Ubah Bensin ke LPG, Rodanya Seperti Tank

Agus Zakarinda, ketika merakit mesin Azhensho KB 013 JL buatannya untuk pemotong tebu.

Mesin Pemotong Tebu Milik Agus Mulai Disempurnakan
Banyak orang masih tidak tahu siapa Agus Zakarinda. Namun di lingkungan pabrik gula, yang tergabung dalam grup PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI), namanya sudah cukup dikenal. Hasil karyanya berupa mesin pemotong tebu yang diberinama Azhensho KB 013 JL dan mendapat apresiasi khusus dari Menteri BUMN Dahlan Iskan, langsung membuatnya dikenal. Lalu seperti apa proses pembuatannya ?

Siang itu, jarum jam di tangan baru menunjukkan pukul 10.00. Namun cuaca di wilayah Bululawang, sudah cukup panas. Malang Post yang berkunjung ke salah satu rumah dinas, di depan Pabrik Gula (PG) Krebet Baru Bululawang, sampai harus melepas jaket karena sangat gerah.
Saat masuk ke rumah, lewat pintu garasi, terlihat seorang pria sedang merakit mesin. Dia adalah Agus Zakarinda. Dengan memakai kacamata dan sarung tangan, pria kelahiran Pare Kediri, 16 Agustus 1963 lalu ini, sedang menyempurnakan mesin pemotong tebu Azhensho KB 013 JL.
‘’Sebelumnya mesin pemotong ini sudah jadi. Namun karena diminta oleh pak Dahlan Iskan (Menteri BUMN) menyempurnakan, akhirnya saya bongkar lagi untuk disempurnakan,’’ jelas Agus Zakarinda, mengawali pembicaraan dengan Malang Post.
Beberapa hal yang disempurnakan adalah bahan bakar yang semula menggunakan bensin, dirubah menjadi LPG. Rodanya yang semula roda biasa, dibuat seperti roda kendaraan tank, sehingga bisa digunakan saat kondisi tanah becek.
Dengan wajah dan tangan belepotan oli, bapak dua anak ini lalu mempersilahkan duduk. Dia kemudian menceritakan mulai dari awal pembuatan mesin pemotong tebu.
Mesin Azhensho KB 013 JL itu, dibuatnya pada Oktober 2013 lalu. Idenya berawal dari perusahaan tempatnya bekerja kesulitan mencari tenaga tebang tebu. Beberapa penebang tebu yang sebelumnya bekerja, sudah tidak mau lagi. Kalaupun ada, hanya beberapa orang dengan kondisi tenaga yang sudah tua. Bahkan seorang wanita tua, masih bekerja sebagai penebang tebu.
Melihat keadaan itu, Agus lalu mulai berangan-angan untuk menciptakan alat mesin penebang tebu. Idenya itu mulai dilakukan setelah dia melihat pimpinan perusahaan di PG Krebet Baru Bululawang, Jolly Lapian menangis karena kekurangan tenaga kerja.
‘’Karena tidak tega melihat keadaan itulah, akhirnya tanpa memberitahu siapapun, saya mulai membuat mesin pemotong tebu. Setelah jadi mesin itu, saya buat kejutan. Sekaligus untuk menghapus air mata Pak Jolly yang selama ini sangat mendukung,’’ paparnya.
Pekerjaan pun dilakukan. Dimulai dari membeli mesin traktor mini. Mesin traktor ini, awalnya untuk usaha sampingan sendiri dengan direntalkan untuk pemeliharaan tebu. Akhirnya dirubah dan dirakit untuk menjadi mesin pemotong tebu yang berdayaguna tinggi dan efisien.
Pengerjaannya dilakukan digarasi rumah, yang disulap menjadi bengkel dadakan. Utuk membentuk sebuah mesin pemotong tebu, semua onderdil atau keperluannya, diambil dari barang-barang pribadi atau membeli barang bekas di loakan.
Bahkan mobil cirit miliknya sampai dikorbankan. Kokel mobil diambil untuk keperluan mesin pemotong tebu, hingga membuat mobilnya mangkrak sampai sekarang.
‘’Pokoknya semuanya saya korbankan saat itu. Karena saya ingin membuktikan bahwa saya bisa. Bahkan sobo loak pun saya lakoni tidak perlu malu. Malam-malam mengetuk pintu rumah orang untuk membeli besi bekas pun saya lakukan. Termasuk hutang ke koperasi untuk membiayai mesin ini,’’ terang Kepala Rayon Wilayah Utara PG Krebet Baru Bululawang ini.
Termasuk waktu pengerjaannya, Agus yang juga pernah sebagai karyawan PG Jati Tujuh Cirebon, sampai harus mengorbankan keluarganya. Sepulang bekerja di PG Krebet Baru Bululawang, dia langsung mengerjakan mesin pemotong tebu. Kadang sampai tengah malam. Tak jarang sampai subuh.
Hasilnya memang luar biasa. Agus mampu menyelesaikan dalam waktu tiga bulan. Bahkan hasil karyanya sempat dipamerkan saat acara RNI Award yang dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan beberapa waktu lalu.
Meski masih belum sempurna, karyanya mendapat apresiasi khusus. Dahlan bahkan memerintahkan Agus dan anak perusahaan untuk memproduksi mesin itu secara massal. Syaratnya harus disempurnakan lagi.
‘’Insya Allah, awal Maret ini mesin pemotong tebu sudah sempurna dan siap dipakai. Setelah mesin pemotong tebu ini selesai, saya akan langsung membuat mesin tanam padi yang sederhana, cepat dan bagus. Itu sesuai pekerjaan rumah (PR) dari pak Dahlan Iskan,’’ tuturnya.
Mesin Azhensho KB 013 JL, memiliki kepanjangan yang cukup bermakna. Azhensho KB 013 JL itu diambil dari namanya Agus Zakarinda. Shenso merupakan pisau pemotong besar. KB 013 adalah singkatan Krebet Baru yang dibuat tahun 2013. Dan JL adalah singkatan General Manager PG Krebet Baru, Jolly Lapian yang sangat mendukung pembuatan mesin itu. (agung priyo)