Lulusan SD yang Sukses lewat Burung Kenari

HANYA mampu lulus sekolah dasar (SD), tidak membuat pria satu ini patah semangat, minder maupun berkecil hati. Lewat otodidak, sosok bernama Sunhaji ini, bisa membuktikan diri menjadi pengusaha sukses dari beternak burung kenari. Omzetnyapun, pernah mencapai Rp 300 juta seminggu. Berikut kisah suksesnya.

Beberapa orang, siang itu tampak bergerombol di salah satu toko di Pasar Burung Splindid, Jalan Majapahit Kota Malang. Mereka tampak sibuk mengutak-atik kandang burung. Ada juga yang tengah asyik merawat burung kenari. Diantara mereka, ada sosok pria memakai topi hitam, berhem putih. Ya, dia adalah Sunhaji.
Sesekali, Sunhaji terlihat memberikan instruksi kepada orang-orang itu, yang ternyata adalah karyawannya. Termasuk petunjuk-petunjuk yang harus dilakukan.
Ya, Sunhaji sudah menjadi bos. Bahkan laki-laki yang berdomisili di Jalan Gadang Gang 21 C Kota Malang itu, sudah tergolong pakar burung kenari.
Awalnya, Asun, demikian Sunhaji biasa dipanggil, membangun usaha peternakan burung Kenari pada 1990 yang lalu. Bekalnya hanya semangat dan keberanian saja.
Maklum, latar belakang pendidikan yang ditempuh, hanyalah sekolah dasar (SD). Kendati demikian, hal tersebut bukan menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.
Bahkan untuk modal usahanya, dia harus menjual tape recorder dan TV. Dari penjualan dua barang berharga yang dimilikinya itu, bisa membeli seekor kenari pejantan dan dua betina.
‘’Awal pertama memelihara kenari, saya masih kontrak satu kamar kecil. Sangkar burung kenari itu, saya letakkan di atas kamar tidur,’’ ucapnya kepada Malang Post.
Dari indukan awal itu, usahanya terus mengalami perkembangan. Kenari yang dia dibeli, ternyata memiliki kualitas yang bagus. Satu indukan kenari, mampu melahirkan begitu banyak kenari. Jumlahnya tak kurang dari seratus ekor.
‘’Tahun 1995 sampai1997, saat orang lain kesulitan mencari uang akibat krisis moneter, saya justru panen uang dari berjualan kenari. Sebab dengan naiknya harga dolar, otomatis harga kenari juga naik,’’ katanya.
Saking banyaknya penghasilan yang didapat waktu itu, Asun bisa membeli rumah yang sebelumnya menjadi tempat kosnya dan membangun lebih representatif. Tahun itu juga, dia bisa membeli kios di pasar Splendid.
Meski usahanya sempat jatuh, saat ada isu flu burung, yang membuat harga kenari anjok, tak membuatnya patah arang. Bahkan sejak dua tahun lalu, setelah sukses menjadi peternak dan pengepul kenari, Asun semakin berani berekspansi pasar kenarinya dengan mengimpor langsung dari luar negeri.
Hingga saat ini, kenari tersebut terus dikembangkan pria kelahiran Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, 47 tahun silam tersebut.
‘’Kenari import tersebut bermacam-macam jenisnya. Ada yang red intensive, border dan yellow mozaik, yang sangat diminati pasaran,’’ terangnya.
Sedangkan untuk burung kenari lokal, diantaranya berjenis kenari lokal bakalan putih, kenari lokal bakalan kuning, kenari lokal bakalan hijau, dan kenari Yorkshire  
Dia menjelaskan, selain dibagi menjadi jenisnya, kenari dibedakan kegunaanya. Ada kenari hias dan kenari kicauan. ‘’Kalau untuk hiasan, biasanya kenari import. Karena warnanya beragam dan bentuknya bagus-bagus. Kalau untuk kicauan, kenari lokal yang mempunyai suara bagus,’’ tuturnya.
Lantaran peminat kenari tiap tahunnya semakin banyak, diapun pada awal tahun 2013 lalu, mendirikan CV Malang Kenari Jaya. Tidak hanya jual beli kenari, melalui CV tersebut juga memberi pelatihan berternak kenari. Selain itu, Asun, juga acap kali menjuarai perlombaan kenari. Baik hias maupun kicauan.
Seperti menjuarai Balikpapan Kenari Cup 2013 kategori kicauan, Piala Gubernur Sumatera Selatan 2013 kategori kicauan, dan beberapa kejuaraan lainnya. ‘’Kalau mengikuti lomba, sudah tidak terhitung berapa kali,’’ tambah bapak tiga anak ini.
Berkat kesuksesannya menekuni usaha kenari tersebut, perokonomiannya kian terdongkrak dan menjadi lebih makmur. Setidaknya, dia sudah naik haji, kemudian dapat menyekolahkan anak pertamanya hingga dokter, membeli tanah serta membangun rumah tingkat dua, yang dulu tempat tersebut dijadikannya kost.
‘’Pertengahan tahun 2013 lalu, omset saya pernah mencapai Rp 300 juta per pekan. Saat itu, permintaan kenari di pasaran sangat banyak,’’ ucapnya.
Menurutnya, memasuki awal tahun 2014 ini, sebenarnya permintaan kenari cukup banyak. Namun, diakuinya tidak sebanyak seperti pada pertegahan tahun 2013 yang lalu.
Asun menghimbau kepada semua orang, terutama yang berpendidikan rendah, agar jangan berputus asa. Melainkan tetap bekerja keras dan melakukan inovasi. Salah satunya, bisa melalui bisnis kenari tersebut. ‘’Harga kenari di pasaran itu seperti harga emas. Karena setiap hari mengalami kenaikan, karena permintaanya banyak,’’ tegasnya.
Apa yang dia lakukan tersebut, diharapkan dapat menjadi pelajaran bagi semua orang, terutama dari kalangan tidak mampu dan berpendidikan rendah. Sehingga diharapkan mereka bisa meniru langkah kesuksesan dari Asun tersebut. (binar gumilang)