‘Habiskan’ Enam Ketua, Diawali Jadi Pekerja Kasar

Mengawali pengabdian di KONI Kota Malang, sebagai pekerja kasar, Sumartoyo tak mudah patah semangat. Ia melaksanakan segala tanggung jawabnya dengan sepenuh hati. Karena pengalaman dan pemahamannya selama di KONI Kota Malang sejak beberapa dekade terakhir ini, roda organisasi berjalan dengan baik dan sukses mencetak atlet-atlet berprestasi.

Sumartoyo menjadi aktor di balik layar, dalam suksesnya cabang olagraga (cabor) di bawah naungan KONI Kota Malang dalam mencetak atletnya. Ia bagaikan computer, yang menyimpan data-data KONI Kota Malang. Data tersebut diolah sehingga membuahkan hasil positif bagi dunia olahraga Kota Malang.
Simpanan data yang dimiliki Sumartoyo, tidak didapat dalam waktu singkat. Setidaknya, sejak 28 tahun silam, ia sudah berkecimpung di dunia olahraga. Beberapa tahun masuk dunia olahraga, pria kelahiran Malang, 26 Maret 1967 ini, memulai pengabdiannya sebagai pengantar surat di KONI Kota Malang pada awal tahun 1987 silam.
Selain itu, ia juga pernah aktif sebagai pengurus di cabor dan pelaksana di beberapa even olahraga. Pengalaman itu, di antaranya sebagai wasit balap sepeda nasional dan internasional. Ditambah lagi jabatan sebagai Sekretaris Umum ISSI Kota Malang, merangkap Sekretaris Umum PASI Kota Malang selama 12 tahun.
Sumartoyo juga pernah mengabdi sebagai Sekretaris Umum Pertina pada tahun 2003-2006. Tak cukup sampai disitu, selama 10 tahun ia pernah pula berkecimpung sebagai panitia lomba lari maraton tingkat nasional.
‘’Awalnya saya dulu berkecimpung di olahraga sebagai pekerja kasar. Sebagai pengantar surat di KONI Kota Malang sekitar tahun 1987,’’ ujarnya kepada Malang Post.
Ia harus menunggu waktu sekitar 10 tahun sebelum akhirnya diangkat sebagai pengurus KONI Kota Malang. Dalam penantiannya itu, ia nyambi pengabdiannya dengan kuliah di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Indonesia (STIMI). Dari pendidikannya itu, Sumartoyo mulai menerapkan ilmunya ketika diangkat sebagai pengurus.
Awal mengabdi sebagai pengurus, alumnus SMPN 8 Malang dan SMKN 1 Malang ini, langsung dipercaya sebagai Kabag Umum KONI Kota Malang. Empat tahun setelahnya, posisi Sumartoyo kembali diangkat menjadi Wakil Sekretaris Umum KONI Kota Malang. Selama dua periode jabatan itu diemban oleh anak keempat dari enam bersaudara ini.
Sejak awal pengabdiannya hingga kini, menjabat sebagai Sekretaris Umum KONI Kota Malang, Sumartoyo sudah mengikuti perjalanan organisasi ini hingga ganti ketua berkali-kali. ‘’Sudah ganti ketua 6 kali periode. Sejak H. Jarwo Utomo sampai Pak Peni Suparto,’’ jelas ayah empat anak ini.
Dari pengalamannya itu, ia meramu kiat untuk menghandle cabor-cabor, memberi sumbangsih dan masukan hingga tak sedikit yang sukses mencetak atlet berkelas internasional. Menurutnya, pendekatan personal kepada pengurus cabor dan pelatih, dirasa sangat penting untuk menjalankan misi.
‘’Lalu dari situ kita harapkan pengurus cabor maupun pelatih selalu mengoptimalkan peran orang tua atlet. Artinya ada tiga komponen yang bekerjasama. Yakni KONI, pihak cabor dan orang tua atlet,’’ papar Sumartoyo membocorkan kiatnya selama ini.
Dalam setiap masa, Sumartoyo mengungkapkan, ada cara yang berbeda untuk menyikapi permasalahan. ‘’Dulu ketika dana KONI masih sedikit, kita sering mengupayakan bapak angkat dari masing-masing cabor,’’ kata suami dari Sumarmi ini.
Ditambahkan, kontribusi bapak angkat yang ditunjuk itu ialah menghandle 50 persen kebutuhan finansial di masing-masing cabor. Bapak angkat yang dimaksut, biasanya berasal dari kalangan birokrat yang peduli terhadap kelangsungan olahraga Kota Malang. ‘’Termasuk orang-orang yang di pemerintahan dulu kami minta bantu untuk hidupkan cabor,’’ imbuhnya.
Karena dalam menjalankan organisasi lebih diutamakan pada landasan kecintaan dan kekeluargaan, lanjut Sumartoyo, para bapak angkat ini akhirnya banyak yang mendirikan klub olahraga. ‘’Dari pelatih dan atlet hingga bapak angkat semuanya murni mencintai olahraga,’’ tandasnya.
Karena kesibukannya di KONI, yang menurutnya memerlukan banyak waktu dan harus benar-benar all out, waktu untuk keluarga sempat berkurang kala itu. ‘’Dulu apalagi, hampir tidak ada hari libur, banyak even dan pelaksanaannya butuh persiapan dll,’’ tukasnya.
Namun kini, diusianya yang sudah tidak muda lagi, Sumartoyo mengaku selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul dan mengurus keluarganya. Ia sadar bahwa keluarganya juga membutuhkan dirinya, terlebih jika mengingat pengertian dan dukungan keluarga selama ini.
Ditanya mengenai alasan memilih bidang olahraga ketimbang bidang lain, Sumartoyo menjawab singkat. ‘’Mungkin karena sudah ketentuan Tuhan,’’ pungkasnya. (Muhammad Choirul)