang reaksi dari para korban bencana. Tentu saja reaksi negatif yang muncul, sebab kedatangan mereka bergelombang dalam jumlah besar.
Sungai Lahar Asmorobangun misalnya, dikepung wisawatan dadakan yang datang karena penasaran. Mereka ingin melihat dari dekat situasi bencana, sekaligus untuk berfoto ria. Sebelum datang ke sungai itu, mereka sebelumnya juga memenuhi pabrik kopi PT Mangli Dian Perkasa yang rubuh.
”Saya sudah kesal sekali, ingin rasanya memukul, saya ingatkan jangan masuk masih nekat,” keluh salah satu pemuda dari Dusun Mangli kepada sesepuh dusun Juwari.
Pemuda itu lantas mengambil tangga bambu dan dibawa ke tengah jalan. Tekadnya bulat untuk memagari desa dari wisatawan bencana. Sebab, dengan banyaknya orang asing, ada rasa khawatir terjadi aksi pencurian.
”Saya sudah kejar dua orang yang masuk areal pabrik, ternyata anak desa sebelah, saya pikir pencuri,” imbuh pemuda itu.
Akibat munculnya banyak wisatawan dadakan ini membuat pihak kepolisian bersikap tegas. Wakapolsek Puncu Aiptu Sugiyanto bahkan memerintahkan jalan desa diblokade, jadilah sebuah truk Polisi melintang di Jalan Desa Puncu.
”Orang-orang asing maksudnya dari luar desa, bahkan ada dari luar kota seperti Surabaya iseng naik ke Laharpang, itu ring 1, di sana juga sudah tak dihuni warga,” ujar Sugiyanto.
Selain di kawasan berisiko bencana, kedatangan orang-orang ini juga dikhawatirkan disusupi pencuri. Bahkan Kepolisian menurunkan tim untuk memantau ke kawasan rumah yang tak dihuni warga.
”Brimob kami tempatkan di rumah-rumah yang rusak, ya untuk menjaga situasi,” imbuh dia.
Kondisi seperti itu tak hanya terjadi di Kecamatan Puncu, sebuah kawasan yang paling dahsyat terdampak letusan. Bahkan pihak Polres Kediri Kabupaten sampai harus membentuk tim khusus. Tim ini disebar di wilayah Kecamatan Ngancar, terutama Desa Sugihwaras. ”Saya ditugaskan menjaga situasi, ya keliling ke kawasan rawan ini, setiap orang asing pasti saya datangi,” aku Brigadir Nurhadi dari Polres Kediri Kabupaten.
Kasatreskrim Polres Kediri Kabupaten AKP Edi H mengatakan, pihaknya mengerahkan 25 orang. Mereka menaiki sepeda motor trail dan bertugas menyisir kampung yang kosong. Selain mencegah aksi pencurian, sekaligus juga untuk menyisir warga yang masih enggan dievakuasi.
”Kami ada untuk memberikan ketenangan kepada warga yang mengungsi,” jelas Edi.
Hanya saja, aksi dari para Polisi ini masih belum efektif. Buktinya puluhan orang masih nekat datang ke kawasan rawan bencana 1. Mereka berfoto ria dan akhirnya menimbulkan kemarahan warga korban bencana. ”Orang-orang itu bukan orang sini, entah kenapa banyak sekali yang datang mengambil foto, mereka bukan wartawan,” aku Kepala Dusun Sugihwaras Eko Arifiono.
Eko bahkan sempat mencegat beberapa orang dan meminta agar berhenti. Dia terpaksa juga tak mengungsi bersama 49 pria desa lainnya. Mereka akan tetap di desa untuk mengamankan situasi.
”Masih banyak binatang ternak dan harta benda, jika situasi gawat pasti kami mengungsi dan turun,” tandasnya.(Bagus Ary Wicaksono/han)