Berani Gelar Pernikahan, Berharap Dibantu Terpal

Kamis (20/2) malam kemarin, persis sepekan pasca erupsi Kelud, yang membawa dampak ke wilayah Kabupaten Malang. Selama itu pula, banyak kisah sedih yang harus dialami oleh sejumlah pengungsi. Lantas, bagaimana kondisinya sekarang, setelah sejumlah pengungsi mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Berikut tulisannya.

Kecamatan Pujon. Wilayah yang terletak paling Timur dari dua tetangganya, Kasembon dan Ngantang itu, selama erupsi kemarin, sempat menjadi wilayah mati.
Persisnya, sejak Jumat dan Sabtu, wilayah itu minim aktifitas. Sejumlah toko atau warung yang terletak di sisi jalan utama, tidak satu pun yang berani buka.
Kondisi itu, berlanjut pada denyut nadi perekonomian warga yang terpusat di Pasar Mantung. Pasar pertanian yang menjadi ajang keluar-masuk sayur mayur itu pun berhenti. Maklum, selama dua hari itu, seluruh warganya, nyaris dibuat sibuk sendiri.
Selain harus mengungsi, trauma debu dan membantu korban pengungsian dari wilayah Kecamatan Ngantang, Pujon pun menjadi kawasan terdampak kedua terparah di wilayah Kabupaten Malang.
Seiring berjalannya waktu dan menurunnya status Kelud dari awas ke siaga, beransur-ansur geliat perekonomian warga pun mulai normal.
Warung atau toko yang sebelumnya belum berani buka, kini mulai beraktifitas penuh. Seperti toko pakaian, juga sudah membuka jualannya sejak pagi hingga malam. Bahkan, jalan-jalan pun kini mulai normal kembali. Pemandangan itu, berlanjut pada pasar sayur mayur.
Pemandangan yang tidak jauh berbeda, juga terlihat pada lokasi-lokasi proses belajar mengajar. Beberapa titik, utamanya SD yang sebelumnya menjadi lokasi pengungsian, mulai melakukan aktifitas kegiatan belajar mengajar seperti semula. Sudah tidak ada lagi pengungsi di sekolah, yang sebelumnya dipakai menampung pengungsi.
Bahkan yang cukup menarik pasca sepekan Kelud, warga pun sudah berani menggelar acara pernikahan. Persisnya di Desa Ngroto, sudah berdiri terop berikut iringan musik. Wilayah yang sebelumnya tertutup abu vulkanik itu, kini mulai bergairah lagi. Seolah tidak terjadi apa-apa selama seminggu terakhir.
‘’Dua hari kemarin (Jumat dan Sabtu) menjadi hari yang kelam untuk warga kami. Mereka tidak hanya terdampak dari abu Kelud. Namun, roda perdagangan, pertanian sampai peternakan, harus terhenti total. Seperti sektor perdagangan, selama seharinya ditafsir harus merugi sampai Rp 500 juta,’’ kata Camat Pujon, Muwassi Arif.
Lantas, bagaimana dengan Ngantang? Khusus wilayah yang satu ini, hampir 90 persen pemukiman warga terdampak langsung dari Kelud. Bahkan, seperti yang terjadi di Desa Pandansari atau desa yang memiliki tujuh dusun itu, hingga kini masih merana.
Maklum, total dusun di wilayah itu, menjadi ‘sasaran’ hujan material Kelud. Hampir seluruh rumah yang berada di kawasan sepanjang 7,5 kilometer ini, atap rumahnya menjadi hancur.
Tragisnya, tidak hanya barang-barang yang di dalam rumah yang hancur. Namun juga kandang dan sapi perah, yang menjadi mata pencarian warga selain bertani pun, menjadi sasaran ‘kemarahan’ Kelud.
Selama masa pemulihan ini, tidak banyak yang dilakukan warga. Selain membenahi genteng rumah, dengan persediaan seadanya. Terpal pun akhirnya menjadi alternatif utama akibat terbatasnya jumlah persediaan genteng. Bahkan, minimnya bantuan terpal yang masuk, membuat beberapa warga berisiatif untuk membeli terpal meski dengan biaya yang lumayan.
‘’Saya membeli terpal ini (5 meter x 8 meter), seharga Rp 200 ribu. Sengaja saya membeli, karena atap rumah saya sudah habis. Sekarang kalau atap rumah sudah hancur, bagaimana kami mau tinggal. Sementara istri dan anak sudah ada di rumah,’’ ungkap Ketua RT10 RW03 Dusun Munjung, Desa Pandansari, Suwito.
Derita bapak satu ini, nyatanya tidak jauh berbeda dengan warga lain di Dusun Putut (kawasan terdekat dengan Kelud), Pait, Sedawun, Klangon, Plumbang dan Mbales. Mereka rata-rata membutuhkan bantuan terpal, agar bisa menghindari intensitas hujan yang masih sering turun ke wilayah itu.
Lebih-lebih, untuk melindungan hewan ternak mereka, sapi perah. Apalagi sekarang sudah mulai bisa dimaksimalkan karena sudah ada pick up penerima susu mentah (jika kondisi sungai tidak meluap) yang dibeli perliternya Rp 4 ribu. 
Seiring telah memasuki masa pemulihan, sebenarnya tidak hanya itu problema yang dibutuhkan warga. Dusun Sedawun misalkan, masih membutuhkan pengerjaan jembatan secara cepat.
Akibat lahar dingin di Sungai Sambong, jembatan penghubung mereka pun putus. Bahkan, droping makanan sempat harus dikirimkan dengan cara dilempar.
Sementara intensitas hujan yang masih cukup tinggi pun, membuat warga di Dusun Munjung, Putut, Pait, juga bernasib sama. Tidak bisa keluar-masuk kampung seperti biasa. Semua tergantung dari aliran sungai yang terkadang tiba-tiba menjadi deras. (sigit rokhmad)